BerandaPasar Kreatif
Jumat, 15 Jan 2026 15:01

Senja yang Muram di Lapak Buku Belakang Stadion Diponegoro Semarang

Salah satu pengunjung sedang membaca buku di salah satu lapak kawasan Stadion Diponegoro Semarang. (Inibaru.id/ Sundara)

Lapak-lapak buku di Stadion Diponegoro Kota Semarang mulai terancam sejak sistem pendidikan di Indonesia terus berubah. Situasi itu kian pelik kini, seiring dengan budaya literasi yang terdigitalisasi dan orang yang mulai enggan membeli buku secara langsung.

Inibaru.id - Jika lapak-lapak buku di kawasan Stadion Diponegoro diibaratkan sebagai tubuh, saat ini ia tengah meregang nyawa. Denyut literasinya begitu lemah, napas ekonomi pelapaknya tersengal. Kios-kios yang dulu ramai pelajar dan mahasiswa pencari buku referensi kini mulai sunyi.

Hanya satu-dua yang datang. Itu pun nggak setiap hari. Padahal, pernah ada masa ketika kawasan tersebut menjadi rujukan utama berburu buku murah. Awal 2000-an hingga satu dekade kemudian adalah masa kejayaan, ketika lapak buku bekas tumbuh menjadi pusat literasi alternatif di sini.

Dulu, tiap lapak akan dipenuhi tumpukan buku baru dan bekas, termasuk novel tua, majalah-majalah bersegel dengan tanggal yang sudah kedaluarsa, hingga diktat kuliah bahkan skripsi atau disertasi bekas tersedia; menjadi bahan bacaan dan referensi tugas bagi pelajar hingga mahasiswa.

Saya bisa menggambarkannya dengan gamblang karena pernah menjadi bagian dari kejayaan itu, meski cuma kebagian sisanya. Saya masih berstatus mahasiswa saat kali pertama menyambangi lapak buku Stadion Diponegoro pada medio 2018.

Tumbang Digerus Zaman

Meski nggak sering, saya terhitung rutin berkunjung ke kawasan tersebut untuk mencari referensi tugas, mengingat waktu itu sumber fisik masih sangat diperlukan. Setelah itu, pandemi Covid-19 mendera dan ketika saya kembali menyambanginya, yang ada hanyalah nostalgia.

Teknologi yang berlari dengan cepat benar-benar menggerus kejayaan pedagang buku fisik, nggak terkecuali di Stadion Diponegoro. Dunia pendidikan yang beralih ke sistem digital juga perlahan menyingkirkan peran lapak buku yang dulu menjadi rujukan utama itu.

Harri, salah seorang pelapak yang masih bertahan di belakang Stadion Diponegoro mengatakan, lapaknya kini begitu sepi. Pengunjung nggak datang setiap hari. Dalam seminggu, banyaknya orang yang datang bahkan bisa dihitung dengan jari.

"Sekarang, ada pembeli dan dapat penghasilan Rp50 ribu sehari saja sudah dianggap bagus," ujarnya kepada Inibaru.id, belum lama ini. "Kami lebih sering seharian tidak ada pembeli sama sekali, Mas!"

Semangat yang Mulai Luntur

Dengan masih berkelakar, dia mengatakan bahwa angka Rp50 ribu itu bukanlah target, tapi keberuntungan. Jika dulu Harri membuka lapak sejak pagi, belakangan ini dia baru mulai berjualan sekitar pukul 10.00 WIB. Tutupnya pun acap lebih awal.

"Minimnya pembeli bikin semangat berdagang kami di sini pun ikut luntur," sebutnya.

Suasana sepi lapak penjual buku di Stadion Diponegoro nyaris tidak ada pembeli yang berkunjung. (Inibaru.id/ Sundara)

Sebagai salah seorang pelapak senior, dia mengaku masih ingat gimana mahasiswa dan pelajar dulu datang silih berganti; nggak selalu membeli, kadang hanya melihat-lihat. Sekarang, bahkan mereka yang hanya melihat-lihat saja sudah hampir nggak ada.

"Buku-buku rujukan yang dulu paling diburu sekarang lebih sering menjadi pajangan ketimbang benar-benar dibaca atau dibeli. Misal, dulu buku Metode Penelitian Statistik karya Sugiyono itu paling laku. Sekarang sudah tidak ada yang mengambil," kata dia sembari menunjukkan buku yang dimaksud.

Jumlah Lapak Terus Berkurang

Nggak mau menyerah dengan keadaan, Harri mencoba mempertahankan lapaknya dengan menjual buku secara daring. Namun, hasilnya nggak sesuai harapan. Risiko pembatalan pesanan hingga margin keuntungan yang tipis justru membuatnya merugi, sehingga dia pun memutuskan untuk menutup lapak di marketplace.

Kondisi serupa agaknya dirasakan hampir semua pelapak buku di kawasan tersebut. Mereka yang nggak kuat pun akhirnya memilih gulung tikar. Koordinator Paguyuban Pedagang Buku dan Jasa Stadion Diponegoro Didik Martanto mengatakan, jumlah lapak buku di situ terus berkurang secara drastis.

"Dulu ada sekitar 70 lapak buku. Sekarang tinggal 15 lapak, itu pun tidak semuanya buka setiap hari," tutur Didik, lalu tertawa. Namun, terlihat jelas ada kesedihan di sorot matanya.

Menurut Didik, kemunduran bisnis buku sebenarnya sudah terasa sejak lama, terutama ketika pemerintah kerap mengganti kurikulum pendidikan. Pergantian kurikulum, lanjutnya, turut membuat pelapak di Stadion Diponegoro kelabakan.

"Perubahan tersebut berdampak langsung pada pedagang yang menyasar pelajar, khususnya penjual buku LKS dan buku pendamping kurikulum," jelasnya.

Menantikan Kebijakan yang Mendukung

Di kalangan mahasiswa, kebiasaan dosen yang nggak lagi mewajibkan pembelian buku cetak untuk materi kuliah juga turut melemahkan penjualan. Menurutnya, kedua faktor itulah yang menjadi pemicu utama merosotnya bisnis buku fisik di Kota Lunpia.

"Buku sudah dibisniskan. Begitu kebijakan dan kurikulum berganti, buku ikut berganti. Pedagang pun jadi rugi karena stok lama tidak terjual. Mau tidak mau dijual kiloan dan modal jadi tidak kembali," keluhnya.

Para pedagang semakin tertekan dengan adanya kecerdasan buatan (AI) dan kemudahan akses buku digital. Jika tren ini terus berlanjut tanpa kebijakan yang berpihak, Didik menyimpulkan, lapak-lapak buku fisik yang sudah meregang nyawa bisa benar-benar tumbang tanpa sisa.

"Kami berharap ada kebijakan yang mendukung keberlangsungan pedagang buku fisik. Saat ini yang masih ada peminatnya hanya buku-buku ringan seperti novel, komik dan nonfiksi populer lainnya," tukasnya.

Jika perubahan zaman terus melaju tanpa kebijakan yang berpihak, lapak-lapak buku di Stadion Diponegoro hanya akan menjadi jejak ingatan. Saat budaya literasi mengalami digitalisasi dan teknologi menjauhkan orang dari buku fisik, mungkin hanya aturan yang bisa membuat mereka bertahan. (Sundara/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Motor Bensin Bisa Ditukar Motor Listrik, Pemerintah Siapkan Skema Baru

18 Agu 2026

Bukan Rekaman Asli 17 Agustus 1945, Ini Sejarah Suara Proklamasi Bung Karno

19 Agu 2026

Negara Pertama yang Mengakui Indonesia Merdeka

20 Agu 2026

Sinewara, Bioskop BUMN Besutan PFN Siap Meluncur 2027

21 Agu 2026

Garuda Indonesia Uji Internet Cepat di Udara, Video Call dari Ketinggian 30 Ribu Kaki

22 Agu 2026

Mulai 1 Oktober, Semua Merchant Bisa Nikmati Transaksi QRIS Bebas Biaya

24 Agu 2026

Mengenal Sekaten, Tradisi Maulid Nabi Warisan Dakwah Wali Songo

25 Agu 2026

Indonesia Mulai Program PLTS, 14 Proyek Jadi Tahap Awal

26 Agu 2026

Wayang Klithik, Wayang Kayu Pipih yang Lahir dari Tradisi Jawa dan Bunyi "Klithik"

27 Agu 2026

DPR Targetkan RUU Perampasan Aset Disahkan 15 Desember 2026

28 Agu 2026

ARTOTEL Gajahmada Semarang Hadirkan “Layers of Living”, Pameran Dua Seniman dengan Perspektif Berbeda

28 Agu 2026

Berburu Barang Antik di Solo? Ini 3 Tempat Favorit yang Wajib Dikunjungi Kolektor

29 Agu 2026

Komdigi Larang Operator Hanguskan Sisa Kuota Internet Pelanggan

31 Agu 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: