BerandaPasar Kreatif
Senin, 6 Jul 2025 15:05

Penggunaan Modal yang Membuat Pelaku UMKM Pemula Gagal di Awal

Ilustrasi: Tanpa perencanaan yang tepat saat mendirikan usaha, modal akan terbuang sia-sia. (Klikoo)

Modal bagi pengusaha rintisan ibarat tiket emas untuk memulai usaha, tapi nggak akan berarti apa-apa jika nggak punya strategi untuk mengelolanya. Apa saja yang membuat pelaku UMKM pemula gagal di awal?

Inibaru.id - Sebagai anak tunggal dengan orang tua yang bisa dibilang mapan, meminta modal untuk membuka usaha bukanlah hal sulit bagi Anastasia. Inilah yang membuat pengusaha barang fesyen preloved itu meremehkan bisnis pertamanya awal-awal kuliah di Yogyakarta.

"Bisnis pertama saya gagal total. Bangkrut. Nggak balik modal. Tapi dari situ saya belajar, punya modal nggak otomatis usaha bisa jalan. Banyak hal yang harus dilakukan, mulai dari strategi, managemen, dan visi misi yang jelas dari bisnis tersebut, sekecil apa pun usaha yang dijalankan," tuturnya belum lama ini.

Apa yang dikatakan Ana, sapaan akrabnya, tidaklah salah. Ketika modal sudah terkumpul, banyak pelaku UMKM pemula berpikir bahwa langkah selanjutnya hanyalah tinggal jalan. Padahal, nggak sedikit pengusaha yang justru tersandung di awal karena salah mengelola dana.

Lantas, apa saja kesalahan umum dalam penggunaan modal yang perlu dihindari?

Modal Tanpa Strategi adalah Bunuh Diri

Hingga kini, setelah tiga tahun mengembangkan bisnis fesyen yang cukup membuahkan hasil, Ana mengaku masih merasa belum pantas mendaku diri sebagai pengusaha. Hal ini nggak lepas dari kegagalan demi kegagalan yang pernah dialaminya semasa awal-awal mendirikan bisnis.

"Modal tanpa strategi adalah bunuh diri. Itu seperti kekayaan alam yang nggak dikelola dengan baik oleh negara. Jadinya hancur. Sebagai mahasiswa marketing, seharusnya saya tahu itu dari awal. Karena itulah saya merasa nggak pantas kalau disebut pengusaha. Masih terlalu dini!" terangnya.

Bagi banyak pelaku UMKM pemula, modal usaha memang terasa seperti tiket emas. Namun, justru inilah yang membahayakan. Perencana keuangan senior Aidil Akbar Madjid mengungkapkan, banyak pelaku usaha rintisan yang gagal karena nggak tahu cara mengelola modal dengan baik.

“Masalah terbesar UMKM bukan sekadar kekurangan modal, tapi ketidaktahuan menggunakan modal itu secara efektif.” paparnya pada 2023, dikutip dari Kompas TV.

Yang Membuat Gagal di Awal

Ilustrasi: Lebih dari 60 persen UMKM yang gagal dalam dua tahun pertama berawal dari kesalahan dalam penggunaan modal awal. (Banksaqu)

Hal serupa disampaikan oleh Kementerian Koperasi dan UKM (KemenkopUKM), yang dalam laporan evaluasinya menyebut bahwa lebih dari 60 persen UMKM yang gagal dalam dua tahun pertama berawal dari kesalahan dalam penggunaan modal awal.

Mari telaah kesalahan-kesalahan paling umum dan sering tidak disadari oleh pelaku usaha baru yand dirangkum dari berbagai sumber ini:

1. Menghabiskan modal untuk hal yang bukan prioritas

Banyak UMKM pemula langsung mengalokasikan dana untuk membeli peralatan mahal, sewa tempat besar, atau mendesain kemasan super-elegan, padahal produk belum dikenal pasar.

Contoh nyata: seorang pelaku usaha kuliner menghabiskan separuh modalnya untuk membeli mesin pengemas vakum otomatis, padahal permintaan belum stabil. Akhirnya, alat tersebut nggak terpakai secara optimal, sementara modal kerja tersedot.

Maka, prioritaskan modal untuk keperluan operasional pokok seperti bahan baku, produksi awal, dan distribusi. Pertimbangkan prinsip lean startup: mulai dari kecil, uji pasar, lalu skalakan.

2. Tidak memisahkan keuangan usaha dengan pribadi

Ini kesalahan klasik. Banyak pelaku UMKM mencampur rekening pribadi dengan rekening usaha. Uang modal usaha digunakan untuk keperluan pribadi, sebaliknya uang pribadi juga dipakai untuk menutupi kerugian usaha.

Menurut Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Dr Aviliani, pelaku UMKM seringkali menganggap keuangan pribadi dan usaha sebagai satu kesatuan. Ini membingungkan saat membuat laporan keuangan dan merusak pengambilan keputusan.

Solusinya, buatlah rekening terpisah untuk usaha sejak awal. Catat semua transaksi dengan rapi, meski cuma pakai buku tulis atau aplikasi sederhana seperti Excel, Buku Warung, atau Jurnal.id.

3. Terlalu cepat menambah karyawan

Saat usaha mulai ramai, ada kecenderungan untuk langsung menambah tenaga kerja padahal belum memiliki sistem operasional yang rapi. Dampaknya, tugas menjadi nggak jelas, dan gaji membengkak, sementara produktivitas justru menurun.

Maka, evaluasi beban kerja terlebih dahulu. Jika bisa diautomasi atau disederhanakan, lakukan itu sebelum menambah SDM. Pertimbangkan pekerja paruh waktu jika beban belum stabil.

4. Tidak menyisihkan dana darurat

Seperti halnya keuangan pribadi, usaha juga butuh dana darurat. Banyak UMKM kehabisan napas ketika tiba-tiba terjadi lonjakan harga bahan baku, penurunan permintaan, atau bencana seperti pandemi.

Solusinya, sisihkan minimal 10–15 persen dari modal atau pendapatan awal sebagai dana cadangan. Gunakan hanya dalam situasi mendesak.

5. Modal habis untuk promosi

Banyak pelaku usaha menghabiskan modal besar untuk satu kali promosi besar (misalnya endorse selebgram mahal) tanpa strategi lanjutan. Untuk sesaat, bisnis mungkin tampak viral, tapi nggak sustain.

Lebih baik alokasikan anggaran promosi secara bertahap. Gunakan strategi jangka panjang seperti konten organik, promosi berulang, atau kolaborasi komunitas. Kuncinya bukanlah viral, tapi konsisten.

6. Tidak mempunyai strategi bisnis

Tanpa rencana bisnis, modal bisa cepat habis tanpa arah. Menurut laporan dari International Finance Corporation (IFC), UMKM yang membuat perencanaan keuangan dan bisnis sejak awal memiliki peluang bertahan dua kali lebih besar dalam tiga tahun pertama.

Maka, penting bagi pelaku bisnis rintisan untuk membuat perencanaan sederhana berisi tujuan usaha, kebutuhan dana, target pasar, strategi pemasaran, dan proyeksi arus kas. Nggak perlu rumit, yang penting punya "kitab suci" sebagai panduan.

Usaha memang nggak bisa hidup tanpa modal. Namun, modal juga nggak akan membawa hasil jika gagal dikelola dengan bijak. Daripada buang-buang uang yang berujung pada matinya semangat berwirausaha, mulailah bisnis UMKM dengan perencanaan modal dan prioritas yang tepat. (Siti Khatijah/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Cantiknya Pemandangan Pantai Dasun Lasem, Kabupaten Rembang

3 Mar 2026

Saat Takjil War, Waspada dengan Sejumlah Pembungkus Takjil Nggak Sehat Ini

3 Mar 2026

OTT Edisi Ramadan, KPK Bawa Bupati Pekalongan Fadia Arafiq ke Jakarta

3 Mar 2026

Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto, Jemaah Maiyah yang Lantang Kritik Program MBG

3 Mar 2026

Tren 'Grading Card', Autentifikasi Kartu Koleksi agar Nilai Jual Lebih Tinggi

3 Mar 2026

Mulai Maret Ini, Anak di Bawah 16 Tahun Dibatasi Main Medsos

3 Mar 2026

Kartu Mebel Jepara, 'Tiket Emas' biar UKM Ukir Naik Kelas

3 Mar 2026

Sejuk dan Alami, Begini Keindahan Air Terjun Kyai Buku Jepara

4 Mar 2026

Sepanjang 2025, Uang Hilang Setara Rp355 Miliar di Jepang Kembali ke Pemiliknya

4 Mar 2026

Opsi 'Sekolah Swasta Gratis' Akan Terintegrasi dengan SPMB 2026 di Kota Semarang

4 Mar 2026

Ponpes Raudhatul Qur'an; Cetak Ratusan Hafiz dengan Biaya Bulanan Murah Meriah

4 Mar 2026

Menguliti Asal Usul Nama Kurma

4 Mar 2026

Tragedi Cinta Mangir-Pembayun; Saat Asmara Jadi Senjata Penakluk Mataram

4 Mar 2026

Aneka Festival Musim Semi di Korea Selatan yang Bisa Kamu Datangi

5 Mar 2026

Benar Nggak Sih Sawit Bakal Menyelamatkan Indonesia dari Krisis Energi Global?

5 Mar 2026

Wajibkan Pencairan Maksimal H-7 Lebaran, Jateng Aktifkan Posko THR untuk Pengaduan

5 Mar 2026

Uji Coba Bus Listrik untuk Transportasi Publik yang Inklusif dan Ramah Lingkungan

5 Mar 2026

Kekerasan Seksual vs Main Hakim Sendiri; Undip Tegaskan Nggak Ada Toleransi!

5 Mar 2026

Siap-Siap Gerah! Kemarau 2026 Diprediksi Datang Lebih Cepat dan Lebih Kering

5 Mar 2026

Kok Bisa Sih Cadangan Minyak Indonesia Cuma 20 Hari?

6 Mar 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: