BerandaPasar Kreatif
Sabtu, 23 Sep 2022 11:00

Cerita Suardika, Pekerja Migran Indonesia yang Jadi Pemetik Buah di Inggris

Ilustrasi: Tenaga kerja migran Indonesia di perkebunan. (Flickr/usdagov)

Suardika dan ratusan pekerja migran Indonesia lainnya setiap tahun berprofesi sebagai pemetik buah di perkebunan di Inggris. Bagaimana bisa ya mereka bekerja di Inggris? Yuk simak ceritanya!

Inibaru.id – Gede Suardika Widi Adnyana punya profesi yang sangat biasa bagi anak muda Indonesia yang baru berusia 20 tahun. Dia adalah pemetik buah di perkebunan, tapi bukan di perkebunan lokal, melainkan di Perkebunan Clock House, Maidstone, Kent, Inggris. Bagaimana bisa ya dia sampai di sana?

Dilansir dari BBC, Kamis (22/9/2022), Suardika belum genap 2 bulan bekerja di Negeri Tiga Singa. Dia mengaku sangat menikmati profesinya. Apalagi, dia nggak merasa sendirian karena ada 317 pekerja dari Indonesia lainnya yang juga bekerja di perkebunan tersebut.

“Asyik, kerjanya juga nggak terlalu berat,” ungkapnya.

Bagaimana bisa Suardika sampai merantau sejauh itu hanya untuk memetik buah? Semua bermula saat Suardika lulus diploma wisata dari tempatnya berasal, Bali. Saat itu, dia mendengar ada peluang bekerja di Inggris lewat PT Al Zubara Manpower Indonesia yang bekerja sama dengan agen penyalur tenaga kerja resmi Inggris AG Recruitment.

Masalahnya, untuk bisa bekerja di sana, biaya yang harus dia siapkan tidak sedikit. Suardika bahkan meminta bantuan pamannya untuk meminjamkan uang sebanyak Rp 70 juta ke bank. Dari hasilnya bekerja di perkebunanlah, sedikit demi sedikit dia mengembalikan uang tersebut.

Mengapa bisa semahal itu? Soalnya dia juga harus membayar sejumlah uang ke agency, penyalur, hingga untuk biaya lain seperti Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN), pembuatan visa, sidik jari, tiket pesawat pergi pulang, dan lain-lain. Uniknya, dia nggak mendapatkan pelatihan pemetikan buah sama sekali sebelum berangkat.

Soal gaji, Suardika mengaku pendapatannya lebih dari cukup untuk menabung sekaligus menyicil pinjaman pamannya.

“Rata-rata gaji saya 500 Poundsterling per minggu. Kalau dapat buah banyak sempat mendapatkan 670 Poundsterling lebih. Setelah dipotong biaya akomodasi, makan, internet, dan lain-lain, saya bisa nabung 400 Poundsterling per minggu,” ucapnya, masih dikutip dari BBC, Kamis (22/9).

Kalau dirupiahkan, tabungan Suardika sekitar Rp 7 juta per minggu. Jadi, jika semua lancar, dalam 10 pekan saja dia sudah bisa mengganti pinjaman pamannya, Millens.

Pekerja dari Indonesia Dihargai di Perkebunan Clock House

Suardika saat memetik buah di perkebunan Clock House Inggris. (BBC/Endang Nurdin)

Kok bisa ya ada banyak pekerja Indonesia di satu perkebunan? Usut punya usut, ternyata pekerja Indonesia dianggap punya komitmen yang tinggi meski statusnya hanya pekerja musiman. Hal ini diungkap oleh salah seorang mentor di perkebunan tersebut, Claudiu.

“Pekerja Indonesia datang dari belahan dunia lain dengan budaya yang sangat berbeda. Tapi mereka punya komitmen yang sangat bagus,” ujarnya.

Hal ini membuat kebutuhan tenaga kerja musiman dari Indonesia di perkebunan-perkebunan Inggris cukup tinggi. Tahun ini saja, lowongan yang dibutuhkan mencapai 2.000 orang, namun baru 1.274 pekerja dari Tanah Air yang ditempatkan di 15 perkebunan yang ada di seluruh Inggris.

Ada banyak faktor yang membuat belum banyak pekerja musiman dari Indonesia yang bisa datang ke Inggris. Tapi, yang paling utama tentu adalah biaya keberangkatan yang tinggi. Jika Suardika menyebut dia harus membayar sampai Rp 70 juta, ada rekan-rekan lainnya yang harus membayar lebih dari itu. Bahkan, ada yang sampai membayar Rp 90 – 100 juta!

Padahal, biaya resmi yang ditetapkan PT Al Zubara Manpower Indonesia hanyalah Rp 45 juta. Itupun sudah mencakup biaya pelatihan dan sertifikasi. Hal ini berarti, ada pihak yang mencari keuntungan dari pekerja-pekerja migran Indonesia tersebut.

Anis Hidayah dari Migrant Care pun menuding adanya calo yang masih belum tersentuh pengawasan hukum di Tanah Air sebagai penyebab mahalnya biaya bagi pekerja migran yang ingin pergi ke luar negeri. Dia meminta pemerintah dan PT Al Zubara Manpower Indonesia untuk lebih tegas dalam memberantas calo-calo tersebut sehingga biaya pemberangkatan bisa ditekan serendah mungkin.

“Calo masih subur karena penegakan hukum tidak jalan,” ucap Anis.

Apapun itu, bagi Suardika dan rekan-rekannya, pengalaman bekerja di Inggris cukup menyenangkan. Selama kontrak enam bulan pertama, mereka bisa menyicil utang untuk biaya keberangkatan dan sedikit menabung. Mereka pun tertarik untuk kembali ke Inggris pada musim panen tahun depan demi mendapatkan tabungan lebih banyak.

“Saya ingin balik (ke Inggris) karena kerjaan nggak berat, gajinya juga lumayan dibandingkan di negara kita,” ucap Suardika.

Setali tiga uang, pemilik perkebunan Oli Pascall ternyata menyambut baik keinginan Suardika dan pekerja lain yang bertekad untuk kembali.

“Kami ingin mereka kembali ke sini,” katanya.

Tertarik mengikuti jejak Suardika untuk bekerja di perkebunan di Inggris, Millens? (Arie Widodo/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

HP Gratis dengan Rekening Digital Diusulkan untuk Penyaluran Bansos

15 Okt 2026

Dari Jepara ke Sarajevo, Merawat Ukiran dan Diplomasi yang Tak Selesai di Meja Pertemuan

16 Okt 2026

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Mengapa Salatiga Disebut Salah Satu Kota Tertua di Indonesia? Ini Sejarahnya

28 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

8 Tokoh Penting Kongres Pemuda II yang Lahirkan Sumpah Pemuda

28 Okt 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: