BerandaKulinary
Minggu, 21 Jun 2025 09:25

Lontong Tahu dan Satai Srepeh, Kuliner Khas Rembang yang Istimewa

Kuliner khas Rembang satai srepeh dan lontong tahu. (Pusakaindonesia)

Rasa satai srepeh dan lontong tahu sangatlah unik dan sulit untuk kamu temukan di luar Rembang. Makanya, kalau sedang main ke sini, jangan sampai lupa untuk mengonsumsinya.

Inibaru.id - Bingung mau wisata kuliner di mana kalau ke Kabupaten Rembang, Jawa Tengah? Kita punya rekomendasi yang dijamin bakal bikin kamu puas, nih. Namanya satai srepeh. Seperti apa sih keistimewaan makanan khas Rembang yang satu ini?

Kalau kamu belum pernah dengar nama ini, wajar kok, karena saat ini penjualnya sudah nggak banyak. Pamornya bahkan kalah jika dibandingkan lontong tuyuhan atau kopi lelet. Namun, pada masa jayanya, satai ini begitu digemari masyarakat setempat, lo!

Sayangnya, saat ini penjualnya tinggal segelintir, yang bahkan mungkin bisa dihitung dengan satu jari. Di tengah gempuran makanan modern dan cepat saji, hanya sedikit penjual yang bertahan dan masih setia melestarikannya.

Salah satu tempat yang masih bertahan adalah Warung Tenda Biru di kawasan Pecinan, Jalan A Yani. Warung tenda sederhana ini mulai buka sejak jam empat sore. Letaknya persis di depan toko mebel, dengan aneka gorengan dan jajanan tradisional tersaji di atas angkringan.

Bersanding dengan bakwan, tempe, sampai peyek udang, kamu bisa menjemba semua menu tambahan tersebut sembari menunggu "pemeran" utamanya, yakni lontong tahu dan sate srepeh.

Apa sih satai srepeh itu?

Satai srepeh menggunakan daging ayam kampung yang diiris pipih, lalu dikukus bersama bumbu sebelum akhirnya dibakar. Tapi bukan itu yang bikin istimewa. Keunikan justru ada di bumbu atau "srepeh"-nya, yang terbuat dari campuran santan dan gula jawa.

Yap, disebut satai srepeh memang karena bumbunya ini, yang bercita rasa gurih dan sedikit manis, dengan sensasi pedas yang cukup kentara. Oya, srepeh berwarna kemerahan bukan karena pewarna buatan, tapi perpaduan antara cabai dan gula merah.

Warung Tenda Biru, salah satu lokasi penjual satai srepeh di Rembang. (Astinsoekanto)

Yang bikin makin sedap, agar bumbu meresap pada daging dengan sempurna, prosesnya membutuhkan waktu selama dua jam lamanya. Jadi, nggak sekadar siram terus langsung bakar ya.

Biasanya, satai disajikan dengan lontong tahu berkuah santan lodeh labu, lalu ditambah tauge, tahu goreng, dan taburan bawang goreng. Uniknya lagi, semua disajikan di atas lembaran daun jati, yang konon menambah aroma khas pada makanan.

Satai yang kaya rasa

Satu tusuk satai terasa ringan tapi tetap kaya rasa. Gurih dari bumbu, pedasnya menyengat halus, dan ada aroma bakaran di tiap gigitan. Kalau dimakan bareng lontong tahu dan sayur lodeh, sensasinya seperti gabungan antara gado-gado dan satai padang, tapi dengan sentuhan khas Rembang.

Di warung ini, pembeli datang dari berbagai kalangan. Mereka duduk mengelilingi angkringan, saling sapa, ngobrol, atau sekadar menikmati gorengan hangat. Di balik sepiring makanan sederhana ini, terasa betul kehangatan dan keberagaman kota pesisir ini.

Sayangnya, satai srepeh kini makin langka. Banyak yang lebih memilih makanan kekinian, padahal rasa autentik seperti ini nggak bisa tergantikan. Pemerintah dan pelancong seharusnya memberi perhatian lebih pada warisan kuliner seperti ini.

Kalau suatu hari kamu mampir ke Rembang, sempatkan untuk mencicipi satai srepeh ya, apalagi kalau hujan turun, sore terasa sendu, dan perut mulai merintih minta diisi. Percayalah, sepiring lontong tahu dan satai srepeh bisa jadi pengobat rindu yang tak kamu sangka! (Arie Widodo/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

TikTok Jadi Media Sosial Paling Sering Diakses Warganet Indonesia pada 2026

16 Jun 2026

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Warga Jateng Diminta Sambut Petugas dengan Baik

17 Jun 2026

Keraton Solo Keluarkan 14 Pusaka dan Kebo Bule dalam Kirab Malam 1 Suro

17 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: