BerandaKulinary
Sabtu, 7 Nov 2025 18:37

5 Kuliner Khas Solo yang Nggak Boleh Dilewatkan Saat Berkunjung

Cabuk rambak. (The Lucky Belly)

Solo bukan sekadar kota budaya dan batik, tetapi juga surga kuliner yang sarat sejarah. Dari Selat Solo yang lahir dari pengaruh Eropa, hingga Nasi Liwet yang berakar di desa sederhana, tiap hidangan di Kota Bengawan menyimpan kisah panjang yang menggugah rasa dan rasa ingin tahu.

Inibaru.id - Kalau kamu berkunjung ke Kota Solo, jangan hanya terpikat oleh gemerincing gamelan dan keanggunan batiknya. Kota yang dikenal juga dengan sebutan Surakarta ini punya sisi lain yang sama memesonanya. Yap, kuliner tradisional ini siap menggoda lidah sekaligus sarat cerita masa lampau. Setiap sudut kota seolah menyuguhkan aroma nostalgia, dari warung sederhana di pinggir jalan hingga kedai legendaris yang telah berdiri puluhan tahun.

Lebih dari sekadar makanan, kuliner khas Solo adalah warisan budaya yang terus hidup di tengah modernisasi. Banyak di antaranya lahir dari perpaduan pengaruh kerajaan, kolonial, hingga kreativitas rakyat biasa. Berikut lima kuliner khas Solo yang nggak boleh kamu lewatkan saat berkunjung, lengkap dengan kisah di balik rasanya yang otentik.

1. Selat Solo, Jejak Kuliner Eropa di Lidah Jawa

Selat Solo lahir dari percampuran budaya Jawa dan Eropa pada masa kolonial. Petinggi Keraton Kasunanan dan kaum Belanda kerap bertemu dalam jamuan makan, namun cita rasa Eropa terlalu kuat bagi lidah Jawa. Maka terciptalah hidangan adaptif yang lebih manis dan ringan.

Mengutip indonesia.go.id, nama “selat” diyakini berasal dari kata Belanda slachtje yang berarti salad. Daging sapi, kentang, wortel, dan buncis dipadu saus kecap manis sebagai pengganti saus asam khas Barat. Hasilnya, perpaduan unik antara bistik dan salad yang kini jadi ikon kuliner khas Solo.

2. Nasi Liwet Solo, Gurihnya dari Desa Menuran

Nasi liwet komplet. (Pinterest/Overthetoptravel)

Meski dikenal sebagai makanan khas Solo, nasi liwet ternyata berasal dari Desa Menuran, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo. Kompas menulis mencatat, nasi liwet awalnya merupakan hidangan rumahan yang mulai dijual pada tahun 1930-an. Nasi gurih yang dimasak dengan santan ini biasa disajikan dengan labu siam, suwiran ayam, dan areh (santan kental). Dahulu, nasi liwet kerap hadir dalam acara keraton sebagai bentuk rasa syukur, lalu menyebar ke masyarakat umum dan kini menjadi kuliner wajib coba di setiap sudut kota.

3. Timlo Solo, Adaptasi Sup Tionghoa yang Mendunia

Sekilas mirip sup ayam, tapi Timlo Solo punya cita rasa khas. Menurut detik, makanan ini mulai populer sekitar tahun 1960-an. Konon, hidangan ini merupakan adaptasi dari sup kimlo khas Tionghoa, lalu diolah dengan bahan lokal seperti sosis Solo, telur pindang, dan ayam suwir. Kini, Timlo menjadi menu sarapan favorit di banyak rumah makan Solo, termasuk legendaris “Timlo Sastro” yang sudah berdiri sejak 1950-an.

4. Serabi Solo, Manis Tradisional dari Zaman Kolonial

Serabi Solo sudah ada sejak masa kolonial Belanda dan menjadi jajanan kesukaan bangsawan keraton. Bedanya dengan serabi Bandung, serabi Solo lebih tipis, lembut di tengah, dan beraroma wangi santan serta daun pandan. Kini, kawasan Notokusuman menjadi pusat jajanan serabi yang legendaris. Banyak penjual yang mempertahankan resep turun-temurun tanpa bahan pengawet.

5. Cabuk Rambak, Camilan Unik yang Filosofis

Cabuk Rambak mungkin terdengar sederhana karena hanya berisi ketupat kecil disiram sambal wijen dan disajikan di daun pisang. Namun, makanan ini punya makna filosofi kebersahajaan khas wong Solo. Makanan rakyat ini dulunya dijual di pasar-pasar tradisional sebagai kudapan murah meriah namun bergizi.

Dari selat hingga cabuk rambak, tiap kuliner Solo menyimpan kisah panjang tentang akulturasi budaya dan selera lokal. Kalau kamu berkunjung ke Kota Bengawan, jangan cuma menikmati keindahan kotanya, tapi juga rasakan sejarah yang tersaji di setiap suapan makanannya. Karena di Solo, setiap rasa selalu punya cerita. Jadi kapan mau blusukan untuk wisata kuliner di Solo, Gez? (Siti Zumrokhatun/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Margin Kian Tipis, Banyak Seller Mulai Tinggalkan Marketplace

20 Mei 2026

SMA Negeri 1 Kemalang Resmi Berdiri, Anak Lereng Merapi Tak Perlu Sekolah Jauh Lagi

20 Mei 2026

Jateng Media Summit 2026 Bahas Masa Depan Media Lokal di Era Digital

21 Mei 2026

Di Tengah Gempuran AI dan Buzzer, Media Lokal Diajak Kembali ke Jurnalisme Publik

22 Mei 2026

Jejak Panjang Pecel, Lotek, dan Gado-Gado: Saat Salad Nusantara Punya Cerita Peradaban

22 Mei 2026

BI Jateng Ingatkan Bahaya Penipuan Digital di Tengah Tren Transaksi QRIS

23 Mei 2026

Belajar dari Estonia, China, dan Singapura dalam Membangun Infrastruktur Digital

23 Mei 2026

Walkot Semarang Resmi Luncurkan LOFF 2026, Perkuat Ekosistem Perfilman Kreatif

24 Mei 2026

Peluang “Godzilla El Nino” 2026 di Indonesia Relatif Kecil, Ini Kata BRIN

25 Mei 2026

Jadi Wisudawan Terbaik UNRIYO, Pemuda Asal Semarang Ini Ingin Ciptakan Banyak Peluang Kerja

25 Mei 2026

Sebelum Nasi Mendominasi, Leluhur Kita Sudah Diversifikasi Pangan Sejak Dulu

26 Mei 2026

5 Tradisi Iduladha di Indonesia yang Unik, Sarat Makna, dan Jadi Daya Tarik Wisata Budaya

28 Mei 2026

Congklak, Permainan Tradisional Tertua yang Kini Mulai Dilupakan

29 Mei 2026

Mengenal Thudong, Perjalanan Spiritual Para Biksu yang Selalu Mencuri Perhatian Saat Waisak

2 Jun 2026

Mengulik Filosofis Naga Jawa dalam Kosmologi Masyarakat Jawa Kuno

2 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: