BerandaIslampedia
Sabtu, 18 Mei 2018 19:17

Langgar Bubrah, Bangunan Akulturasi yang Nggak Rampung

Langgar Bubrah di Kudus (gangsiput.com)

Langgar ini belum selesai dibangun. Mitos tentang pembangunannya mirip Candi Prambanan. Itulah Langgar Bubrah di Kudus, Jawa Tengah.

Inibaru.id – Namanya kemungkinan bakal bikin siapapun penasaran: Langgar Bubrah. Bagaimana bisa sebuah tempat bersembahyang diberi nama berkonotasi negatif? Yap, kata Jawa “Bubrah”  berarti “gagal, rusak, berantakan.”

Penamaan tersebut ada kaitannya dengan cerita yang beredar seturut keberadaan bangunan itu, Sobat Millens. Ini bukan hal baru. Banyak bangunan atau situs tua yang memiliki cerita, baik sejarah maupun mitos.

Langgar Bubrah berada di tengah permukiman penduduk di Dukuh Tepasan, Desa Demangan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Lokasinya yang masih di area Menara Kudus itu gampang didatangi, tepatnya di sisi selatan Jl Sunan Kudus.

Dikutip dari blog yasiryafiat.wordpress.com, langgar ini awalnya sebuah bancikan (tempat pemujaan Hindu) yang didirikan seorang dari keluarga Kerajaan Majapahit bernama Pangeran Pantjawati. Pangeran yang tadinya Hindu, berguru ke Sunan Kudus dan memperistri Dewi Prodobinabar, yang tak lain putri sang sunan dari istri Dewi Sari atau Dewi Pecat Tondo Terung.

Zaimul Azzah, arkeolog dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah, yang pernah meneliti langgar tersebut menduga alasan mengapa bangunan langgar nggak selesai.

“Menurut cerita, bangunan tersebut harus dibangun dalam semalam dan tidak boleh kamanungsan (diketahui) oleh orang lain. Tapi, karena kemanungsan, tidak jadi dan dinamakan Langgar Bubrah,” ujar Zaimul seperti dikutip dari laman gangsiput.com.

Cerita soal kamanungsan ini lebih seru bila kita membaca dari Wikipedia. Dalam laman itu ditulis tentang seorang janda yang disabda menjadi patung. Konon, menurut cerita yang berkembang di masyarakat, ketika Pangeran Pantjawati sedang menyelesaikan pembangunan langgar, waktu hampir masuk subuh saat dia melihat seorang janda yang sedang menyapu. Kemudian dia mendekati si janda dan menyabda-nya jadi patung.

Benarkah? Mirip dengan kisah Candi Prambanan ya, Millens?

Meskipun benar ada patung sangat kecil terpahat di dalam batu besar di sekitar Langgar Bubrah, kamu boleh menganggapnya sebagai othak-athik gathuk khas orang Jawa. Pada akhirnya, cerita yang ada akan memperkaya nilai suatu bangunan kuno.

Bukti Akulturasi

Yang pasti, Millens, arsitektur Langgar Bubrah memang mengindikasikan akulturasi Hindu-Islam.  Bangunan berukuran panjang 6,3 m, lebar 6 m, dan tinggi 2,75 m tersusun dari batu bata itu berukiran khas Majapahit .

Menurut Zaimul, bentuk Langgar Bubrah, yang pembangunannya dilakukan pada masa transisi dari Hindu-Buddha menuju ke era Islam itu sangat terbuka terhadap akulturasi kebudayaan kedua agama tersebut.

“Apalagi, toleransi terhadap umat beragama yang dimiliki Sunan Kudus sangat besar,” tandasnya.

Tiga batu legendaris masih utuh berada di depan Langgar Bubrah. (murianews.com/Edy Sutriyono)

Perlu kamu tahu, Millens, akulturasi itu juga terlihat di mihrab dengan adanya relung di dinding sebelah luar yang dihias dengan motif tumbuh-tumbuhan. Pada dinding sebelah tenggara terdapat relief seorang lelaki yang rambutnya tertata seperti kepala Buddha dalam posisi berdiri.

Selain itu, dilansir dari laman gangsiput.com, di area Langgar Bubrah juga terdapat sebuah lumpang batu persegi panjang, dengan ukuran panjang 95 cm, lebar 45 cm, dan tinggi 35 cm. Ada batu pipisan dan lingga-yoni yang berasal dari kebudayaan Hindu-Buddha.

Toleransi antarumat beragama di sekitar Langgar Bubrah berlangsung hingga kini. Mau bukti? Di depan jalan masuk ke Langgar Bubrah, sekitar 100 meter, berdiri Kelenteng Hok Ling Bio.

Oya, langgar ini sudah dijadikan Benda Cagar Budaya oleh Balai Pelestarian Pengelolan Purbakala, Jawa Tengah pada 4 September 2005 dengan SK No 988/02.SP/BP3/P.IX/2006.

Tertarik? Langsung capcus saja ke sana! (IB02/E05)

 

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Cantiknya Pemandangan Pantai Dasun Lasem, Kabupaten Rembang

3 Mar 2026

Saat Takjil War, Waspada dengan Sejumlah Pembungkus Takjil Nggak Sehat Ini

3 Mar 2026

OTT Edisi Ramadan, KPK Bawa Bupati Pekalongan Fadia Arafiq ke Jakarta

3 Mar 2026

Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto, Jemaah Maiyah yang Lantang Kritik Program MBG

3 Mar 2026

Tren 'Grading Card', Autentifikasi Kartu Koleksi agar Nilai Jual Lebih Tinggi

3 Mar 2026

Mulai Maret Ini, Anak di Bawah 16 Tahun Dibatasi Main Medsos

3 Mar 2026

Kartu Mebel Jepara, 'Tiket Emas' biar UKM Ukir Naik Kelas

3 Mar 2026

Sejuk dan Alami, Begini Keindahan Air Terjun Kyai Buku Jepara

4 Mar 2026

Sepanjang 2025, Uang Hilang Setara Rp355 Miliar di Jepang Kembali ke Pemiliknya

4 Mar 2026

Opsi 'Sekolah Swasta Gratis' Akan Terintegrasi dengan SPMB 2026 di Kota Semarang

4 Mar 2026

Ponpes Raudhatul Qur'an; Cetak Ratusan Hafiz dengan Biaya Bulanan Murah Meriah

4 Mar 2026

Menguliti Asal Usul Nama Kurma

4 Mar 2026

Tragedi Cinta Mangir-Pembayun; Saat Asmara Jadi Senjata Penakluk Mataram

4 Mar 2026

Aneka Festival Musim Semi di Korea Selatan yang Bisa Kamu Datangi

5 Mar 2026

Benar Nggak Sih Sawit Bakal Menyelamatkan Indonesia dari Krisis Energi Global?

5 Mar 2026

Wajibkan Pencairan Maksimal H-7 Lebaran, Jateng Aktifkan Posko THR untuk Pengaduan

5 Mar 2026

Uji Coba Bus Listrik untuk Transportasi Publik yang Inklusif dan Ramah Lingkungan

5 Mar 2026

Kekerasan Seksual vs Main Hakim Sendiri; Undip Tegaskan Nggak Ada Toleransi!

5 Mar 2026

Siap-Siap Gerah! Kemarau 2026 Diprediksi Datang Lebih Cepat dan Lebih Kering

5 Mar 2026

Kok Bisa Sih Cadangan Minyak Indonesia Cuma 20 Hari?

6 Mar 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: