BerandaInspirasi Indonesia
Rabu, 23 Des 2025 13:01

Yang Tersisa setelah Mengikuti Long March 'Semarang Climate Strike' di Kota Lunpia

Semarang Climate Strike bukan sekadar aksi tahunan, ini adalah bentuk nyata perlawanan atas krisis iklim. (Inibaru.id/ Marita Ningtyas)

Long march Semarang Climate Strike bukan semata gerakan damai turun ke jalan untuk menyuarakan isu lingkungan. Bagi saya, aksi masyarakat sipil lintas generasi yang rutin digelar tiap tahun sejak 2019 ini selalu menyisakan tanda seru; bahwa krisis iklim bukan persoalan satu hari, satu aksi, atau satu generasi.

Inibaru.id - Penangkapan aktivis lingkungan dari Walhi Jawa Tengah Adetya Pramandira atau lebih akrab disapa Dera bersama pasangannya, Fathul Munif, oleh Polrestabes Semarang pada akhir November 2025 lalu, menggulirkan ingatan saya pada Semarang Climate Strike yang saya ikuti pada November lalu.

Sedikit informasi, Semarang Climate Strike adalah aksi lingkungan yang merupakan bagian dari Global Climate Strike, gerakan serentak yang digelar di berbagai negara untuk memberi tekanan moral dan politik kepada para pemimpin dunia.

Untuk 2025, aksi global tersebut digelar bertepatan dengan penyelenggaraan COP30, Konferensi Perubahan Iklim PBB yang tahun ini digelar di Belem, Brasil. Aksi itu dimaksudkan untuk menjadi sebuah momentum krusial ketika masa depan kebijakan iklim dunia kembali dipertaruhkan.

Secara peristiwa, perhelatan itu telah selesai. Namun, justru karena aksi itulah muncul pertanyaan yang relevan untuk dilontarkan, yakni sejauh mana kita punya ruang aman untuk bersuara tentang krisis yang mengancam hidup bersama ini?

Penangkapan Dera dan deretan aktivis lingkungan di Indonesia hari-hari ini adalah gambaran bahwa narasi dan isu iklim, lingkungan, dan keadilan ekologis, begitu sulit dimaknai sebagai bentuk peringatan. Ia lebih mirip gangguan, provokasi, atau disebut sebagai aksi melawan hukum.

Di titik inilah ingatan saya kembali pada para peserta aksi yang merupakan masyarakat sipil; keluarga dan anak-anaknya, mahasiswa, komunitas literasi, hingga tokoh lintas iman. Mereka beriringan dalam barisan untuk menyuarakan satu kegelisahan yang sama, bahwa Bumi sedang tidak baik-baik saja.

Aksi melawan krisis iklim lintas komunitas, agama dan usia. (Inibaru.id/ Marita Ningtyas)

“(Semarang) Climate Strike bukan sekadar aksi simbolik, tapi upaya kolektif untuk mengingatkan bahwa keputusan para pemimpin dunia berdampak langsung pada kehidupan masyarakat,” ujar Koordinator Jaringan Peduli Iklim dan Alam Ellen Nugroho, yang seketika membuat saya mengiyakan dalam hati.

Mengangkat tema “Just Transition Now”, long march di jantung Kota Lunpia untuk kampanye keadilan iklim ini sepenuhnya relevan, karena kita tinggal di "selatan". Perlu kamu tahu, dibanding negara-negara "utara", emisi karbon kita sejatinya relatif kecil, tapi dampak pemanasan global justru paling kentara di sini.

Arus pasang air laut yang mengakibatkan banjir "rob" di pesisir, suhu kota yang makin panas, krisis air, hingga kerentanan pangan, adalah dampak paling nyata dari pemanasan global itu. Nah, ketimpangan inilah yang ingin disuarakan dalam kampanye yang dipusatkan di jalur protokol Semarang tersebut.

Saya senang melihat aksi damai ini diikuti oleh berbagai elemen masyarakat, seakan menunjukkan bahwa isu lingkungan adalah masalah bersama. Generasi muda, anak-anak, keluarga, organisasi lingkungan, mahasiswa, hingga para tokoh lintas agama tampak menyerukan kegelisahan yang sama.

"Sejak kali pertama digelar pada 2019, Semarang Climate Strike memang selalu menghadirkan generasi muda," terang Ellen. "Pesan utamanya jelas; jangan sampai kebijakan hari ini, yang banyak dibuat oleh generasi tua, mewariskan Bumi yang tidak lagi layak dihuni bagi generasi muda.”

Bencana akibat kerusakan lingkungan di Sumatra dan berbagai wilayah di Tanah Air adalah tamparan keras bagi kita; sebuah peringatan keras bahwa kita belum sepenuhnya menyadari pentingnya menjaga lingkungan dan betapa besar kerusakan yang telah kita buat.

Solidaritas lintas iman dibutuhkan dalam melawan krisis iklim. (Inibaru.id/ Marita Ningtyas)

Maka, sebagaimana dikatakan Ellen, tujuan utama climate strike bukanlah semata untuk unjuk diri di jalanan, tapi mencoba membangun kesadaran publik. Perubahan iklim adalah isu kompleks yang sarat istilah ilmiah sehingga sering terasa jauh dari kehidupan sehari-hari.

"Di sinilah peran aksi publik dan media menjadi penting. Membumikan isu, menjadikannya dekat, dan terasa relevan," jelasnya. "Lalu, bersama-sama menyebarkan pemahaman, mengubah gaya hidup, dan mendesak pemangku kebijakan agar serius mempercepat transisi dari energi kotor ke energi bersih."

Ellen menyadari, perubahan sosial nggak mungkin dikerjakan sendirian. Maka, krisis perubahan iklim yang merupakan isu bersama seharusnya bisa menyentuh semua orang, tanpa terkecuali. Keberhasilannya bukanlah besarnya massa, tapi seberapa jauh pesan tersampaikan.

"Tolok ukurnya seberapa luas isu ini dibicarakan dan seberapa kuat jejaring yang terbentuk untuk gerakan lanjutan, karena krisis iklim bukan persoalan satu hari, satu aksi, atau satu generasi," tuturnya.

Ke depan, krisis iklim, pemanasan global, dan isu-isu lingkungan serupa, mungkin akan semakin akrab kita dengar, bahkan saksikan dan alami. Jika orang-orang yang memberi peringatan agar kita meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan ditangkapi, siapa lagi yang akan melakukannya?

Dengan atau tanpa orang-orang yang menyuarakan, krisis iklim akan tetap berlangsung. Kita berubah atau tidak, pemanasan global akan tetap terjadi. Jika bukan kita, mungkin anak cucu kita yang menanggung dampaknya. Maka, masih bisakah berpangku tangan?

Dera adalah gambaran kecil betapa sulitnya melakukan kampanye lingkungan di Indonesia saat ini. Hanya dengan menumbuhkan kesadaran bersama kita bisa berkelindan menjaga lingkungan. Ingatlah bahwa Bumi bukanlah warisan, tapi titipan untuk generasi mendatang! (Marita Ningtyas/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

TikTok Jadi Media Sosial Paling Sering Diakses Warganet Indonesia pada 2026

16 Jun 2026

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Warga Jateng Diminta Sambut Petugas dengan Baik

17 Jun 2026

Keraton Solo Keluarkan 14 Pusaka dan Kebo Bule dalam Kirab Malam 1 Suro

17 Jun 2026

Temuan Prasasti di Klaten Bukan yang Pertama, Diduga Terhubung dengan Dua Prasasti Era Kolonial

18 Jun 2026

AMSI Dorong Kolaborasi Media untuk Menghadirkan Informasi Iklim yang Lebih Kredibel

19 Jun 2026

Kenapa Harga Pertamax Belum Turun Meski Ada Penurunan Harga Minyak Dunia? Ini Faktor yang Mempengaruhinya

20 Jun 2026

Mengapa Kebo Bule Selalu Hadir dalam Kirab Malam 1 Suro? Begini Sejarah dan Maknanya

21 Jun 2026

Melihat yang Luput: Dari Kudus, Festival Film Anak Bangsa Menyalakan Ruang Bagi Cerita-Cerita Kecil

22 Jun 2026

Kenali Ciri-Ciri Petugas Sensus Ekonomi 2026 Asli, Jangan Sampai Tertipu Oknum Mengatasnamakan BPS

23 Jun 2026

B50 Siap Beredar Juli 2026, Pemerintah Optimistis Tak Perlu Lagi Impor Solar

24 Jun 2026

Mendag Tegaskan NIB untuk Penjual Online Bukan untuk Pungutan Pajak

25 Jun 2026

5 Alasan Penting Mengapa Anda Harus Mengunjungi Dunia Fantasi Ancol Tahun Ini

25 Jun 2026

Dasun di Lasem, Galangan Kapal yang Pernah Menopang Armada Majapahit hingga Demak

26 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: