BerandaInspirasi Indonesia
Selasa, 3 Feb 2020 11:58

Sebelum Temukan Jiwa Lewat Doodle Art, Bipolar Buat Hana Madness Pernah Dikurung Hingga Dirukiah

Hana Madness ingin pengetahuan soal penyakit mental beserta penanganannya diketahui banyak orang. (Inibaru.id/ Audrian F)

Hana Madness merupakan seniman doodle art dengan seabrek prestasi. Siapa sangka di balik kesuksesannya, dia mangidap bipolar disorder. Lantaran informasi minim mengenai gangguan mental ini, keluarga Hana pernah mengurungnya bahkan merukiahnya. <br>

Inibaru.id - Dia adalah seniman Doodle art, yakni sebuah gambar yang bentuknya nggak teratur dan terdiri dari beragam karakter. Masing-masing karakter memiliki makna yang mendalam baik dari bentuk atau warna. Dan itulah yang dihasilkan oleh Hana Alfikih atau yang lebih akrab disapa Hana Madness.

Berkat karya-karya doodle art-nya, nama Hana cukup melejit. Mulai dari pameran, penggunaan brand, hingga diundang ke acara bergengsi di luar negeri seperti Unlimited Festival di Inggris. Dia juga pernah berkolaborasi dengan seniman Inggris untuk mengisi film dokumenter yang berjudul In Chains. Yang terbaru, dia menjadi satu-satunya seniman Indonesia yang memamerkan karya lukisnya di Kota St Helens dalam rangka Festival TakeOver.

Namun ada cerita getir di balik kesuksesannya tersebut, Millens. Siapa nyana, perempuan yang lahir di Jakarta pada Oktober 1992 tersebut mengalami masa kecil hingga remaja dengan keadaan muram. Ya, Hana merupakan salah seorang pengidap Bipolar Disorder. Sebuah penyakit gangguan mental yang nggak semua orang menyadarinya.

Hana Madness saat membagikan kisahnya di acara “How to Face Mental Disorder with Kindness Land Art”. (Inibaru.id/ Audrian F)

Pada Jumat (24/1) malam tepatnya di Senja Coffee Rooftop, Tembalang, Kota Semarang, dalam acara “How to Face Mental Disorder with Kindness and Art”, Hana berkesempatan membagikan pengalamannya.

Sejak SD hingga SMP Hana tumbuh menjadi seseorang yang mempunyai gangguan mental. Hal tersebut ditandai dengan perubahan emosi yang cukup drastis. Bahkan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari pun, dia sangat terganggu. Kelabilan emosinya membuat teman-teman Hana menyingkir.

“Dulu aku benar-benar ekstrem. Sampai dijauhi orang-orang, merasa nggak punya siapa-siapa lagi. Pulang jarang-jarang, sampai tidur di sembarang tempat,” tutur Hana.

Hana mengungkapkan kalau saat mengalami gangguan mental itu dia benar-benar frustrasi. Dia menjadi sering nangis, menyakiti diri sendiri hingga hampir bunuh diri.

Gangguan mental Hana didiagnosis datang dari berbagai faktor. Yang jelas, pemicu utama adalah karena dari lingkungannya yang nggak baik bagi tumbuh kembang seorang anak. Selain itu dia juga mendapat pelecehan seksual, kekerasan, ditambah pola asuh orang tua yang salah.

Kala itu pengetahuan soal gangguan mental memang belum terpublikasi dengan baik, dampaknya, orang tua Hana nggak memandang masalah tersebut secara medis. Mereka lebih memilih mengurungnya di rumah sampai merukiahnya. Duh!

Salah satu karya Hana Madness yang dijadikan cover buku Lobang Pertama karya Adin Hysteria. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>

Dalam menghadapi permasalahannya, Hana menuangkannya ke dalam seni menggambar. Tipe gambar doodle art-lah yang dipilihnya. Kata Hana, ungkapan seninya sangat membantu memulihkan kondisinya.

“Memang sejak lama aku kalau ke sekolah itu kerjaannya gambar terus. Nggak pernah bawa buku pelajaran juga. Lambat laun aku jadi produktif dan bertemu dengan sesama pegiat seni jalanan,” ucap Hana.

Kini Hana menjadi seniman yang berprestasi. Meski kondisinya juga belum sepenuhnya sembuh namun sejauh ini dia masih terus menggambar.

“Saya harap masyarakat makin mengerti bagaimana pengetahuan mengenai gangguan mental beserta penanganannya. Saat ini saya juga nggak berhenti bersama teman-teman terus mengadvokasikannya,”

Wah, semoga makin banyak yang mengerti penanganan gangguan bipolar ya. (Audrian F/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Cantiknya Pemandangan Air Terjun Penawangan Srunggo di Bantul

20 Jan 2026

Cara Unik Menikmati Musim Dingin di Korea; Berkemah di Atas Es!

20 Jan 2026

Kunjungan Wisatawan ke Kota Semarang sepanjang 2025 Tunjukkan Tren Positif

20 Jan 2026

Belasan Kasus dalam Dua Tahun, Bagaimana Nasib Bayi yang Ditemukan di Semarang?

20 Jan 2026

Ratusan Perjalanan Batal karena Banjir Pekalongan, Stasiun Tawang Jadi Saksi Kekecewaan

20 Jan 2026

Viral 'Color Walking', Tren Jalan Kaki Receh yang Ampuh Bikin Mental Anti-Tumbang

20 Jan 2026

Nggak Suka Dengerin Musik? Bukan Aneh, Bisa Jadi Kamu Mengalami Hal Ini!

20 Jan 2026

Duh, Kata Menkes, Diperkirakan 28 Juta Warga Indonesia Punya Masalah Kejiwaan!

21 Jan 2026

Jika Perang Dunia III Pecah, Apakah Indonesia Akan Aman?

21 Jan 2026

Ki Sutikno; Dalang yang Tiada Putus Memantik Wayang Klithik Kudus

21 Jan 2026

Statistik Pernikahan Dini di Semarang; Turun, tapi Masih Mengkhawatirkan

21 Jan 2026

Kabar Gembira! Tanah Sitaan Koruptor Bakal Disulap Jadi Perumahan Rakyat

21 Jan 2026

Ternyata Bumi Kita Nggak Seburuk Itu, Simak Kabar Baik Pemulihan Alam Belakangan Ini!

21 Jan 2026

Kata Pakar Soal Makanan yang Bisa Bertahan Lebih dari 12 Jam

22 Jan 2026

Apakah Indonesia Sudah Memasuki Puncak Musim Hujan?

22 Jan 2026

Tradisi Unik jelang Ramadan; Nyadran 'Gulai Kambing' di Ngijo Semarang

22 Jan 2026

Bukan Cuma Rokok, Tekanan Finansial Juga Jadi Ancaman Serius buat Jantung

22 Jan 2026

Pantura 'Remuk' Pasca-Banjir, Pemprov Jateng Mulai Hitung Kerugian dan Siapkan Strategi Baru

22 Jan 2026

Menurut PBB, Dunia Sudah Memasuki Fase Kebangkrutan Air Global!

23 Jan 2026

Waktu-waktu Terburuk untuk Liburan ke Jepang pada 2026

23 Jan 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: