BerandaInspirasi Indonesia
Sabtu, 2 Jun 2023 08:00

KPKS, Komunitas Seniman Keroncong yang Rajin Tampil di Tempat Wisata

Komunitas Pelaku Keroncong Semarang (KPKS) tengah memainkan musik keroncong. (Inibaru.id/ Fitroh Nurikhsan)

Di tengah gempuran musik-musik modern, anggota Komunitas Pelaku Keroncong Semarang (KPKS) tetap solid dan rajin mempersembahkan musik keroncong di hadapan masyarakat.

Inibaru.id - Musik keroncong yang sempat populer di Indonesia masuk ke Nusantara pada abad ke-16. Jenis musik itu dibawa oleh para pelaut dan budak kapal dari Portugis.

Walau penjajahan Portugis di Indonesia nggak lama, musik keroncong nggak lantas hilang begitu saja. Masyarakat Indonesia justru menyerap musik tersebut dan memainkannya sebagai sarana hiburan.

Sayangnya, genre musik yang melambungkan nama Gesang, Waldjinah, Mus Mulyadi, Hetty Koes Endang, dan Sundari Soekotjo itu sekarang mulai berkurang peminatnya. Kendati demikian, kamu sebagai generasi muda masih bisa menikmati keindahan musik keroncong lewat Komunitas Pelaku Keroncong Semarang (KPKS).

Meski baru seumur jagung, KPKS telah memiliki sekitar 50 orang anggota yang sama-sama menyukai dan memainkan lagu-lagu keroncong lo, Millens. Siapa yang menginisiasi komunitas ini? Dialah Bambang Wisnu Setiaji.

Bambang adalah pembuat alat musik sekaligus pencinta musik keroncong dari Kota Semarang. Kecintaannya pada keroncong dan keinginan untuk melestarikan genre musik yang memadukan budaya barat dan timur itulah yang menggerakkannya untuk mendirikan KPKS.

"Komunitas ini dibentuk untuk mengumpulkan para pelaku keroncong, termasuk pengamen. Kami ingin mengajari mereka gimana memainkan alat musik keroncong yang benar," jelasnya kepada Inibaru.id, belum lama ini.

Berawal dari Keresahan

Pembina Komunitas Pelaku Keroncong Semarang (KPKS) Bambang Wisnu Setiaji. (Inibaru.id/ Fitroh Nurikhsan)

Bambang pun bercerita, ihwal mula kepikiran untuk mendirikan KPKS adalah saat dirinya mulai merasa prihatin melihat keselamatan kawan-kawan sejawatnya saat mengamen di jalan. Dari situlah terbentuk KPKS, yang ditujukan untuk mewadahi para pelaku keroncong.

"Ide komunitas ini dari Mas Amar dan Mas Andra (kedua teman Bambang). Mereka mikir, ngamen kan nggak ada yang peduli soal keselamatan kerja? Nah, di KPKS kami dorong mereka bikin BPJS. Takutnya mereka kecelakaan, kan kasihan kalau bingung cari uang untuk ke rumah sakit," papar Bambang.

Kepedulian itu rupanya berbuah manis. Nggak sedikit orang yang berminat menjadi bagian dari KPKS. Jadi, meski dikenal sebagai musik zadul, jangan berpikir bahwa anggota komunitas ini hanya para orang tua, lo. Sebagian anggota KPKS justru masih terbilang sangat muda.

Bambang mengungkapkan, dirinya bahkan sengaja menggaet anak muda agar mau belajar keroncong. Untuk bisa merangkul mereka, lelaki yang sehari-hari bekerja sebagai satpam di salah satu universitas di Semarang ini melakukannya dengan pendekatan persuasif tanpa pemaksaan.

"Kalau ada yang mau belajar, kami arahkan untuk memainkan lagu-lagu musik modern dulu. Senangnya apa; pop, dangdut, atau apa? Nah, setelah bisa main, barulah perlahan kami dorong untuk ngulik lagu-lagu keroncong yang asli," tutur Bambang.

Menurutnya, siapa pun boleh bergabung dengan KPKS. Biasanya, mereka rutin berkumpul sekali dalam sebulan, yakni tiap Senin pada minggu kedua. Pas ngumpul, para anggota komunitas ini umumnya bakal saling memberi arahan sekaligus ngulik lagu-lagu keroncong.

"Bagi yang belum bisa (main musik), nggak perlu khawatir. Kami nggak segan mengajari dari nol, kok!" janjinya.

Kerja Sama dengan Tempat Wisata

Anggota Komunitas Pelaku Keroncong Semarang (KPKS) tengah membersihkan salah satu alat musik keroncong. (Inibaru.id/ Fitroh Nurikhsan)

Bambang nggak bisa tutup mata dengan anggapan bahwa keberadaan pengamen di sembarang tempat dapat mengganggu ketertiban umum. Karena itulah KPKS mencoba menjalin kerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang agar mereka diberi ruang mencari nafkah.

"Alhamdulillah, teman-teman bisa ngamen di sejumlah ruang publik dan tempat wisata ikonik di Semarang seperti Terminal Mangkang, Goa Kreo, Taman Lele, Lawang Sewu, Sam Poo Kong, dan Kota Lama," ujar Bambang.

"Kalau di Taman Lele sama Goa Kreo kami rutin setiap Sabtu-Minggu pukul 10.00-13.00, tapi kalau cuaca kurang mendukung ya kami libur," tambahnya.

Dari upaya mewadahi para pengamen keroncong jalanan itu Bambang berharap, komunitas yang telah berbadan hukum ini bisa membuat mereka berkembang. Lebih dari itu, Bambang juga memimpikan musik keroncong bisa mengulang masa kejayaannya seperti masa lalu.

"Semoga para penyuka keroncong banyak yang bergabung. Dengan begitu kami bisa menyelenggarakan event besar sebagai bentuk upaya melestarikan musik ini," tandasnya.

Tiap mendengar cerita inspiratif dari komunitas pelestari warisan musik lokal seperti KPKS ini, hati terasa lega ya, Millens. Kalau dengar keroncong, siapa yang langsung teringat "Sepasang Mata Bola" atau "Bengawan Solo"? Ha-ha. (Fitroh Nurikhsan/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

TikTok Jadi Media Sosial Paling Sering Diakses Warganet Indonesia pada 2026

16 Jun 2026

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Warga Jateng Diminta Sambut Petugas dengan Baik

17 Jun 2026

Keraton Solo Keluarkan 14 Pusaka dan Kebo Bule dalam Kirab Malam 1 Suro

17 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: