BerandaInspirasi Indonesia
Selasa, 29 Jun 2020 10:28

Kerempongan dan Keseruan Syuting Film bareng Anak-anak

Radian Pasha Bimantara berperan sebagai Cuplis dalam Pementasan teater berjudul DONG-eng? yang disutradarai Ervina Dwi Setyaningrum. (Omah Dongeng Marwah)

Sebuah film tercipta melalui proses yang sangat panjang. Nggak jarang di balik proses produksi film ada cerita lain di baliknya. Kira-kira cerita menarik apa yang terjadi ketika Omah Dongeng Marwah tengah syuting film bersama anak-anak?

Inibaru.id – Berbeda dengan orang dewasa yang sudah mampu mengontrol emosi dengan baik, serta mengerti tanggung jawab akan tugas yang diemban. Anak-anak cenderung belum bisa mengontrol emosi mereka.

Dunia anak-anak adalah dunia bermain. Pasti nggak mudah ya mengarahkan bocil-bocil ini untuk memainkan perannya dalam proses produksi film, karena mood anak yang sulit ditebak.

Omah Dongeng Marwah (ODM), merupakan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat yang mengajarkan anak tentang dongeng dan untuk berani tampil di depan umum. Nggak hanya dongeng, ODM juga melatih bakat seni anak lainnya lo. Termasuk memproduksi film.

Film yang pernah diproduksi oleh ODM adalah Mata Jiwa yang diadopsi dari cerpen Bintang di Langit Jakarta karya Tsaqiva Kinasih. FYI, Tsaqiva merupakan salah satu peserta didik di ODM. Lalu gimana ya proses syuting film ini berjalan?

Pada Senin (15/06) Dwi Yuliastuti, kakak pendamping di ODM menceritakan kepada saya bagaimana perasaan senang sampai sulitnya mengikuti mood anak dalam bermain peran.

“Banyak sekali kejutan-kejutan, jadi anak yang terlihat nggak bisa, pendiam. Ketika dia harus take adegan film, dia langsung acting dengan sungguh-sungguh. Nanti setelah selesai, cut dia diem dan tidur lagi,” ungkap Dwi.

Jiwa sedang mendengarkan ayahnya mendongeng tentang bintang kejora dalam film Mata Jiwa. (Youtube Omah Dongeng Marwah)<br>

Menurutnya, menyesuaikan mood menjadi kunci penting dalam pengambilan adegan film yang diperankan oleh aktor dan aktris cilik ini.

“Ya, tingkah anak lah, sesuai mood-nya. Kalo mood-nya nggak bagus ya kita nunggu sebentar,” ujarnya. Apalagi latar tempat dalam pembuatan film Mata Jiwa ini ada di beberapa tempat, salah satunya Jakarta.

Dwi juga bercerita tentang salah satu pemain film Mata Jiwa bernama Radian Pasha Bimantara. Kala itu, Radian masih duduk di kelas 4 Sekolah Dasar. Proses pengambilan adegan film yang dilakukan sampai tengah malam membuat Radian tertidur kelelahan. Padahal menurut Dwi, Radian itu kalau tidur susah sekali dibangunkan. Dari kejadian itulah, ide kreatif muncul dan menjadikan peristiwa Radian yang susah dibangunkan menjadi adegan dalam film secara natural. “Akhirnya kejadian itu diambil menjadi adegan dalam film, ketika dia dibangunin malah marah, Ha-ha“ cerita Dwi.

“Dia itu, ketika lagi break shooting main hape dan santai, kalau sudah diteriakin ‘ayo siap’, dia langsung siap,” lanjutnya.

Emosi marah anak-anak ketika bermain film juga terjadi ketika pembuatan dongeng nusantara pada 2017 silam. Beberapa anak marah ketika harus take ulang adegan.

Karya salah satu peserta didik Omah Dongeng Marwah. (Omah Dongeng Marwah)

“Itu sampai marah-marah anaknya, ‘aku dah capek,’ kata sang anak,” tutur Dwi.

Dwi juga menyebutkan jika kala itu pemainnya adalah anak-anak SD. Bisa jadi, mereka belum terbiasa dengan aktivitas shooting. Jadi mereka harus mengulang adegan berkali-kali sampai rasanya kesal dan ingin marah.

Akhirnya anak-anak tersebut diberikan pendekatan secara perlahan. “Kita dekati pelan-pelan, sambil bilang, ‘Iya-iya, ini sebentar lagi, sebentar lagi. Kalau sudah selesai kamu bisa istirahat lebih lama, kalau marah-marah terus nanti nggak selesai-selesai, lo’,” kata Dwi menjelaskan cara mengarahkan anak ketika syuting.

Usaha nggak pernah mengkhianati hasil. Omah Dongeng Marwah kala itu mendapatkan juara nasional.

“Dan kami diundang untuk tampil live di kampus UI, anak-anak kami boyong semua satu bus,” ujarnya.

Hm, walau agak rempong tapi seru juga ya syuting dengan anak-anak ini. Yuk, doakan semoga mereka bisa menjadi aktor dan aktris berkualitas di masa depan. (Rafida Azzundhani/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

HP Gratis dengan Rekening Digital Diusulkan untuk Penyaluran Bansos

15 Okt 2026

Dari Jepara ke Sarajevo, Merawat Ukiran dan Diplomasi yang Tak Selesai di Meja Pertemuan

16 Okt 2026

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Mengapa Salatiga Disebut Salah Satu Kota Tertua di Indonesia? Ini Sejarahnya

28 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

8 Tokoh Penting Kongres Pemuda II yang Lahirkan Sumpah Pemuda

28 Okt 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: