BerandaInspirasi Indonesia
Rabu, 17 Feb 2026 13:01

Dokter Mufida, Eks Fisioterapis PSIS Semarang yang Jadi Idola Suporter

Aksi Dokter Mufida saat menjadi fisioterapi PSIS Semarang musim 2022-2023. (Instagram/dr.mufida)

Dokter Mufida Rizqiyani Husna, pernah menjadi fisioterapis perempuan PSIS Semarang musim 2022-2023 dan sempat diragukan pekerjaannya.

Inibaru.id - Para suporter klub sepak bola PSIS Semarang tentu familiar dengan sosok perempuan satu ini. Namanya Mufida Rizqiyani Husna. Dokter berusia 30 tahun ini adalah fisioterapis di tim medis PSIS Semarang pada musim 2022-2023.

Lantaran menjadi orang yang akan menghampiri pemain PSIS saat cedera di lapangan untuk memberikan pertolongan pertama, sosoknya jadi sering tertangkap kamera. Hal ini membuatnya menjadi sorotan publik, terlebih karena kerjanya terbilang cekatan.

Kesigapan Mufida berlari menghampiri pemain dari tepi lapangan acapkali lebih mencuri perhatian dibanding jalannya pertandingan. Maka, meski hanya semusim menjadi tim medis untuk skuat Mahesa Jenar, kehadiran perempuan ramah ini telah memberi warna baru di dunia olahraga yang didominasi kaum adam ini.

Mufida nggak dikenal hanya karena dia perempuan di tengah para lelaki, tapi lantaran kemampuannya sebagai fisioterapis memang cukup mengesankan. Dia mengatakan, sedari awal dia memang tertarik dengan dunia olahraga.

Ditemui Inibaru.id di Semarang belum lama ini, Mufida menuturkan bahwa ketertarikannya pada dunia olahraga sudah muncul sejak menjadi mahasiswa di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). Skripsinya bahkan membahas tentang kondisi psikologis atlet menjelang pertandingan.

Awal-awal setelah lulus, Mufida memulai karier dengan bekerja di instansi rumah sakit milik pemerintah daerah, sebelum mencoba tantangan baru dengan memutuskan untuk bergabung dengan tim medis PSIS Semarang 2022-2023 sebagai fisioterapis.

"Walaupun pekerjaan di rumah sakit juga penuh tantangan, tapi mobilitasnya terbatas hanya di dalam gedung; berbeda dengan menjadi dokter olahraga yang (area kerjanya) lebih luas, bisa ikut tanding hingga ke luar kota atau pulau," ujarnya.

Menyukai Tantangan 

Aksi Mufida yang berlari mengejar pemain cedera pernah menjadi perhatian publik di stadion maupun media sosial. (Instagram/dr.mufida)

Mufida mengaku menyukai pekerjaan menantang yang memungkinkan banyak interaksi dengan orang lain dan mengharuskannya bekerja dengan cepat seperti menangani cedera. Selama di PSIS, penanganan cedera yang paling sering dia ditangani adalah masalah hamstring dan ligamen lutut.

"Kalau pemain di lapangan, paling sering kena masalah hamstring dan ligamen lutut, seperti ACL (anterior cruciate ligament), MCL (medial collateral ligament), dan PCL (posterior cruciate ligament)," paparnya.

Menurutnya, menjadi fisioterapis di lapangan bukan sekadar tentang kemampuan berlari cepat untuk menghampiri pemain saat cedera, tapi yang jauh lebih penting adalah tentang ketelitian menilai posisi jatuh atlet dan melakukan pemeriksaan di lapangan.

"Proses pemeriksaan harus cepat, tapi tepat. Posisi jatuh atlet, jenis cedera, semuanya harus diperhatikan," ungkap Mufida. "Kami juga harus cepat memutuskan apakah atlet bisa kembali bermain atau digantikan pasca-cedera; segera sampaikan ke bench."

Selama menjadi fisioterapis PSIS, Mufida bukannya nggak pernah merasa gentar. DIa mengaku sempat menghadapi keraguan, terutama terkait stigma bahwa dokter perempuan paling hanya bisa "lari-lari di lapangan". Menurutnya, banyak yang berkomentar demikian.

"Ragu ada, tapi saya sama sekali tidak menghiraukan komentar miring tersebut dan memilih fokus pada pekerjaan," sebutnya. "Pekerjaan fisioterapis itu kompleks. Kami harus menyiapkan atlet seoptimal mungkin, menilai kesiapan fisik dan psikis, serta memperhatikan faktor lain sebelum pertandingan."

Bekerja Nyaris 24 Jam

Beberapa kali dokter Mufida masih menyaksikan laga PSIS Semarang di Stadion Jatidiri meski tidak lagi menjadi bagian dari tim medis. (Instagram/dr.mufida)

Pertandingan yang berakhir, Mufida mengatakan, bukan berarti pekerjaannya usai. Setelah pertandingan, pekerjaan tim medis masih berlanjut, termasuk memberikan treatmen para atlet pasca-pertandingan, baik untuk yang cedera maupun tidak.

"Meski pemain tidak jatuh pas main, kadang pas dicek ada hematom, lebam, atau keluhan lutut dan pergelangan kaki. Jadi, semua itu harus ditangani detail," bebernya. "Kami bekerja nyaris 24 jam mendampingi para pemain. Saya bahkan tidur di dekat mess pemain agar selalu siap saat pekerjaan memanggil."

Pekerjaanya memang nggak pandang waktu. Dia mengaku pernah harus melakukan ekstraksi kuku pada tengah malam. Jadi, hampir nggak ada waktu untuk urusan pribadi, bahkan pada pagi hari karena jam latihan dimulai pukul 06.00 pagi.

"Kami juga menemani para pemain yang cedera ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih mendalam seperti MRI, CT scan, atau konsultasi dengan dokter ortopedi. Semua dilakukan agar proses pemulihan atlet berjalan secara maksimal," kata dia.

Setelah memutuskan keluar dari tim medis PSIS pada Oktober 2022, Mufida mengaku sudah nggak pernah lagi berkecimpung sebagai dokter di dunia sepak bola dan selama tiga tahun terakhir memilih fokus ke bidang estetika. Namun, bukan berarti kapok, karena pekerjaan sebagai fisioterapis menurutnya masih cukup seru.

"(Pekerjaan sebagai fisioterapis) seru, kok! Kalau ada tim yang butuh jasa saya, kenapa tidak? Sekarang juga saya masih merasa terhubung dengan para suporter. Saya merasa punya banyak saudara. Di mana pun saya berada, selalu ada yang menyapa dan bertegur sapa. Bagi saya, ini sangat berkesan," tandasnya.

Bukan hanya karena merupakan sosok perempuan di antara para lelaki, dr Mufida menjadi idola bagi para suporter PSIS Semarang karena dedikasinya yang nggak kaleng-kaleng. Suporter PSIS, ada yang kangen dengan Bu Dokter cekatan ini nggak, nih? (Sundara/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Tumpeng, Simbol Syukur dan Harmoni dalam Tradisi Jawa

12 Mei 2026

Dolar AS Sentuh Rp17.500, Apa Dampaknya bagi Masyarakat?

13 Mei 2026

Rahasia Sehat dari Isi Piring Warna-Warni

13 Mei 2026

Jamu, Warisan Leluhur yang Tetap Relevan di Tengah Gaya Hidup Modern

14 Mei 2026

Saat Rupiah Melemah, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

15 Mei 2026

Rahasia Matematika di Balik Motif Batik, dari Simetri hingga Pola Fibonacci

16 Mei 2026

ARTOTEL Gajahmada Semarang Hadirkan Pameran Seni Kontemporer “Episentrum”

16 Mei 2026

Nyandhang Tradisi untuk Menjaga Ingatan Batik Kudus

18 Mei 2026

9 WNI dalam Misi Kemanusiaan ke Gaza Dicegat Israel, Ada Wartawan Media Nasional

19 Mei 2026

Margin Kian Tipis, Banyak Seller Mulai Tinggalkan Marketplace

20 Mei 2026

SMA Negeri 1 Kemalang Resmi Berdiri, Anak Lereng Merapi Tak Perlu Sekolah Jauh Lagi

20 Mei 2026

Jateng Media Summit 2026 Bahas Masa Depan Media Lokal di Era Digital

21 Mei 2026

Di Tengah Gempuran AI dan Buzzer, Media Lokal Diajak Kembali ke Jurnalisme Publik

22 Mei 2026

Jejak Panjang Pecel, Lotek, dan Gado-Gado: Saat Salad Nusantara Punya Cerita Peradaban

22 Mei 2026

BI Jateng Ingatkan Bahaya Penipuan Digital di Tengah Tren Transaksi QRIS

23 Mei 2026

Belajar dari Estonia, China, dan Singapura dalam Membangun Infrastruktur Digital

23 Mei 2026

Walkot Semarang Resmi Luncurkan LOFF 2026, Perkuat Ekosistem Perfilman Kreatif

24 Mei 2026

Peluang “Godzilla El Nino” 2026 di Indonesia Relatif Kecil, Ini Kata BRIN

25 Mei 2026

Jadi Wisudawan Terbaik UNRIYO, Pemuda Asal Semarang Ini Ingin Ciptakan Banyak Peluang Kerja

25 Mei 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: