BerandaInspirasi Indonesia
Jumat, 20 Mei 2021 17:00

Berbagi di Tengah Keterbatasan ala Mbak Keyko, Pendiri Rubbik School Semarang

Mbak Keyko saat mengajar di depan anak-anak Rubbik. (Inibaru.id/Bayu N)

Namanya Eko Srirahayu. Namun, anak-anak biasa menyapanya 'Mbak Keyko'. Keterbatasan ekonomi bukanlah halangan baginya untuk terus berbagi, mendirikan cum mengajar di Rubbik School Semarang, serta mendedikasikan dirinya untuk kepentingan sosial.

Inibaru.id - Nggak ada yang lebih baik dari berbagi dan berguna untuk orang lain. Mungkin, inilah prinsip yang dianut Eko Srirahayu atau yang biasa disapa Keyko. Dialah pendiri sekaligus pengajar di Rubbik School Semarang.

Didirikan di Jalan Delikrejo RT 13 RW 11, Tandang, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah, Rubbik School adalah sekolah gratis sekaligus tempat "bernaung" bagi anak-anak kurang mampu di wilayah yang berlokasi sekitar lima kilometer dari pusat kota tersebut.

Saat saya bertandang ke Rubbik School Semarang akhir Ramadan lalu, Keyko baru saja pulang dari pengambilan zakat di sekolah anaknya. Nggak ada yang spesial dari penampilan perempuan bersahaja tersebut. Namun, siapa menyangka bahwa dedikasinya begitu luar biasa untuk anak kurang mampu di sekitarnya?

Keyko mulai mendirikan Rubbik, begitu sekolah ini biasa disebut, dengan bantuan temannya yang berasal dari Belanda, pada 2008. Semula, sekolah gratis yang saat ini menaungi sekitar 65 anak dari berbagai usia tersebut bernama Indoshelter.

Bukan dari Kalangan Berada

Suasana di ruang belajar Rubbik School. Anak-anak nggak cuma belajar, tapi juga bebas untuk bercengkrama dengan posisi duduk sesuka mereka. (Inibaru.id/Bayu N)

Kalau kamu berpikir harus menjadi kaya dulu untuk membantu orang atau berbagi dengan orang yang kurang mampu, agaknya kamu perlu bertemu dengan Keyko. Perempuan berkacamata ini nggak berasal dari kalangan berada. Kehidupan ekonominya nggak bisa dibilang berlebih.

Keyko bahkan punya pengalaman lucu terkait hal ini. Dia mengatakan, dengan menjadi pendiri Rubbik, nggak sedikit yang nggak percaya kalau kehidupannya jauh dari kata kaya. Menurutnya, banyak orang nggak percaya kalau rumahnya nggak lebih besar dari base camp Rubbik.

"Ya sudah, (yang nggak percaya) kubawa saja ke rumah,” ungkap Keyko. “Pas sampai rumah, malah nangis karena lihat kondisi rumahku,” tambahnya, lalu tertawa.

Menggemari Kegiatan Sosial

Setelah mengajar di depan kelas, Mbak Keyko biasanya berkeliling untuk berinteraksi dengan anak-anak secara lebih dekat. (Inibaru.id/Bayu N)

Keyko mengaku, keinginannya untuk terus mengajar di Rubbik dilandasi oleh kesukaannya terhadap kegiatan sosial. Sebelum resmi mendirikan sekolah untuk anak kurang mampu itu, dia memang kerap menjadi sukarelawan untuk beberapa kegiatan sosial.

Sambil sesekali menjawab pertanyaan anak-anak yang mendatanginya, "Mbak Keyko", begitu dia biasa disapa orang-orang di sekitarnya, menceritakan perjalanannya selama mengajar di Rubbik. Menurut perempuan murah senyum tersebut, salah satu hambatan utamanya dulu adalah sarana transportasi.

Perempuan yang bertempat tinggal di Jalan Badak yang masuk wilayah Kelurahan Pandean Lamper, Kecamatan Gayamsari, ini sempat harus berjalan kaki untuk menuju Rubbik yang berlokasi di Kelurahan Tandang, Kecamatan Tembalang. Jaraknya mencapai lebih dari tiga kilometer.

"Saya kan nggak bisa naik motor. Jadi, dulu saya berangkat dan pulang, ya, jalan kaki" kenangnya. Matanya kemudian menerawang jauh ke masa lalu. "Pernah, sih, naik sepeda. Namun, habis itu sepeda saya dicuri orang,” sambung penyuka musik rock ini, yang lagi-lagi diakhiri dengan tawa yang berderai.

Kendati penuh perjuangan, Keyko mengaku kesulitan yang dia alami tersebut nggak seberapa. Baginya, anak-anak asuhnya di Rubbik adalah obat mustajab untuk seluruh perasaan lelah yang menderanya.

"Semua rasa capai seketika hilang ketika sudah bertemu anak-anak," akunya.

Menjadi Sebuah Jembatan

Kata-kata mutiara yang terpasang di pintu masuk Rubbik School. (Inibaru.id/Bayu N)

Selama hidup, Keyko mengaku cukup akrab dengan kegiatan sosial. Selain kesibukan mengajar untuk Rubbik dalam kesehariannya, dia juga rajin mencari informasi bencana atau penggalangan dana pembangunan masjid. Informasi tersebut nantinya dia bagikan ke teman-temannya.

Dia memang sering memosisikan diri sebagai jembatan untuk teman-temannya yang pengin memberi bantuan untuk masyarakat. Berdasarkan informasi yang dia bagikan, biasanya teman-temannya bakal merespons.

"Info (bencana, pembangunan masjid, dll) saya bagikan ke teman-teman. Nanti mereka menitipkan sesuatu untuk saya salurkan,” terangnya.

Bagi Keyko, membantu orang lain bisa dilakukan dengan cara apa pun. Yang terpenting, imbuhnya, adalah niat membantu itu. Dia mengaku senantiasa percaya pada kebaikan Tuhan. Dia meyakini pasti akan selalu ada jalan untuk membantu orang lain.

"Bahkan di tengah kondisi yang serba kekurangan pun, bantuan dari-Nya akan berdatangan," pungkas Keyko, diikuti seulas senyum yang tampak begitu tulus.

Saya sepakat. Berbagi memang bisa diwujudkan dalam berbagai macam cara. Bahkan, menjadi sebuah jembatan untuk melancarkan jalan orang-orang yang pengin berbagi pun bagian dari berbagi. Lalu, adakah alasan untuk nggak peduli ke orang-orang di sekitar kita? (Bayu N/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Kelapa Kopyor Mahal Bukan Tanpa Alasan, Ini Fakta Menariknya

31 Jul 2026

Jemparingan, Seni Panahan Khas Mataram yang Mengajarkan Fokus dan Keteguhan Hati

1 Agu 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: