BerandaIndie Mania
Jumat, 12 Mar 2020 10:00

Kritikus Film, Peran Penting yang Jarang Dilirik

Kritikus film Hikmat Darmawan membagi pengalamannya selama menjadi kritikus film. (Inibaru.id/Gregorius Manurung)

Walaupun nggak seterkenal sutradara, produser, atau aktor film, posisi sebagai kritikus film memiliki peran penting. Posisi ini sangat dibutuhkan bagi keseimbangan ekosistem dunia perfilman.

Inibaru.id – Kamu pasti pernah punya pemeran film favorit, pengisi scoring favorit, atau sutradara favorit, kan, Millens? Tapi, pernah nggak sih kamu punya kritikus film favorit? Kritikus film memang jarang sekali dikenal publik luas dibanding sutradara, produser, atau pemeran film.

Dalam diskusi Rasan-Rasan Sinema Sineroom di Tekodeko, Kota Lama Semarang, kritikus film Hikmat Darmawan sedikit menjelaskan soal fenomena ini. Menurut Hikmat, kritik film sering nggak dianggap karena kata “kritik” yang dikonotasikan secara negatif. Kritik sering disamakan dengan hujatan.

Padahal menurut KBBI daring, kritik berarti “kecaman atau tanggapan, atau kupasan kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik-buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya.” Bukan berarti selalu hujatan kan, Millens?

Kritik film sebenarnya sangat dibutuhkan untuk perkembangan ekosistem film itu sendiri. Dalam wawancara pasca-diskusi Rasan-Rasan Sinema Sineroom, Sabtu (7/03), Hikmat menyatakan bahwa ada beberapa unsur yang membentuk ekosistem perfilman: produksi, distribusi, eksibisi, aprisiasi, dan edukasi.

Kritik film bukan kerja sembarangan. Hasilnya saja bisa mencapai 1.600-an halaman! (Inibaru.id/ Gregorius Manurung)

Kritik film mengambil peran di bidang apresiasi dan edukasi yang tugasnya adalah menjembatani karya film dengan penonton. Bisa juga menjadi bagian dari publik yang menuntut “kualitas” pada sang pembuat kerja.

Kritik menjembatani film dengan penonton dengan membedah apa-apa saja yang diangkat dalam film tersebut. Mulai dari gagasan dalam film sampai hal teknis seperti gerak kamera, editing, dan sebagainya dapat dikupas kritikus film.

“Ketika peran itu tidak dimunculkan, maka ekosistemnya akan timpang. Jembatan tadi nggak muncul. Tentu saja untuk bisa jadi jembatan, kritikus harus memenuhi syarat juga,” ucap pria yang menjadi ketua Komite Film DKJ ini.

Syarat yang diperlukan oleh kritikus, selain mampu menulis, adalah memiliki kaidah dan metode dalam menyatakan pendapat atau gagasan atas film. Kaidah dan metode itu juga nggak ajek, Millens. Itu terjadi karena film juga berkembang.

Hikmat mencontohkan kritikus film kawakan Amerika Serikat Bosley Crowther, yang menyatakan film Boney and Clyde (1967) adalah film yang buruk. Nahasnya, publik dan beberapa kritikus lain menyatakan film tersebut bagus dan akhirnya film tersebut diakui bagus. Setelah itu Bosley sampai-sampai berhenti menjadi kritikus dan berkata “Saya nggak paham lagi sinema.”

“Itu sifat alamiah dari percakapan dan diskursus publik,” tambah Hikmat.

Bagaimana, kamu tertarik untuk jadi kritikus film, Millens? (Gregorius Manurung/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

TikTok Jadi Media Sosial Paling Sering Diakses Warganet Indonesia pada 2026

16 Jun 2026

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Warga Jateng Diminta Sambut Petugas dengan Baik

17 Jun 2026

Keraton Solo Keluarkan 14 Pusaka dan Kebo Bule dalam Kirab Malam 1 Suro

17 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: