BerandaIndie Mania
Sabtu, 8 Nov 2019 12:19

Absennya Novela dari Pasar Buku di Indonesia adalah Masalah Serius

Dari kiri, Ratih Dwi Ramadhany, Reza Nufa, dan Daruz Armedian (moderator) dalam acara diskusi di Ketemu Buku. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Jika kamu berkunjung ke toko buku, produk fiksi yang sering ditemui adalah novel atau kumpulan cerpen. Jenis lain yaitu novela sangat jarang ditemui. Kira-kira kenapa ya?

Inibaru.id – Novela merupakan prosa rekaan yang lebih pendek dari novel dan lebih panjang dari cerpen. Biasanya terbatas pada satu peristiwa, keadaan, dan tikaian atau disebut juga dengan novelet. Beberapa contoh novela yang beredar di Indonesia seperti Stasiun karya Putu Wijaya, Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono, Rumah Kertas karya Carlos Maria Domiquez, dan lain sebagainya.

Penulis buku Pacarku Memintaku Jadi Matahari, Reza Nufa menjelaskan, berbicara tentang novela bisa sangat luas. Novela lahir saat novel dan cerpen juga lahir. Dari dulu produk tersebut sudah ada, tapi masyarakat Indonesia nggak terbiasa dengan istilah novela.

“Jarang ada penerimaan novela di penerbit. Padahal penulisnya cukup banyak. Novela tipis dan tanggung sekali ukurannya. Bagi penerbit itu sulit dan kita tak terbiasa dengan kategori itu,” kata Reza dalam acara diskusi Novela dalam Sastra Indonesia di Gedung Wanita Semarang, Minggu (3/11).

Peserta diskusi "Novela dalam Sastra Indonesia". (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Sastra terjemahan banyak memberi pengaruh novela yang berkembang di Indonesia. Seperti dalam karya Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta karya Luis Sepulveda dengan gaya penceritaan yang riil dan waktu untuk menghabiskan novela tersebut singkat. Era digital juga dirasa Reza cukup membantu keberadaan novela dengan medianya dapat menampung berbagai macam jenis tulisan.

“Persoalan ketiadaan novela di pasaran itu masalah serius. Masih terkungkung dalam bentuk-bentuk pasaran. Itu mengebiri ide, gagasan, hingga tokoh ketika harus dipanjang-panjangkan,”  ucap laki-laki yang juga editor di penerbit Basabasi Yogyakarta tersebut.

Penulis novela Dwi Ratih Ramadhany menceritakan, dia terbebani dengan kategorisasi novel yang dibatasi jumlah kata. Sebab seorang penulis nggak perlu menulis di luar batas kemampuan dengan memanjang-manjangkan tulisan atau memendek-mendekan tulisan jika itu nggak perlu.

“Saya generasi milenial yang terputus. Saya tak begitu mengenal beberapa karya Umar Kayam yang ternyata novela. Saya bongkar lagi buku dan menemukan buku Kukila karya Aan Mansyur dan Madre karya Dee yang juga novela. Kategorisasi ini bergantung pada pemasaran penerbit, tapi nggak punya media,” katanya.

Seperti dalam novela terbaru Dwi berjudul Silsilah Duka, menurutnya bentuk novela sangat cocok untuk menuangkan gagasannya dalam tulisan. Dalam novela itu Dwi bercerita tentang lingkungannya di Madura dan membahas konflik perempuan yang melawan perempuan. Baik perempuan di ranah domestik maupun publik.

Jadi, apa kamu juga penulis novela, Millens? Susah juga ya mencari penerbit untuk menampung karya jenis ini. Semoga ke depan pembaca Indonesia lebih terbiasa dengan genre ini ya. (Isma Swastiningrum/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Pecinan Semarang Bakal Dikelilingi Arak-arakan 50 Kelenteng Akhir Pekan Ini!

10 Apr 2026

30 Persen Jemaah Haji asal Semarang Masuk Kategori Muda, Puluhan di Antaranya Gen Z

10 Apr 2026

Kolaborasi AMSI dan Meta untuk Dukung Jurnalisme Berkualitas

10 Apr 2026

Jaga Produksi, Pengusaha Tahu Semarang Putar Otak saat Harga Kedelai dan Plastik Naik

10 Apr 2026

Ogah Cuma Jadi Formalitas, Sumanto Pengin Bedah LKPJ 2025 Hasilkan Solusi Nyata buat Jateng

11 Apr 2026

Investasi buat Anak Cucu, Sumanto Ajak Relawan Jaga Kali-Rawat Bumi

12 Apr 2026

Kecelakaan (Lagi) di Silayur Semarang, Mau sampai Kapan?

12 Apr 2026

Bernuansa Spiritual, Tradisi Kirab Kelenteng di Pecinan Semarang

13 Apr 2026

Lansia Dominasi Calhaj Asal Semarang, Kesehatan jadi Tantangan Serius

13 Apr 2026

ASN Jateng WFH Tiap Jumat, Sumanto: Jangan Sampai Pelayanan Publik Malah Libur

13 Apr 2026

Dishub Perketat Akses Masuk ke Silayur, Dua Portal Disiapkan untuk Batasi Truk Tronton

14 Apr 2026

Forbasi Matangkan Struktur Organisasi via Rakernas dan Sertifikasi Juri-Pelatih

14 Apr 2026

Ikhtiar Warga Silayur, Kembalikan Tradisi Ruwatan untuk Keselamatan Pengguna Jalan

14 Apr 2026

Grup Cowok: Batas Tipis antara Bercanda dan Pelecehan Seksual

15 Apr 2026

Menanti Surpres, Nasib RUU PPRT Kini di Tangan Presiden

15 Apr 2026

Temuan Fosil Purba di Bumiayu, Diduga Lebih Tua dari Sangiran

16 Apr 2026

Riset CISDI: Satu Dekade Berlalu, Harga Rokok Tetap Murah, Reformasi Cukai Diperlukan

17 Apr 2026

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: