BerandaHits
Kamis, 4 Feb 2026 13:01

Tinjau Jembatan Mangkrak di Mangkang Wetan, Ombudsman: Pemkot Semarang Abai!

Ombudsman Jateng menemukan beton dan material mangkraknya pembangunan jembatan permanen Kampung Tambaksari Semarang. (Istimewa)

Meninjau langsung kondisi proyek pembangunan jembatan yang mangkrak selama tiga tahun di Mangkang Wetan, Ombudsman Jateng menilai Pemkot Semarang telah abai; sekaligus mendesak pihak terkait untuk segera menemukan solusi.

Inibaru.id - Ombudsman Jawa Tengah (Jateng) menyoroti mangkraknya pembangunan jembatan di Kampung Tambaksari di Kelurahan Mangkang Wetan, Kecamatan Tugu, Kota Semarang. Tim Ombudsman juga menemukan material jembatan yang menumpuk tertutupi semak belukar.

Sedikit informasi, Pemkot Semarang bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Juana Pemali telah merencanakan pembangunan jembatan permanen itu sekitar 2022, bersamaan dengan normalisasi Sungai Bringin. Namun, sengketa lahan membuat rencana ini gagal terealisasi.

Warga kemudian terpaksa membangunnya secara swadaya karena jembatan menjadi akses vital untuk menuju Kelurahan Mangunharjo. Nah, saat jembatan darurat itu putus diterjang arus sungai pada Kamis (15/1/2026), cerita tentang kasus jembatan mangkrak itu pun kembali mencuat.

Ratusan warga yang memiliki keterbatasan akses terpaksa menggunakan rakit sederhana berbahan kayu dan galon untuk menyeberangi Sungai Bringin, sebelum jembatan darurat berbahan bambu kembali dibangun secara gotong royong pada Minggu (1/2).

Jembatan Darurat hanya Sementara

Terkait kasus ini, Kepala Perwakilan Ombudsman Jateng Siti Farida menegaskan bahwa keberadaan jembatan permanen di Kampung Tambaksari krusial dan mendesak, khususnya bagi bagi warga RW 7. Tim Ombudsman melihat bagaimana anak-anak dan kelompok rentan bertaruh nyawa untuk menyeberangi sungai.

"Pembangunan jembatan darurat (yang baru saja dibangun) hanya jawaban sementara; keselamatan warga tidak dapat ditawar," ujar Farida dalam keterangan tertulis yang diterima Inibaru.id, Rabu (4/2).

Anak sekolah Kampung Tambaksari terpaksa pakai getek saat jembatan darurat terputus karena hanyut. (Inibaru.id/ Sundara)

Farida menyampaikan, berdasarkan keterangan dari Lurah Mangkang Wetan, warga yang tinggal di seberang Sungai Bringin sekitar 150 keluarga atau 500 jiwa yang tersebar di RT 6-9. Artinya, ada ratusan warga yang sudah sangat menantikan terealisasinya jembatan permanen itu.

Menurutnya, selama tiga tahun Pemkot Semarang telah mengabaikan akses pelayanan publik tersebut. Hal ini perlu menjadi cacatan penting, karena bisa berdampak serius terhadap ketidakpercayaan masyarakat kepada pemerintah.

"Semarang sebagai ibu kota provinsi seharusnya menjadi contoh pelayanan publik yang baik. Jembatan ini adalah kebutuhan dasar warga, maka realiasi pembangunan jembatan permanen harus disegerakan," pintanya.

Layanan Publik adalah Hak Warga

Farida menegaskan bahwa pelayanan publik adalah hak warga negara. Maka, dia meminta BBWS dan Pemkot Semarang untuk segera mencari solusi agar realisasi pembangunan jembatan permanen yang dijanjikan bisa segera dilakukan.

"Akses jembatan juga merupakan bagian dari pelayanan publik yang inklusif dan menjadi hak seluruh warga," tegasnya. "Jadi, untuk warga Jateng yang ingin berkonsultasi atau melayangkan aduan terkait pelayanan publik, silakan menghubungi kami (Ombudsman Jateng)."

Sejauh ini, Pemkot Semarang tengah menimbang sejumlah solusi untuk mengatasi keterbatasan akses yang dialami warga Kampung Tambaksari. Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti sempat mengatakan, Pemkot tengah berkomunikasi dengan pemilik lahan agar bisa membangun jembatan di lokasi itu.

"Kalau tidak ada kesepakatan, lokasinya yang digeser dan kami akan mencari lahan milik Pemkot yang memungkinkan untuk pembangunan jembatan," ucapnya, Kamis (29/1).

Nggak Harus Selebar Rencana Awal

Sementara itu, Ketua DPRD Kota Semarang Kadar Lusman yang merupakan warga Mangkang mengatakan, agar pembangunan jembatan segera terealisasi, warga setempat mengaku nggak akan mempermasalahkan jika lebar jembatan dipersempit menjadi 3,5 meter.

Sebelumnya, desain awal jembatan adalah sekitar 6-7 meter. Menurut politikus yang akrab disapa Pilus itu, hal ini lebih realistis, mengingat desain awal jembatan memang memakan lahan yang cukup luas sehingga ada warga yang terdampak.

"Yang terpenting bagi warga saat ini adalah jembatan permanen bisa dilalui pejalan kaki, sepeda motor, dan gerobak sampah. Lehih sempit tidak apa-apa, yang penting aman dilalui," sebutnya.

Pilus mengaku telah mendesak Pemkot dan BBWS Pemali-Juwana yang membawahi pembangunan jembatan di Tambaksari untuk segera memberikan solusi, mengingat jembatan darurat yang tengah dibangun saat ini hanyalah solusi jangka pendek.

Keterbatasan akses membuat roda ekonomi, laju pendidikan, hingga layanan publik menjadi sangat terbatas. Maka, sudah menjadi kewajiban Pemkot dan pihak terkait untuk merealisasikan pembangunan jembatan permanen di tempat tersebut. Jangan mangkrak lagi ya! (Sundara/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Segarnya Nasi Pindang Kranggan Bu Bas, Legenda Kuliner Kota Semarang

30 Jan 2026

Film Korea 'Pavane' Bakal Tayang di Netflix pada 20 Februari 2026

30 Jan 2026

Tahap Final Pengajuan KH Sholeh Darat sebagai Pahlawan Nasional

30 Jan 2026

Pembangunan Jembatan Mangkang Wetan Terhalang Sengketa Lahan

30 Jan 2026

Lawan Arah Bukan Sekadar Melanggar Aturan, Tapi Soal Pola Pikir

30 Jan 2026

Antiapek, Ini Tips Jemur Baju Tetap Wangi Meski Matahari Lagi Cuti

30 Jan 2026

Bubur Krajan Limbangan, Legenda Kuliner dari Kabupaten Kendal

31 Jan 2026

Mengintip Keseruan 'The Village Barber', Reality Show Terbaru Park Bo-Gum

31 Jan 2026

Refleksi Kasus IHSG Anjlok, Tanggung Jawab Moral, dan Tradisi Lengser Keprabon

31 Jan 2026

Cuaca Ekstrem Masih Mengintai Jawa Tengah Sepekan ke Depan

31 Jan 2026

Waspada! Nanoplastik Bikin Bakteri di Air Minum Makin Kebal Disinfektan

31 Jan 2026

Kenali 6 Tanda Tubuh Kamu Sudah Kelebihan Minum Air Menurut Dokter

31 Jan 2026

Syahdunya Deburan Ombak di Pantai Bunton Cilacap

1 Feb 2026

Alasan Kita Rupawan saat Bercermin, Tapi Jelek saat Selfie

1 Feb 2026

Tradisi Nyadran, Akulturasi Budaya yang Melekat di Masyarakat Jawa

1 Feb 2026

Dari Montevideo, Terciptalah Nama Futsal: 'Sepak Bola' Mini yang Mendunia

1 Feb 2026

32 Rumah Rusak Akibat Angin Kencang, Bupati Semarang Siapkan Bantuan hingga Rp15 Juta!

1 Feb 2026

Biar Nggak Salah Olah, Ini Perbedaan Tahu Kuning dan Putih

1 Feb 2026

Selain Pemandangan Alam, Curug Citepus Cilacap Tawarkan Serunya Pengalaman

2 Feb 2026

Penyebab Pesan WhatsApp Baru Sampai Hanya saat Aplikasi Dibuka

2 Feb 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: