BerandaHits
Senin, 21 Sep 2025 22:16

Sri Mulyani Main Aman, Purbaya Main Serang; Kamu Tim Mana?

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bersama mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani saat serah terima jabatan. (Tribunnews)

Pergantian kursi Menteri Keuangan dari Sri Mulyani ke Purbaya Yudhi Sadewa membawa perubahan gaya kebijakan fiskal. Jika Sri lebih memilih “menyimpan tabungan negara” untuk jaga stabilitas, Purbaya justru langsung menggelontorkan Rp200 triliun ke bank demi menghidupkan sektor riil.

Inibaru.id – Pergantian pucuk kepemimpinan di Kementerian Keuangan ternyata nggak cuma soal kursi yang berganti. Lebih dari itu, ada pergeseran arah kebijakan fiskal yang langsung terasa. Dari Sri Mulyani yang dikenal hati-hati dan suka menyimpan “tabungan negara”, kini tongkat estafet berpindah ke Purbaya Yudhi Sadewa, yang justru memilih cepat menggelontorkan uang ke bank agar kredit lebih deras mengalir ke masyarakat.

Nah, menariknya, keduanya sama-sama bicara soal menjaga ekonomi. Bedanya, jalannya yang dipilih cukup kontras.

Sri Mulyani: Simpan untuk Stabilitas

Menjelang akhir jabatannya, Juli 2025, Sri Mulyani masih teguh pada prinsip prudent. Dia menyiapkan Saldo Anggaran Lebih (SAL) Rp459,5 triliun sebagai “tameng” APBN dari guncangan global maupun transisi politik dalam negeri. Uang ini disimpan di kas negara dan Bank Indonesia.

Eits, bukan berarti dia pasif, lo. Saat pandemi 2020–2021, Sri Mulyani sempat menaruh dana pemerintah di bank Himbara untuk memperluas Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Kredit pun sempat mengalir deras ke sektor riil. Jadi, baginya, menyimpan dana bukan parkir sia-sia, melainkan menunggu momentum yang tepat agar efeknya lebih terukur.

Purbaya: Langsung Dorong Sektor Riil

Menkeu Purbaya menggelontorkan dana besar untuk menghidupkan kredit di sektor riil. (Freepik)


Begitu dilantik awal September 2025, Purbaya langsung “tancap gas.” Nggak tanggung-tanggung, Rp200 triliun dana pemerintah dia geser dari Bank Indonesia ke bank-bank BUMN. Skemanya berupa deposito tenor 6 bulan, dengan bunga 80,5 persen dari BI-Rate.

Sebagai informasi, Bank Mandiri, BNI, dan BRI masing-masing dapat Rp55 triliun, BTN Rp25 triliun, sementara BSI kebagian Rp10 triliun. Tapi ada syarat keras: dana itu harus dipakai untuk kredit produktif, bukan beli SBN atau sekuritas. Setiap bulan, bank wajib melaporkan realisasi ke Kemenkeu.
Alasannya jelas, kata Purbaya, “Likuiditas bank kering, kredit melambat. Ekonomi butuh dorongan cepat.”

Mana yang Lebih Ampuh?

Dua strategi ini punya konsekuensi berbeda. Model Sri Mulyani bikin APBN lebih tahan banting, tapi kredit nggak otomatis naik tanpa program khusus. Sementara itu, Purbaya mendorong agar likuiditas langsung masuk ke sektor riil, meski risikonya besar kalau permintaan kredit tetap lesu.

Per Juli 2025, bunga kredit rata-rata masih 9,16 persen. Tanpa daya serap kuat dari sektor riil, tambahan likuiditas bisa saja mandek. Meski begitu, peluang sektor UMKM, manufaktur, pertanian, hingga konstruksi untuk memanfaatkan dana ini terbuka lebar.

Hm, menarik ya? Mereka memiliki jalan berbeda, namun satu tujuan; menjaga ekonomi. Sri Mulyani memilih simpanan tebal demi stabilitas, Purbaya memilih aliran deras demi geliat pasar. Siapa yang lebih tepat? Jawabannya akan terlihat beberapa bulan ke depan, saat angka kredit, investasi, dan pertumbuhan ekonomi bicara.

Mau nggak mau, kita sebagai masyarakat tentu berharap satu hal. Semoga strategi mana pun yang dipakai benar-benar bikin ekonomi makin hidup dan terasa manfaatnya sampai ke dapur rumah tangga. Betul nggak, Gez? (Siti Zumrokhatun/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengenal Sekaten, Tradisi Maulid Nabi Warisan Dakwah Wali Songo

25 Agu 2026

Indonesia Mulai Program PLTS, 14 Proyek Jadi Tahap Awal

26 Agu 2026

Wayang Klithik, Wayang Kayu Pipih yang Lahir dari Tradisi Jawa dan Bunyi "Klithik"

27 Agu 2026

DPR Targetkan RUU Perampasan Aset Disahkan 15 Desember 2026

28 Agu 2026

ARTOTEL Gajahmada Semarang Hadirkan “Layers of Living”, Pameran Dua Seniman dengan Perspektif Berbeda

28 Agu 2026

Berburu Barang Antik di Solo? Ini 3 Tempat Favorit yang Wajib Dikunjungi Kolektor

29 Agu 2026

Komdigi Larang Operator Hanguskan Sisa Kuota Internet Pelanggan

31 Agu 2026

Manuskrip Al-Qur’an Berusia 180 Tahun dari Aceh Mulai Didigitalisasi

1 Sep 2026

Transaksi Indonesia-Singapura Bisa Pakai Rupiah dan Dolar Singapura Tanpa US$

2 Sep 2026

Prabowo Targetkan Tutup 700 BUMN hingga Akhir 2026

3 Sep 2026

Saat Serayu Jadi Pengantin dalam Prosesi Manten Gethek

4 Sep 2026

Kali Odo Semarang, Sungai yang Justru Deras saat Kemarau

7 Sep 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: