BerandaHits
Minggu, 11 Apr 2020 12:09

Peneliti LIPI Duga Dentuman di Jakarta Karena Petir, Bukan Erupsi Anak Krakatau

Gunung Anak Krakatau yang mengeluarkan asap pada Senin (20/4/2015) lalu. (Tempo/Dian Triyuli Handoko)

Dentuman yang muncul secara berulang dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di DKI Jakarta dan Jawa Barat. Peneliti LIPI menduga dentuman tersebut berasal dari petir, bukan dari erupsi Gunung Anak Krakatau.

Inibaru.id – Masyakat di sebagian kawasan DKI Jakarta dan Jawa Barat digegerkan dengan dentuman yang terjadi pada Sabtu (11/4/2020), sekitar pukul 02.00 WIB. Ada dugaan jika dentuman tersebut diakibatkan oleh erupsi Gunung Anak Krakatau yang berada di Selat Sunda. Namun, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) membantahnya.

“Saya kira letusan (gunung Anak Krakatau) tipe ini cukup kecil dan tidak berpotensi menghasilkan energi suara yang besar untuk terdengar hingga jarak jauh,” kata Peneliti Madya Bidang Geofisika Terapan LIPI, Nugroho D. Hananto.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan terjadinya erupsi tipe strombolin di Gunung Anak Krakatau dengan ketinggian 500 meter terjadi pada Sabtu (11/4) pukul 00.03 WIB sebelum dentuman muncul.

Menurut Nugroho, masyarakat yang berada lebih dekat dengan Gunung Anak Krakatau seperti di pesisir selatan Lampung, Cilegon, Carita, dan sekitarnya belum melaporkan adanya dentuman. Laporan terkait dentuman justru disuarakan warga yang berasal dari lokasi yang cukup jauh dari Gunung Anak Krakatau seperti di DKI Jakarta, Depok, atau Bogor.

Dugaan dentuman yang terjadi di DKI dan Jawa Barat diduga dari petir, bukan aktivitas Gunung Anak Krakatau. (ANTARA FOTO/Bisnis Indonesia/Nurul Hidayat)

“Dengan fakta tersebut, menurut saya dentuman itu bukan terkait dengan lentusan Gunung Anak Krakatau,” lanjutnya.

Nugroho menduga dentuman terjadi karena faktor lain yang bersifat lokal. Dalam analisisnya, dentuman berasal dari suara petir. Meskipun suara yang terdengar lebih keras dan berulang dibanding biasanya.

Kepala PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM Kasbani juga menyebut nggak ada dentuman apapun yang terdeteksi di Pos Pemantauan Gunung Api di Pasauran, Carita. Hanya, dia nggak memberikan penjelasan terkait dengan fenomena yang cukup meresahkan warganet ini.

“Kalau terkait dengan Gunung Anak Krakatau dari pos yang lebih dekat saja tidak terdengar dentumannya,” jelas dia.

Anak Krakatau Tumbuh

Gunung Anak Krakatau saat erupsi Jumat 10 April 2020. (Twitter/@volcanohawk )

Berkebalikan dengan Nugroho dan Kasbani, ahli vulkanologi yang juga mantan kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Surono berpendapat, dentuman berasal dari Gunung Anak Krakatau. Erupsi bisa jadi kecil, tapi dentumannya besar.

“Gunung api meletus bukan hanya gemuruhnya saja, ada petir di sana. Bisa jadi muncul petir, suara gemuruh seperti itu,” katanya.

Suruno menjelaskan, erupsi Gunung Anak Krakatau berskala masif memang sudah lewat pada 2018 lalu. Besar kemungkinan erupsi gunung ini nggak akan mengeluarkan material yang terlempar tinggi.

Surono menyebut aktivitas gemuruh dan dentuman dari Anak Krakatau sebagai sesuatu yang wajar karena gunung ini termasuk gunung muda yang tengah tumbuh. Dentuman bisa nggak dirasakan oleh semua daerah karena gelombang suara yang merambat lambat pada tekanan udara di daerah tersebut berbeda-beda.

Nggak perlu panik berlebihan terkait dengan erupsi beberapa gunung di Indonesia belakangan ini, ya Millens! Selalu patuhi rekomendasi dari pemerintah agar tetap aman. (CNN/MG26/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Kelapa Kopyor Mahal Bukan Tanpa Alasan, Ini Fakta Menariknya

31 Jul 2026

Jemparingan, Seni Panahan Khas Mataram yang Mengajarkan Fokus dan Keteguhan Hati

1 Agu 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: