BerandaHits
Rabu, 29 Jul 2025 15:27

Merespons Perubahan Iklim, Tumbuhan Juga Bermigrasi agar Nggak Punah

Ilustrasi: Perubahan iklim membuat migrasi tumbuhan berlangsung lebih cepat. (Inibaru.id/ Galih PL)

Nggak hanya hewan, perubahan iklim juga membuat tumbuhan bermigrasi lebih cepat agar nggak punah. Bagaimana caranya dan bisakah mereka berpindah lebih cepat dari masifnya perubahan tersebut?

Inibaru.id - Seperti manusia yang mencari tempat baru yang lebih baik atau hewan yang berpindah karena lingkungan tempat tinggalnya memburuk, tumbuhan juga melakukan migrasi. Namun, karena nggak memiliki bentuk fisik untuk berpindah dengan cepat, mereka melakukannya dengan beregenerasi.

Regenerasi adalah kata yang menakutkan jika diterapkan pada manusia atau hewan, karena berarti melewati mekanisme kematian untuk menciptakan kehidupan baru di tempat lain. Inilah yang terjadi pada tumbuhan. Mereka berpindah melalui benih dan tunas baru.

Maka, jangan membayangkan pohon yang berlari atau terbang untuk berpindah. Mereka mati, tapi menciptakan populasi di wilayah yang baru. Inilah yang disebut migrasi vegetatif. Sejak zaman Holosen sekitar 9.000 tahun lalu, pohon telah menyesuaikan diri dengan cara ini sebagai respons atas perubahan iklim.

Meski perlahan, pergerakan mereka cukup luas; mengelevasi pegunungan, bahkan melintasi benua. Dikutip dari Forest Digest (21/1/2021), Wiene Andriyana mengatakan, dalam sebuah penelitian selama 30 tahun (1985-2015) rata-rata pepohonan di Amerika Utara bergeser sekitar 15 kilometer setiap dekade.

"Mereka berpindah ke barat dan utara sebagai respons terhadap perubahan iklim dan suksesi. Secara keseluruhan sekitar 45 kilometer selama 30 tahun," tulisnya dalam artikel berjudul Pohon Juga Bisa Pindah.

Bergerak Lebih Cepat

Dia mengatakan, pergeseran spasial ini lebih sensitif terhadap perubahan kelembapan, yang berhubungan erat dengan curah hujan alih-alih perubahan suhu. Dikutip dari Living on Earth (26/5/2017), pohon berdaun lebar seperti oak dan maple bergerak ke barat karena perubahan kelembapan

"Sementara itu, kelompok pohon hijau seperti pinus dan cemara akan bergerak ke utara karena perubahan suhu," tulis mereka.

Perpindahan tumbuhan itu sebetulnya merupakan satu hal yang wajar. Hal tersebut telah terjadi sejak lama. Namun, sebelumnya migrasi nggak berlangsung secepat ini. Perubahan yang cepat mengharuskan mereka berusaha keras beradaptasi untuk mengimbanginya.

Pertanyaannya, bisakah semua spesies berhasil beradaptasi dengan krisis iklim tersebut? Mereka yang gagal tentu akan mati dan mungkin mengalami kepunahan. Jika bisa berteriak, tumbuhan yang berada di ujung tanduk ini mungkin akan dengan lantang meminta bantuan kita.

Uluran Tangan dari Manusia

Ilustrasi: Kecepatan migrasi yang terbatas membuat sebagian tumbuhan mengalami kepunahan. (Times Union/Jim Franco)

Kita tahu bahwa tumbuhan bisa bermigrasi untuk menghindari dampak krisis iklim. Namun, gerakannya terbatas dan membutuhkan waktu. Sementara, pemanasan global nggak memberikan waktu yang cukup untuk mereka beradaptasi.

Maka, uluran tangan manusia sangat diperlukan dalam hal ini, sehingga muncullah konsep assisted migration. Konsep tersebut muncul sebagai upaya untuk membantu mempercepat relokasi tanaman rentan ke tempat yang lebih cocok untuk iklim mereka ke depan.

Di Inggris dan AS, muncul program-program eksperimental untuk membantu tanaman seperti coast redwood atau western larch memperluas jangkauan geografisnya hingga ribuan kilometer. Di Kanada, pemerintah juga memindahkan pohon sejauh ribuan kilometer agar bisa tumbuh dengan iklim yang sesuai.

Dalam pandangan para ekolog, ini kontroversial karena berpotensi mengganggu ekosistem lokal. Namun, pernyataan ini ditampik dengan pernyataan bahwa risiko kepunahan lebih mendesak jika nggak bertindak mulai sekarang.

Mencegah Migrasi menjadi Invasi

Rencana memindahkan tumbuhan ke tempat yang lebih nyaman untuk dihuni telah bergulir cukup lama. Namun, upaya ini membentur dinding yang cukup tinggi, yakni jangan sampai proses migrasi ini justru berubah menjadi invasi yang membuat tanaman enemik justru mengalami kepunahan.

Untuk mencegah migrasi berlangsung invasif, sejumlah peneliti pun memilih mengupayakan proses perpindahan secara alami, tapi dengan bantuan manusia, agar prosesnya bisa dipercepat. Salah satunya dengan membangun rute migrasi bagi mereka.

Di beberapa negara, infrastruktur hijau telah menjadi bagian dari kebijakan iklim. Di AS misalnya, mereka membangun "jembatan" agar satwa liar pembawa benih tanaman bisa melintasi jalan raya untuk menjangkau tempat baru atau menciptakan struktur hijau yang memungkinkan burung membawa benih lebih jauh lagi.

Selain itu, rewilding atau mengembalikan lahan ke kondisi alaminya, terutama di bantaran sungai, juga menjadi kebijakan di sejumlah negara, mengingat aliran air juga menjadi cara tumbuhan menyebarkan benih mereka, sebagaimana dikutip dari pakar konservasi AS Mark McGuire.

"Pendekatan konservasi juga perlu bervolusi. Kita tidak mungkin memulihkan segalanya kembali ke kondisi masa lalu. Kita harus dinamis dan berani merancang masa depan ekosistem yang bisa bertahan dalam iklim yang terus berubah," tuturnya, dikutip dari Time (16/2/2023).

Selama ini, tumbuhan selalu punya cara untuk beradaptasi, termasuk terhadap perubahan iklim. Yang perlu kita lakukan hanyalah memberi mereka jalan dan ruang untuk regenerasi, karena benih yang tumbuh nggak hanya akan menyelamatkan diri mereka sendiri, tapi juga mencegah kita dari kepunahan. (Siti Khatijah/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

HP Gratis dengan Rekening Digital Diusulkan untuk Penyaluran Bansos

15 Okt 2026

Dari Jepara ke Sarajevo, Merawat Ukiran dan Diplomasi yang Tak Selesai di Meja Pertemuan

16 Okt 2026

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Mengapa Salatiga Disebut Salah Satu Kota Tertua di Indonesia? Ini Sejarahnya

28 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

8 Tokoh Penting Kongres Pemuda II yang Lahirkan Sumpah Pemuda

28 Okt 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: