BerandaHits
Kamis, 18 Jun 2025 15:00

Kantung Pemblokir Sinyal, Solusi Membatasi Penggunaan Gawai di Sekolah

Ilustrasi: Meski punya manfaat, penggunaan gawai di sekolah cukup mengkhawatirkan, karena itulah penggunaannya harus dibatasi. (Getty Images)

Menerapkan kantung pemblokir sinyal 'Yondr', sejumlah sekolah di Edinburgh berhasil membatasi penggunaan gawai di kelas. Mungkinkah Indonesia meniru kebijakan ini?

Inibaru.id – Berangkat kerja sejak pagi dan baru pulang selepas makan malam membuat Aulia Lestari terpaksa memberi anak semata wayangnya yang baru duduk di bangku SD sebuah gawai. Ponsel itu selalu berada di tas sekolah sang anak agar dia bisa memantau keseharian bocah 10 tahun itu.

"Jujur, saya terpaksa melakukannya karena harus memantau kondisinya setiap saat. Saya sudah meminta izin pada Bu Tya (gurunya) agar anak saya boleh bawa ponsel. Begitu tiba di sekolah, ponsel dititipkan, nanti diambil lagi pas pulang," tutur perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan swasta di Jakarta ini.

Aulia mungkin bukan satu-satunya orang tua yang menerapkan cara ini. Keharusan bekerja yang membuat mereka absen dalam menjemput atau mengantar anak ke sekolah harus dibayar dengan fasilitas tambahan berupa gawai yang diperuntukkan khusus untuk buah hati mereka.

"Saya kurang sepakat dengan orang tua yang memberikan anaknya gawai sendiri sejak dini, apalagi ke sekolah. Sekarang saya malah melanggar aturan ini sendiri, meski terpaksa karena keadaan" terangnya, Selasa (17/6/2025). "Namun, saya pastikan ponsel itu nggak dipakai saat kegiatan belajar-mengajar!"

Memblokir Sinyal dengan Yondr

Perdebatan panjang tentang membawa ponsel ke sekolah memang nggak pernah usai. Di satu sisi, era teknologi memaksa siapa pun berdekatan dengan gawai. Namun, di sisi lain, banyak bahaya mengancam, yang disebabkan oleh keberadaan ponsel pintar ini di sekolah.

Larangan menggunakan ponsel telah berlaku di sejumlah sekolah di dunia. Portobello High School di Edinburgh, Skotlandia, mungkin menjadi salah satu sekolah yang berhasil menerapkannya. Dalam beberapa minggu terakhir, aturan ini telah diterapkan di sana.

Penggunaan kantung Yondr untuk memblokir sinyal menjadi cara jitu untuk membuat siswa nggak menggunakan ponsel selama jam pelajaran. (Scientificamerican)

Begitu bel masuk berbunyi, ratusan pelajar di sekolah tersebut akan mengantre untuk memasukkan ponsel mereka di Yondr, kantung terkunci yang bisa memblokir sinyal, yang hanya bisa dibuka di stasiun khusus yang diletakkan di aula sekolah.

Aturan yang telah berlaku sejak Mei 2025 lalu ini sengaja dibuat agar siswa fokus belajar. Selain itu, hal tersebut juga menjadi upaya sederhana untuk menumbuhkan kembali kebiasaan berinteraksi langsung di sekolah, sebagaimana dilaporkan BBC (6/6/2025).

Kantin Menjadi Lebih Ramai

Aturan meletakkan ponsel dalam kantung Yondr ini menjadi kebijakan resmi di dua sekolah menengah di Edinburgh, yakni Portobello High School dan Queensferry High School. Lewat kebijakan ini, ponsel tetap berada di saku atau tas siswa, tapi nggak bisa digunakan dengan sembarangan.

“Ponsel di kelas semakin sering jadi pesaing guru dalam merebut perhatian murid. Membatasi penggunaannya jelas menjadi langkah positif,” ungkap Joan Griffiths, Koordinator Pendidikan di Edinburgh.

Dukungan juga datang dari para orang tua. Survei sekolah menunjukkan, lebih dari 80 persen wali murid setuju kebijakan ini terus dilanjutkan lantaran memberikan dampak yang cukup positif, khususnya bagi anak-anak mereka.

Hal ini juga sejalan dengan keterangan dari kepala sekolah di kedua SMP tersebut. Mereka mencatat beberapa perubahan penting, yakni suasana kantin menjadi lebih ramai obrolan tatap muka, murid lebih aktif bermain di lapangan, dan suasana kelas jauh lebih kondusif.

Memerangi Cyber-bullying

Sistem kantung Yondr ini bukan berarti memutus total akses darurat. Ponsel tetap dibawa siswa, tapi kunci hanya bisa dibuka di stasiun yang berada di aula sekolah jika memang benar-benar mendesak. Sementara, untuk komunikasi penting, orang tua tetap bisa menghubungi sekolah.

Pihak sekolah menggaransi, selain menekan distraksi belajar, langkah sederhana ini berpotensi besar untuk memerangi cyber-bullying hingga kecanduan media sosial. Isu ini juga jadi alasan penerapan kebijakan serupa, meski dalam praktiknya belum seketat di Edinburgh, di Mataram, NTB.

Selain Mataram, sejumlah SD di Bandung, Cianjur, dan Tasikmalaya juga mencoba pendekatan serupa, lalu menyediakan nomor hotline untuk orang tua yang butuh menghubungi anaknya. Konsultan pendidikan Ina Liem mengungkapkan, larangan ini bisa diterapkan dengan sejumlah catatan.

“Larangan ponsel itu efektif di SD dan SMP. Tapi di SMA, sebaiknya ada fleksibilitas, karena di tingkat itu, ponsel juga sering dipakai belajar,” tuturnya, dikutip dari Kompas (2/4/2024).

Meniru Edinburgh, Mungkinkah?

Jika meniru Edinburgh, Indonesia tentu perlu menyesuaikan dengan kondisi. Kantong berkunci seperti Yondr memang bisa menjadi alternatif, tetapi butuh dana tambahan. Selain itu, pola pengawasan di sekolah juga harus diperkuat.

Bagi orang tua, jalur komunikasi tetap perlu dijamin, misalnya lewat hotline sekolah, sehingga mereka nggak khawatir jika butuh menghubungi anak secara mendadak, sebagaimana dikatakan Ahmad Fazani yang saat ini mengajar di sebuah sekolah swasta di Yogyakarta.

"Pembatasan penggunaan ponsel bukanlah tujuan, tapi hanyalah langkah awal. Menurut saya, esensi sebenarnya adalah untuk membangun literasi digital sejak dini, agar anak-anak bisa bijak memakai gawai," tuturnya via pesan suara, Selasa (18/6). "Jadi, diberi paham, bukan sekadar dilarang."

Edinburgh sudah membuktikan bahwa inovasi kecil bisa membawa suasana belajar lebih fokus dan hangat. Apakah Indonesia bisa meniru? Jawabannya bukan sekadar ya atau tidak, tetapi bagaimana kebijakan itu dirancang, diterapkan, dan diawasi bersama orang tua, guru, dan murid itu sendiri.

Kalau kamu, setuju nggak kalau sekolah memiliki kebijakan seperti kantung pemblokir sinyal ponsel ini, Millens? (Siti Khatijah/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Viral Buku 'Broken Strings, Begini Tanggapan Orang Tua yang Memiliki Anak Remaja

17 Jan 2026

Lebih dari Merajut Kerukunan, Tradisi Nyadran Perdamaian di Temanggung Digelar Demi Menjaga Alam

17 Jan 2026

Perselingkuhan dan Judol, Pemicu Ribuan Istri Gugat Cerai Suami di Semarang

17 Jan 2026

Perbarui Eksonim, Indonesia Revisi Penulisan Nama Sejumlah Negara Asing

17 Jan 2026

Begini Pola Pelaku Child Grooming di DIY Menguasai Korbannya

17 Jan 2026

Menyisir Jejak Pangeran Samudra, Bangsawan Majapahit yang Abadi di Puncak Kemukus

17 Jan 2026

Trik Menyimpan Pisang Biar Nggak Cepat Membusuk

18 Jan 2026

Enak dan Mengenyangkan, Begini Cerita Warung Pecel dan Brongkos Mbok Teguh Pakis, Magelang

18 Jan 2026

Ratusan Ribu Keluarga Belum Punya Rumah, Apa Rencana Pemkot Semarang?

18 Jan 2026

Ketika Wayang Klithik Menolak jadi 'Artefak' Budaya

18 Jan 2026

Gawat! Dijajah Spesies Asing, Jumlah Serangga Lokal Anjlok

18 Jan 2026

Parenting Tipe C, Gaya Asuh Fleksibel yang Bikin Anak dan Orang Tua Lebih Bahagia

18 Jan 2026

Di Korea Selatan, Siswa Pelaku Bullying Dipersulit Masuk Universitas

19 Jan 2026

Melegenda di Muntilan, Begini Kelezatan Bubur Mbah Gamping

19 Jan 2026

Terdampak Banjir, Warga Wonorejo Mulai Mengeluh Gatal dan Demam

19 Jan 2026

Antisipasi Doomscrolling, Atur Batas Waktu Youtube Shorts Anak dengan Fitur Ini!

19 Jan 2026

Opsi Layanan Kesehatan 'Jemput Bola' untuk Warga Terdampak Banjir Wonorejo

19 Jan 2026

Bijak Kenalkan Gawai dan Media Sosial pada Anak

19 Jan 2026

Bupati Pati Sudewo Kena OTT KPK! Terkait Kasus Apa?

19 Jan 2026

Jalur Pekalongan-Sragi Tergenang, Sebagian Perjalanan KA Daop 4 Semarang Masih Dibatalkan

19 Jan 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: