BerandaHits
Jumat, 20 Feb 2025 16:45

'Kabur Aja Dulu' adalah Autokritik untuk Kebijakan yang Lebih Baik

Menurut Lestari, salah satu sebab fenomena "Kabur Aja Dulu" muncul karena sulitnya akses pekerjaan. (Ist)

Diyakini sebagai bentuk keresahan generasi muda terhadap kondisi sosial dan ekonomi di Indonesia, Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menilai fenomena 'Kabur Aja Dulu' seharusnya jadi autokritik agar kebijakan lebih baik.

Inibaru.id - Berseberangan dengan sebagian pejabat negara di Indonesia yang menilai tagar #KaburAjaDulu sebagai "kampanye" negatif, Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat justru melihatnya dari kacamata yang lebih konstruktif, yakni sebagai bentuk autokritik yang menjadi dasar bagi perbaikan kebijakan dalam pembangunan nasional.

"Fenomena ini harus disikapi dengan langkah-langkah positif demi mewujudkan kebijakan yang lebih baik," kata Rerie, panggilan akrab Lestari Moerdijat saat membuka diskusi daring bertema Fenomena “Kabur Aja Dulu” dan Realitas Generasi Muda Indonesia yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (19/2) lalu.

Dimoderatori oleh Nur Amalia (Tenaga Ahli Wakil Ketua MPR RI), diskusi ini menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Yudha Nugraha (Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia-Badan Hukum Indonesia (PWNI-BHI) Kementerian Luar Negeri) dan Dr Andriyanto SH MKes (Ketua Peminatan Pemberdayaan Perempuan Prodi S2 PSDM Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga).

Turut hadir pula Hesti Aryani (Business Development Manager JANZZ Technology), Ismail Fahmi (Pendiri Drone Emprit), serta Lathifa Marina Al Anshori (Ketua Bidang Pemilih Muda dan Milenial DPP Partai NasDem).

Menjadi Wake-up Call

Fenomena 'Kabur Aja Dulu' dinilai sebagai autokritik untuk pemerintah. (Pexels)

Rerie menilai bahwa fenomena ini memiliki keunikan tersendiri. Dari perspektif sosial, "Kabur Aja Dulu" merupakan wake-up call bagi pemangku kepentingan mengenai bagaimana generasi muda menanggapi kondisi bernegara saat ini.

"Kesulitan masyarakat dalam mengakses lapangan pekerjaan akibat perubahan lanskap dunia kerja juga menjadi faktor lain yang mendorong kemunculan fenomena tersebut," ujarnya.

Meski belum ada data konkret peningkatan migrasi ke luar negeri imbas dari fenomena itu, Rerie menegaskan, kewaspadaan tetap diperlukan. Namun begitu, dia optimistis, generasi muda Indonesia akan mampu berperan sebagai garda terdepan dalam mewujudkan negara yang adil dan makmur di masa depan.

Setali tiga uang, Direktur PWNI-BHI Kementerian Luar Negeri Yudha Nugraha juga menilai, fenomena "Kabur Aja Dulu" perlu disikapi secara profesional. Dari tahun ke tahun, dia menjelaskan, migrasi global terus meningkat; melonjak dari 84 juta orang pada 1970 menjadi 280 juta orang pada 2020.

"Yang terpenting adalah bagaimana negara mengelola migrasi ini dengan baik. Namun, perlu diingat bahwa potensi tagar #KaburAjaDulu dimanfaatkan pihak nggak bertanggung jawab untuk menawarkan jalur migrasi ilegal tetap ada," tegasnya mengingatkan.

Sebuah Keniscayaan

Ilustrasi: Pemerintah seharusnya menyediakan lapangan kerja yang cukup bagi masyarakat. (Pixabay/Wal_172619)

Sementara itu, Dr Andriyanto menyoroti bahwa dalam Asta Cita, pemerintah sebenarnya telah berkomitmen untuk menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat. Dia mencatat bahwa komposisi usia kerja (15-64 tahun) di Indonesia meningkat dari 53,39 persen pada 1970 menjadi 70,72 pada 2020.

"Melihat tren itu, fenomena Kabur Aja Dulu adalah sebuah keniscayaan. Jadi, bukan semata kabur, tapi lebih kepada mencari penghidupan yang lebih baik," ulasnya. "Jika dibiarkan tanpa solusi bisa menyebabkan brain drain; tenaga profesional memilih tinggal di luar negeri dan berpotensi menghambat pembangunan nasional."

Menanggapi hal ini, pendiri Drone Emprit Ismail Fahmi pun membagikan pengalaman pribadinya yang pernah menjalani #KaburAjaDulu lantaran nggak mendapatkan pekerjaan setelah lulus doktor. Namun, bukan semata-mata "kabur", dia pergi untuk mencari pengalaman.

"Saya mencatat, ini adalah fenomena yang sudah muncul sejak 2023, ditandai dengan meningkatnya akun media sosial yang membagikan informasi tentang peluang kerja di luar negeri," ujarnya.

Migrasi Bisa Jadi Penggerak Pembangunan

Ilustrasi: Migrasi dapat menjadi penggerak utama pembangunan suatu negara. (Pixabay/Rudy and Peter Skitterians)

Adapun dari perspektif bisnis dan ekonomi, Hesti Aryani berpendapat bahwa migrasi dapat menjadi penggerak utama pembangunan suatu negara. Dia menekankan, fenomena ini jangan dipandang sebagai tindakan meninggalkan negara.

"Justru sebaliknya, ini bisa menjadi peluang untuk memperoleh manfaat jangka panjang yang dapat berkontribusi bagi pembangunan Indonesia," simpulnya.

Senada, Lathifa Marina Al Anshori juga mengajak semua pihak melihat fenomena tersebut secara positif sembari berharap mereka yang bekerja di luar negeri dapat kembali ke Tanah Air dengan membawa hal-hal positif bagi Indonesia.

"'Kabur' bukan berarti minggat, dan 'aja dulu' bersifat sementara. Jadi, lihatlah secara positif, bahwa mereka yang pergi ke luar negeri akan kembali dengan pengalaman dan ilmu yang lebih baik untuk membangun Tanah Air," tukas wartawan senior Saur Hutabarat mengiyakan pendapat Lathifa.

Jadi, janganlah terlalu defensif, seharusnya para pemangku kepentingan justru menjadikan fenomena ini sebagai bahan refleksi untuk menciptakan kebijakan yang lebih memihak para pencetus tagar #KaburAjaDulu ini. Gimana menurutmu, Millens? (Siti Zumrokhatun/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Ragam Upacara Adat Jawa dari Kehamilan hingga Kematian, Sarat Makna dan Nilai Kehidupan

18 Jul 2026

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: