BerandaHits
Jumat, 5 Agu 2021 15:00

Heboh Fenomena Surya Pethak Alias Matahari Putih Ramalan Sabdo Palon, Tanda Kiamat?

Ilustrasi: Surya pethak ramalan Sabdo Palon Noyo Genggong tanda kiamat atau pergantian zaman. Sedang terjadi? (Flickr/ Ivan Radic)

Belakangan ini warganet membahas soal surya pethak yang masuk dalam ramalan Sabdo Palon. Kabarnya sih, fenomena alam ini sedang terjadi di Indonesia dan menandakan pergantian zaman atau tanda kiamat. Beneran nggak sih sedang terjadi?

Inibaru.id – Usai heboh membahas suhu dingin, kini warganet Indonesia juga membahas tentang fenomena surya pethak alias matahari putih.

Kabarnya sih, fenomena ini adalah salah satu ramalan Sabdo Palon Noyo Genggong yang menandakan akhir zaman alias kiamat. Sebenarnya, apakah fenomena ini memang semeresahkan ini?

Kehebohan ini sampai ke LAPAN. Salah satu penelitinya di bagian Pusat Sains Antariksa (Pussainsa) Andi Pangerang sempat membaca isu soal surya pethak ini. Kalau dalam ramalan sih, disebutkan bahwa surya pethak adalah tanda akan terjadi pergantian zaman dari yang lama ke baru.

Surya pethak berasal dari Bahasa Jawa yang artinya matahari yang terlihat putih. Ada juga makna lainnya, yakni kondisi di mana siang hari terlihat seperti temaram layaknya senja atau malam hari. Nah, saat terbit, matahari akan terlihat lebih kemerahan.

Namun, saat tenggelam justru terlihat memutih. Sementara itu, saat di tengah hari, sinar matahari justru nggak begitu terik karena terus tertutupi awan atau kabut.

Dalam ramalan Sabdo Palon Noyo Genggong ini, disebutkan bahwa surya pethak ini bakal berlangsung sekitar 7 sampai 40 hari. Dampaknya, suhu permukaan bumi bakal menurun dan tumbuhan pun sulit untuk tumbuh. Manusia pun bakal kesulitan mendapatkan bahan makanan karena tumbuhan yang sulit untuk berkembang.

Andi menyebut fenomena surya pethak sebenarnya sering terjadi di musim hujan. Maklum, di musim ini awan cenderung lebih banyak menutupi langit. Selain saat musim hujan, jika ada fenomena gunung meletus atau berubahnya sirkualsi air laut juga bisa membuat penguapan terjadi dengan tinggi dan awan pun jadi lebih mudah terbentuk.

Beberapa saat lalu, sejumlah daerah di Indonesia sempat mengalami fenomena mendung di musim kemarau yang biasanya cerah. Hal ini nggak serta merta berarti sedang terjadi surya pethak. (Flickr/chwarzwert-naturfotografie)

Memang, di beberapa tempat di Tanah Air, beberapa hari lalu lebih gelap dari biasanya karena awan mendung. Maklum, kita sedang berada di musim kemarau di mana biasanya langit bersih dari awan. Kalau dikaitkan dengan surya pethak, bisa jadi nggak pas. Yang dimaksud dengan surya pethak adalah kabut awan yang benar-benar menutupi seluruh langit bumi sehingga sinar matahari pun nggak bisa mencapai permukaan bumi.

Menariknya, fenomena surya pethak ini pernah benar-benar terjadi lo. Kalau yang paling dekat dengan zaman sekarang adalah pada 1645 sampai 1715. Saat itu, dunia bahkan sampai mengalami “Zaman Es Kecil”.

Nah, Andi menyebut fenomena surya pethak besar kemungkinan nggak terjadi dalam waktu dekat. Meski begitu, jika terjadi bencana yang cukup ekstrem seperti letusan gunung berapi yang cukup besar atau mengeluarkan abu yang sangat banyak, hingga berubahnya sirkulasi air laut yang nggak terprediksi, bisa jadi fenomena yang mirip bakal terjadi.

Hm, kalau kamu, percaya dengan fenomena surya pethak yang ada di ramalan Sabdo Palon nggak nih, Millens? (Kum/IB09/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Ragam Upacara Adat Jawa dari Kehamilan hingga Kematian, Sarat Makna dan Nilai Kehidupan

18 Jul 2026

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: