BerandaHits
Jumat, 13 Nov 2025 13:01

Hasil Riset BRIN; Kadar Toksikan Vape Lebih Kecil daripada Rokok Konvensional

Ilustrasi: Kandungan zat berbahaya (toksikan) rokok elektrik lebih kecil ketimbang rokok konvensional. (iStock via Kompas)

BRIN mengungkap hasil riset mengenai kandungan zat berbahaya dalam rokok elektrik (vape), yang menunjukkan kadar toksikan seperti formaldehida, akrolein, dan benzena jauh lebih rendah dibanding rokok konvensional, tapi tetap memerlukan pengawasan mutu dan standardisasi ketat.

Inibaru.id - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Teknologi Pengujian dan Standar resmi memaparkan hasil kajian laboratorium pertama di Indonesia yang meneliti kandungan zat berbahaya dalam rokok elektrik (vape) berbasis cairan.

Kajian bertajuk “Evaluation of Laboratory Tests for E-Cigarettes in Indonesia Based on WHO’s Nine Toxicants” itu disampaikan dalam Konferensi Pers Kajian Rokok Elektrik di Indonesia yang digelar BRIN di Jakarta, Selasa (11/11/2025).

Dalam kesempatan tersebut, Peneliti BRIN Bambang Prasetya menjelaskan bahwa penelitian ini dilakukan terhadap 60 sampel vape dari berbagai merek dan kadar nikotin yang beredar di pasaran, serta tiga jenis rokok konvensional sebagai pembanding.

“Ini mewakili berbagai merek dan kadar nikotin di pasaran, serta tiga jenis rokok konvensional sebagai pembanding,” kata Bambang.

Pengujian laboratorium difokuskan pada kandungan sembilan senyawa toksikan utama yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu formaldehida, asetaldehida, akrolein, karbon monoksida, 1,3-butadiena, benzena, benzo[a]pyrene, serta dua nitrosamin spesifik tembakau (NNN dan NNK).

Lebih Rendah dari Rokok

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar senyawa toksikan utama pada emisi vape secara signifikan lebih rendah dibanding rokok konvensional, dengan rincian:

  1. Formaldehida: 10 kali lebih rendah
  2. Akrolein: 115 kali lebih rendah
  3. Benzena: 6.000 kali lebih rendah
  4. Karbon monoksida, 1,3-butadiena, benzena, NNN, dan NNK tidak terdeteksi sama sekali

Bambang menegaskan bahwa temuan ini memberikan landasan ilmiah baru untuk memahami profil toksikologi produk tembakau alternatif di Indonesia.

“Hasil kajian kami menunjukkan emisi dari rokok elektrik memang mengandung kadar toksikan yang jauh lebih rendah. Ini jika dibandingkan rokok konvensional,” ujarnya.

Meskipun demikian, Bambang menambahkan bahwa sejumlah senyawa berbahaya seperti formaldehida, asetaldehida, dan benzo[a]pyrene tetap ditemukan, meski dalam jumlah jauh lebih kecil.

“Fakta ini menunjukkan bahwa rokok elektrik ini lebih rendah risiko. Namun, tetap diperlukan pengawasan mutu dan standardisasi pengujian yang ketat untuk menjamin keamanan pengguna,” tegasnya.

Fondasi Kebijakan Berbasis Sains

Riset tentang kadar toksikan pada rokok elektrik ini merupakan langkah awal BRIN dalam upaya memperkuat fondasi data ilmiah nasional terkait produk tembakau alternatif. (Kemenkes)

Kajian ini disebut sebagai tonggak awal BRIN dalam memperkuat fondasi data ilmiah nasional terkait produk tembakau alternatif dan teknologi nikotin di Indonesia.

Melalui riset ini, BRIN berupaya memastikan agar kebijakan publik di bidang pengendalian tembakau dapat disusun secara proporsional dan berbasis bukti ilmiah (evidence-based policy making).

“Temuan ini menjadi langkah awal dalam membangun fondasi ilmiah kebijakan tembakau di Indonesia. Dengan memahami profil toksikan berbagai produk nikotin secara akurat, pemerintah dan masyarakat dapat mengambil keputusan lebih bijak dan berbasis bukti,” kata Bambang.

Lebih dari sekadar publikasi riset, kegiatan diseminasi ini juga menjadi sarana BRIN untuk menjembatani sains dengan kebijakan publik.

Meningkatkan Literasi Sains

Forum tersebut mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari akademisi, peneliti, kementerian dan lembaga pemerintah, hingga pelaku industri, untuk menafsirkan hasil riset secara objektif dan membangun pemahaman yang lebih komprehensif terhadap isu rokok elektrik.

Melalui pendekatan kolaboratif, BRIN menegaskan komitmennya untuk mendorong riset lintas sektor, memperkuat kapasitas pengujian nasional, serta meningkatkan literasi sains dan komunikasi risiko di masyarakat.

Dengan demikian, hasil penelitian ini nggak berhenti sebagai publikasi ilmiah semata, tetapi juga diharapkan menjadi rujukan kredibel dalam perumusan kebijakan yang melindungi kesehatan masyarakat sekaligus mengakomodasi dinamika inovasi industri di Indonesia.

“BRIN mendorong agar riset tidak berhenti di laboratorium, tapi juga terintegrasi dalam proses penyusunan regulasi dan kebijakan publik. Selain melindungi kesehatan masyarakat, kolaborasi lintas sektor ini memastikan keputusan yang diambil juga mendorong inovasi yang bertanggung jawab di industri dalam negeri,” tutupnya.

Semoga hasil penelitian ini bermanfaat ya, Gez! (Siti Khatijah/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Ragam Upacara Adat Jawa dari Kehamilan hingga Kematian, Sarat Makna dan Nilai Kehidupan

18 Jul 2026

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: