BerandaHits
Minggu, 19 Jun 2021 10:00

Benarkah Pekerja Jalan Anyer-Panarukan Sebenarnya Dibayar, Bukannya Kerja Paksa?

Jalan Anyer-Panarukan kini. Kabarnya dulu saat dibangun di masa Daendels, ada kerja paksa. Benar, nggak sih? (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)

Kabarnya, Daendels sebenarnya sudah menyiapkan uang bagi para pekerja proyek jalan Anyer-Panarukan. Tapi uang ini dikorupsi bupati pribumi. Benar apa nggak ya?

Inibaru.id – Kalau membahas tentang sejarah Jalan Raya Anyer-Panarukan alias Jalan Raya Pos, yang terpikir pertama tentu adalah kerja rodi di bawah pemerintahan Daendles. Belakangan muncul opini yang menyebut sebenarnya Daendles membayar para pekerja namun uang bayaran tersebut dikorupsi pejabat daerah. Lho, mana yang benar, ya?

Kalau kamu masih menerka-nerka di mana sih jalan Anyer-Panarukan itu, kamu pasti lebih sering mendengar istilah Pantura. Dalam buku-buku sejarah, tertulis kalau banyak orang yang dipaksa untuk membangun jalan tersebut hingga meninggal.

Nah, akun Twitter @mazzini_gsp justru mengungkap hal lain. Menurutnya, sebenarnya para pekerja proyek jalan ini sebenarnya dibayar, lo.

Betul, bikin jalan Anyer-Panarukan itu yang kerja dibayar. Daendles kasih duit 30 ribu Ringgit lebih untuk gaji dan konsumsi yang kerja juga mandor, udah dikasih ke bupati. Nah, dari bupati ke pekerja ini nggak nyampe duitnya. Akhirnya kita taunya itu kerjaan gak dibayar (kerja paksa), tulis akun tersebut pada Senin (8/2/2021).

Kontan cuitan ini bikin perdebatan orang-orang yang suka membahas sejarah. Sebagai contoh, Sejarawan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Asvi Adam ternyata mengiyakannya. Dia merujuk pada penelitian sejarawan lain, Djoko Marihandono. Dalam penelitian ini, disebutkan kalau proyek jalan ini ada di arsip sejarah Prancis.

Mengapa Prancis? Saat Daendles memerintah Hindia Belanda, Prancis saat itu menguasai Belanda. Jadi, sebenarnya dulu kita secara nggak langsung dikuasai Prancis.

Pembangunan Jalan Anyer - Panarukan dimulai pada 1808. (Indozone/Wikipedia)

Nah, di arsip itu, disebutkan bahwa Daendles sudah menyiapkan uang untuk membayar para pekerja untuk proyek Jalan Raya Pos. Sayangnya, uang itu dikorupsi, meski nggak jelas seberapa banyak uang yang hilang.

Sejarawan lain, Peter Carey juga mengiyakannya. Dia menyebut yang bertanggung jawab atas uang tersebut adalah para bupati dan petinggi pribumi karena merekalah yang mengurus langsung para pekerja. Akibatnya, banyak pekerja yang meninggal dalam proyek ini.

“Buruh kasar yang digerakkan meninggal dunia diduga antara 7.000 – 14.000 orang,” terang Carey.

Namun, data soal berapa banyak uang yang disiapkan untuk proyek yang dimulai pada 1808 ini juga masih nggak lengkap. Khusus untuk dana 30 ribu Ringgit, ternyata hanya untuk proyek Batavia – Buitenzorg (Jakarta – Bogor). Sementara itu, pembangunan jalan Buitenzorg – Kandanghaur (wilayah di Cirebon) memakai uang kredit yang juga dikeluarkan oleh Daendels.

Di proyek terakhir, tercatat para pekerja diberi uang 4 Ringgit untuk bekerja sebulan. Mereka juga diberi 4 gantang serta garam. Nah, yang memberikan upah ini adalah para bupati di wilayah tempat proyek dilakukan.

Untuk yang proyek lainnya di Pantura hingga Panarukan, Daendels berkoordinasi dengan para bupati pribumi. Masalahnya, dana yang diberikan juga nggak banyak. Nah, dari inilah kemudian muncul ide heerendiesten alias tenaga kerja wajib yang kemudian kita kenal sebagai kerja paksa.

Yang menarik, yang melakukan kerja paksa ini kebanyakan adalah budak atau orang-orang kriminal. Mereka bekerja dengan dirantai kakinya sebagai hukuman atau pengabdian.

Jadi, sebenarnya memang ada kerja paksa di pembangunan Jalan Anyer-Panarukan, ya, Millens. Meski nggak memungkiri juga ada pekerja yang digaji dan dana yang dikorupsi di proyek ini. (Det/IB09/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

TikTok Jadi Media Sosial Paling Sering Diakses Warganet Indonesia pada 2026

16 Jun 2026

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Warga Jateng Diminta Sambut Petugas dengan Baik

17 Jun 2026

Keraton Solo Keluarkan 14 Pusaka dan Kebo Bule dalam Kirab Malam 1 Suro

17 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: