BerandaHits
Rabu, 26 Jan 2021 10:30

Aneh Tapi Nyata, Australia Pernah Perang dengan Burung, dan Kalah

Australia pernah perang dengan burung Emu, tapi mereka kalah. (Flickr/Ed Dunens)

Australia jadi satu-satunya negara dalam sejarah yang pernah melakukan perang militer dengan burung, tepatnya burung Emu. Secara luar biasa, mereka kalah. Kok bisa, ya?<br>

Inibaru.id - Kamu pernah terpikir nggak ada negara yang melakukan perang dengan burung? Meski terlihat nggak masuk akal, hal ini benar-benar terjadi, lo. Negara yang melakukannya adalah tetangga kita, Australia. Seperti apa sih cerita lengkapnya?

Dalam sejarah, beberapa perang memang pernah terjadi karena ada permasalahan yang berhubungan dengan hewan. Perang antara Inggris dan Amerika Serikat pada 1859 misalnya, pernah terjadi hanya gara-gara seekor babi yang tertembak di teritori AS. Perseteruan ini akhirnya tercatat dalam sejarah dengan sebutan Perang Babi.

Lalu, Brasil dan Prancis juga pernah bertikai hanya karena memperebutkan kedaulatan atas laut tempat berburu lobster. Memang nggak ada korban jiwa dalam perang ini. Namun, sejarah mencatat perang ini dengan Perang Lobster.

Hanya, dua contoh perang ini sama sekali nggak bisa dibandingkan dengan perang yang pernah dilakukan Australia. Bagaimana nggak, kok bisa-bisanya mereka mendeklarasikan perang melawan Emu, burung berukuran besar yang memang banyak ditemukan di negara tersebut.

Ilustrasi - Para tentara berperang dengan burung Emu di Australia. (Historia)<br>

Jadi, perang ini berlangsung di akhir Perang Dunia (PD) I. Saat itu, kemarau panjang sedang melanda Australia. Nggak ingin hal ini sampai memicu kekurangan bahan pangan, pemerintah pun mencari tanah untuk ditanami gandum. Masalahnya, saat menggarap tanah tersebut, mereka diganggu oleh kawanan burung Emu yang juga terdampak kemarau.

Burung asli Australia itu habitatnya adalah wilayah tengah benua. Hanya, karena kemarau panjang, mereka bermigrasi hingga ke barat Australia demi mencari air. Padahal, di tanah tersebut, sedang ditanami gandum. Puluhan ribu Emu ini kemudian merusak ladang gandum karena menganggapnya sebagai makanan gratis.

Nggak hanya itu, burung-burung ini bahkan sampai merusak pagar-pagar lahan pertanian sehingga membuat hewan lain seperti kelinci ikut merusak ladang gandum. Saking parahnya kerusakan yang terjadi, para petani sampai meminta bantuan pemerintah dan militer. Pemerintah yang nggak ingin terjadi gagal panen akhirnya mengabulkan permintaan para petani ini.

Mayor GPW Meredith pun diutus untuk memimpin tentara dari pasukan artileri untuk berperang melawan Emu pada Oktober 1932. mereka bahkan sampai dilengkapi persenjataan yang dipakai dalam PD I. Para petani pun mendukung para tentara dengan menyediakan makanan.

Membunuh burung emu nggak mudah, mereka pandai berkelit. (Pixabay)<br>

Masalahnya, perang melawan Emu sama sekali berbeda dengan melawan tentara dari negara lain. Emu sangatlah cepat saat berlari dan pandai berkelit. Ratusan peluru diberondong para tentara, namun hanya puluhan Emu yang terbunuh. Padahal, jumlah Emu yang menyerang lahan pertanian puluhan ribu. Meski di sisi manusia nggak ada korban jiwa sama sekali, jumlah Emu yang mati dalam perang ini nggak sampai lebih dari 500 ekor.

Pemerintah tiba-tiba menyatakan menang perang atas Emu sehingga para tentara pun ditarik kembali ke Canberra. Namun, para petani nggak merasa menang. Nyatanya, lahan gandum mereka terus dirusak oleh kawanan Emu yang makin bertambah. Para petani pun berkali-kali meminta bantuan militer lagi, namun pemerintah kali ini menolaknya. Alasannya, mereka nggak mau lagi melakukan pembunuhan massal pada burung.

Meski nggak ada pernyataan bahwa Australia kalah perang melawan Emu, kasus ini pun jadi olok-olok banyak negara. Mereka dianggap kalah perang melawan burung yang bahkan nggak dilengkapi persenjataan.

Uniknya, Emu justru dijadikan lambang negara Australia bersama dengan Kanguru. Hewan ini pun kini dilindungi. Jadi, nggak bakal lagi deh diperangi.

Kasus yang cukup unik ya, Millens. Ternyata, ada juga negara yang perang dengan burung dan justru kalah. Kita nggak usah ikut-ikutan yang begini ya. (Ind/IB09/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Cantiknya Pemandangan Pantai Dasun Lasem, Kabupaten Rembang

3 Mar 2026

Saat Takjil War, Waspada dengan Sejumlah Pembungkus Takjil Nggak Sehat Ini

3 Mar 2026

OTT Edisi Ramadan, KPK Bawa Bupati Pekalongan Fadia Arafiq ke Jakarta

3 Mar 2026

Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto, Jemaah Maiyah yang Lantang Kritik Program MBG

3 Mar 2026

Tren 'Grading Card', Autentifikasi Kartu Koleksi agar Nilai Jual Lebih Tinggi

3 Mar 2026

Mulai Maret Ini, Anak di Bawah 16 Tahun Dibatasi Main Medsos

3 Mar 2026

Kartu Mebel Jepara, 'Tiket Emas' biar UKM Ukir Naik Kelas

3 Mar 2026

Sejuk dan Alami, Begini Keindahan Air Terjun Kyai Buku Jepara

4 Mar 2026

Sepanjang 2025, Uang Hilang Setara Rp355 Miliar di Jepang Kembali ke Pemiliknya

4 Mar 2026

Opsi 'Sekolah Swasta Gratis' Akan Terintegrasi dengan SPMB 2026 di Kota Semarang

4 Mar 2026

Ponpes Raudhatul Qur'an; Cetak Ratusan Hafiz dengan Biaya Bulanan Murah Meriah

4 Mar 2026

Menguliti Asal Usul Nama Kurma

4 Mar 2026

Tragedi Cinta Mangir-Pembayun; Saat Asmara Jadi Senjata Penakluk Mataram

4 Mar 2026

Aneka Festival Musim Semi di Korea Selatan yang Bisa Kamu Datangi

5 Mar 2026

Benar Nggak Sih Sawit Bakal Menyelamatkan Indonesia dari Krisis Energi Global?

5 Mar 2026

Wajibkan Pencairan Maksimal H-7 Lebaran, Jateng Aktifkan Posko THR untuk Pengaduan

5 Mar 2026

Uji Coba Bus Listrik untuk Transportasi Publik yang Inklusif dan Ramah Lingkungan

5 Mar 2026

Kekerasan Seksual vs Main Hakim Sendiri; Undip Tegaskan Nggak Ada Toleransi!

5 Mar 2026

Siap-Siap Gerah! Kemarau 2026 Diprediksi Datang Lebih Cepat dan Lebih Kering

5 Mar 2026

Kok Bisa Sih Cadangan Minyak Indonesia Cuma 20 Hari?

6 Mar 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: