BerandaFoto Esai
Senin, 30 Jul 2023 09:00

Mural Legenda Rakyat di Sudut-Sudut Desa di Lereng Muria

Mural tentang cerita rakyat menjadi tontonan para pengendara motor di jalan raya di pusat kota Kudus. (Inibaru.id/ Hasyim Asnawi)

Bukan kritik sosial, sejumlah mural yang memperindah Desa Lau di Kabupaten Kudus justru berisikan folklor dan legenda rakyat yang banyak dikenal di sekitar Lereng Muria.

Inibaru.id - Ketika ditemukan di gua Lascaux, Dordogne, Prancis, yang diduga dibuat pada zaman prasejarah, mural telah berwujud cerita dengan pesan mendalam. Hal serupa juga dilakukan Pablo Picasso kala melukis Guernica, mural paling terkenal di dunia yang berisikan pesan anti-perang di dinding Basque pada 1937.

Hingga kini, mural atau lukisan beralas dinding yang biasanya digambar di tembok jalan, memang acap dijadikan sebagai bentuk satire, kritik, atau penanda suatu situasi sosial yang merepresentasikan masyarakat di wilayah tersebut. Pesannya kebanyakan sangat kuat, tapi dibalut dengan artistik.

Hal itu pula yang coba disampaikan dalam Spray your Folklore, sebuah event seni mural di Kabupaten Kudus yang digagas Komunitas Kampung Budaya Piji Wetan (KBPW), belum lama ini. Mengangkat tema "cerita rakyat", pesta street art tersebut melibatkan belasan pelukis jalanan dari Kudus dan sekitarnya.

Dipusatkan di Beberapa Titik

Koordinator Spray your Folklore Fakhri Husaini mengungkapkan, event ini dipusatkan di sejumlah titik di Desa Lau, Kecamatan Dawe. Namun, ada satu mural yang dibikin di pusat kota, tepatnya di dekat alun-alun. Temanya adalah seputar folklor atau cerita rakyat di sekitar Lereng Muria.

"Mewacanakan cerita rakyat lewat mural itu menarik," terang Fakhri. "Kami ingin memantik gagasan para pelukis street art muda di Kudus sekaligus menepis anggapan bahwa seni mural identik dengan gaya urakan, vandal, dan nggak bermoral."

Menurutnya, selama ini mural memang acap dianggap sangat dekat dengan vandalisme. Padahal, banyak gagasan dan wacana menarik yang bisa disampaikan lewat mural. Karena itulah dia berharap event yang digawanginya itu mampu menggeliatkan kembali ekosistem mural di Kudus.

"Saya percaya para pelukis mural ini keren dan idenya bagus-bagus. Jadi, harapan kami, event ini bakal memantik para street art di Kudus dan sekitarnya untuk menciptakan gerakan mural yang lebih besar dan meriah, tentunya dengan cara yang positif dan bisa melibatkan banyak pihak," imbuhnya.

Mural Sunan Muria

Kalau kebetulan tengah melintas di Desa Lau, kamu mungkin akan menjumpai sejumlah mural yang terpampang cukup mencolok di tembok jalanan. Sebagian mural berkisah tentang folklor seputar Sunan Muria; sebagian sisanya adalah legenda dan mitos yang cukup familiar di seputar Lereng Gunung Muria.

Dikerjakan selama tiga hari penuh, sekurangnya ada enam titik berbeda yang dijadikan media mural di desa tersebut serta satu titik di pusat kota. Kebanyakan mural digambar dengan teknik semprot dan lukis, meski ada pula yang memakai teknik stensil.

Yapot Murdianto, pelukis mural asal Semarang yang terlibat dalam proyek tersebut karena diajak kawannya itu mengaku tertarik dengan event ini karena idenya yang "beda". Menurutnya, menggambar mural yang berangkat dari cerita rakyat sangat menarik lantaran mural biasanya berisi kritik sosial.

"Mural masuk desa, tentu juga sangat menarik," seru Yapot di tengah kesibukannya melukis. "Masyarakat desa yang masih lekat dengan mitos dan cerita rakyat, saya kira akan lebih mudah menangkap pesan melalui mural (folklor) yang kami gambar."

Warna Baru di Desa

Yapot atau yang biasa disapa Inonk mengaku bersyukur telah menerima ajakan temannya yang berasal dari Kudus untuk turut serta dalam proyek ini. Dia meyakini, menyampaikan folklor lewat mural menjadi warna baru bagi masyarakat, khususnya yang tinggal di perdesaan.

Pada kesempatan tersebut, Inonk memilih membuat mural tentang Muria dan berbagai potensi di dalamnya. Dengan karakter lukisan yang lugas, lelaki bertopi dengan rambut sebahu ini menggambar gunung Muria yang molek dengan aksen warna-warni.

"Ada tagline 'Asah, Asih Asuh' sesuai tema yang diusung pihak penyelenggara," terangnya.

Sementara, Danangsu, pelukis mural asal Kudus, memilih mural berupa sosok ibu yang mengayomi. Dalam lukisan tersebut, tergambar sesosok perempuan dengan tangan dalam posisi bertapa, lengkap dengan simbol-simbol berupa tasbih dan bunga.

"(Lewat mural) saya mau menyampaikan, ada satu wadah yang bisa menjadi perekat antar-masyarakat dari berbagai tempat dan latar belakang, serta perjalanan dari awal hingga akhir dalam membentuk warga yang guyub rukun, kompak, dan melestarikan budaya lokal di daerahnya," tandasnya.

Yap, dari proyek ini kita belajar bahwa dengan sudut pandang yang tepat, alih-alih menjadi aksi vandalisme, seni mural sejatinya justru bisa menambah keindahan dan punya potensi yang besar untuk mengedukasi masyarakat perdesaan. Sepakat, Millens? (Hasyim Asnawi/E03)

Menggambar mural di tembok yang kurang rata menggunakan cat semrot.
Seorang pelukis mural asal Sragen tengah menyiapkan alat-alat berupa kertas, cat semprot, dan sebelum memulai aksinya. Teknik stensil menjadi andalannya.
Dengan penuh ketelitian, pelukis mengoleskan kuasnya di salah satu sudut di Sendang Kamulyan, Dukuh Pranak, Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus.
Aksi pelukis mural di belik Sendang Kamulyan yang berada di Dukuh Pranak, Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus.
Selepas melukis mural, tangan punjadi belepotan cat warna-warni.
Sepelemparan batu dari perempatan, seorang writer, sebutan untuk pelukis mural, tampak asyik melukis berkanvas tembok dengan tema 'Punokawan Cekelan Mangkok'.
Mengaduk cat sebelum memoles dinding desa dengan mural bertema folklor di Kudus.
Dalam terik matahari, seorang pelukis mural memilih tetap melanjutkan pekerjaannya sembari mengenakan penutup kepala seadanya agar terhindar dari hawa panas yang menyengat.
Mural bertema folklor dengan grafiti warna-warni menghiasi satu sudut di Piji Wetan, Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus.
Mural berbasis cerita rakyat di tembok pembatas jalan raya di salah satu sudut di pusat kota Kudus menjadi tontonan para pengendara motor yang melintas.

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Belajar dari Burung Dodo: Ketika Dunia Berubah, Bertahan Saja Tidak Cukup

1 Mei 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: