BerandaFoto Esai
Senin, 8 Okt 2023 09:00

Memburu Berkah sang Nabi dalam Kirab Ampyang Maulid di Masjid Wali

Kirab Ampyang Maulid di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus berlangsung tiap 12 Rabiul Awal dalam kalender Hijriyah, yang tahun ini jatuh pada 28 September. (Inibaru.id/ Hasyim Asnawi)

Kirab Ampyang Maulid di Masjid Wali, Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus adalah bentuk perayaan kelahiran Rasulullah yang selalu dihadiri ribuan orang yang memburu berkah sang nabi.

Inibaru.id - Demi mengharapkan berkah dari Nabi Muhammad, ribuan warga Kudus tampak setia berbaris berjajar di halaman Masjid Wali Loram Kulon, akhir September silam. Terik matahari yang begitu menyengat agaknya nggak menyurutkan minat mereka untuk ikut andil dalam tradisi tahunan tersebut.

Hari itu bertepatan dengan 12 Rabiulawal kalender Hijriyah. Bagi umat Islam, tanggal tersebut merupakan hari istimewa karena mereka memperingati hari kelahiran sang Rasul, yang dikenal dengan sebutan Maulid Nabi.

Di banyak tempat, masyarakat muslim berkumpul untuk merayakan Maulid Nabi, nggak terkecuali di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Setiap tahun, warga setempat memperingatinya dengan menggelar tradisi Kirab Ampyang Maulid yang dipusatkan di Masjid Wali.

Nggak hanya diikuti warga setempat, tradisi ini juga dihadiri ribuan orang yang berasal dari berbagai daerah. Mereka sukarela berpanas-panas, berdesak-desakan, berdiri berjajar, untuk menunggu rombongan kirab yang dijadwalkan tiba pukul 14.00 WIB.

Festival Desa Loram Kulon

Kirab Ampyang Maulid merupakan puncak dari perayaan Maulid Nabi di Desa Loram Kulon. Tiap tahun, tradisi ini selalu dikemas dalam wujud festival desa lengkap dengan pasar UMKM dan panggung seninya, yang berisikan rangkaian lomba, pergelaran seni, dan kirab.

Kirab di desa ini terbilang unik karena yang diarak adalah ampyang atau kerupuk. Camilan renyah itu merupakan kondimen wajib yang harus disertakan dalam gunungan kirab. Adapun untuk kondimen lain bisa variatif, mulai dari nasi kepal khas Desa Loram hingga hasil bumi seperti sayur dan buah.

Berbagai kreasi ditampilkan para peserta Kirab Ampyang Maulid. Untuk tahun ini, yang menarik adalah penampilan cosplay para tokoh dari Loram Kulon, di antaranya putri Sunan Kudus Dewi Probodinabar dan suaminya, Sultan Hadirin.

Selain itu, ada pula deretan orang yang memerankan sosok Ratu Kalinyamat (istri Sultan Hadirin yang lain), Mbah Soleh Haji, Mbah Gede Loram, dan Ki Ageng Gulang. Mereka diikuti oleh para anak yang siang itu mengenakan kostum karnaval dari limbah plastik.

Menjadi Etalase Budaya

Beragamnya aksi dan atraksi pada Kirab Ampyang Maulid ini membuat pelataran Masjid Wali di Desa Loram Kulon laiknya etalase budaya bagi masyarakat. Pengurus Takmir Masjid Wali Afroh Aminudin mengatakan, pihaknya memang sengaja ingin memvisualisasikan tradisi dan budaya di lingkungannya.

"Misal, di rombongan ini ada visualisasi Nganten Mubeng. Itu tradisi khas Loram Kulon," kata Afroh yang nggak lupa menjelaskan bahwa Nganten Mubeng adalah tradisi mengarak calon pengantin yang telah membudaya di Desa Loram Kulon.

Kirab Ampyang, lanjutnya, juga merupakan bentuk tradisi yang terus mereka pertahankan. Masyarakat masih percaya bahwa gunungan dan nasi kepal yang dikirab itu membawa berkah. Karena itulah para penonton mau sukarela menunggu, lalu berdesak-desakan untuk berebut gunungan.

Hal tersebut nggak dimungkiri Oni, warga Loram Kulon yang tiap tahun turut memeriahkan tradisi Kirab Ampyang Maulid. Sembari menikmati nasi kepal yang didapatkannya, dia mengaku mengikuti tradisi tersebut karena mengharapkan berkah dari Nabi Muhammad.

"Ngalap keberkahan di Ampyang Maulid memang begini, sambil berebut. Seru dan meriah," serunya, yang sejurus kemudian telah kembali meringsak ke kerumunan untuk berebut gunungan.

Sajian Khas Ampyang Maulid 

Menurut penuturan Oni, nasi kepal memang menjadi ciri khas dari gelaran Kirab Ampyang Maulid di Desa Loram Kulon tersebut. Sajian nasi yang ber-duduh (lodeh) tahu dengan lauk ayam atau daging yang dibungkus daun pisang ini nggak selalu tersedia setiap hari.

Selain menjadi bagian dari gunungan yang jadi bahan rebutan, nasi kepal biasanya juga disertakan dalam gunungan utama yang setelah didoakan bersama bakal dibagikan secara gratis pada akhir acara. Gunungan ini nggak ikut dikirab, tapi sengaja disajikan panitia untuk seluruh pengunjung.

Menjelang sore, kirab tahunan ini berakhir. Lautan manusia yang sebelumnya memadati pelataran Masjid Wali pun berangsur lengang. Mereka perlahan beringsut pulang, membawa berkah sang Nabi ke rumah masing-masing.

Tingginya animo masyarakat dalam mengikuti kirab ini sejatinya sungguh melegakan, karena berarti masih banyak orang yang ingin bergerak bersama untuk menjaga tradisi tersebut agar tetap lestari. Barangkali, kebersamaan inilah berkah terbesar yang sesungguhnya dari sang Nabi! (Hasyim Asnawi/E03)

Visualisasi tradisi Nganten Mubeng dalam Kirab Ampyang Maulid di Desa Loram Kulon.
Lapak UMKM di sekitar Masjid Wali Loram Kulon turut meramaikan tradisi Kirab Ampyang Maulid.
Ampyang berupa gunungan yang berisi nasi kepal dan dihiasi kerupuk warna-warni ikut dikirab.
Arak-arakan gunungan hasil bumi bikinan warga menjadi simbol rasa syukur sekaligus harapan mendapatkan berkah pada hari kelahiran Rasulullah.
Di bawah terik sinar matahari, dengan bersemangat masyarakat mengarak gunungan menuju Masjid Wali Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus.
Ribuan orang mengantre untuk mendapatkan nasi kepal yang dibagikan secara gratis.
Kirab Ampyang Maulid digelar setiap tahun sebagai metode dakwah sekaligus upaya melestarikan tradisi desa.
Salah satu keunikan Kirab Ampyang Maulid Loram Kulon adalah ada peserta yang memakai kostum berbahan koran dan plastik bekas.
Tandu berisikan nasi kepal yang ditutupi daun jati dan dihiasi kerupuk atau ampyang menjadi ciri khas Kirab Ampyang Maulid.
Kirab Ampyang Maulid di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kudus berlangsung tiap tanggal 12 Rabiulawal dalam kalender Hijriyah, yang tahun ini jatuh pada 28 September lalu.

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Kelapa Kopyor Mahal Bukan Tanpa Alasan, Ini Fakta Menariknya

31 Jul 2026

Jemparingan, Seni Panahan Khas Mataram yang Mengajarkan Fokus dan Keteguhan Hati

1 Agu 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: