BerandaAdventurial
Jumat, 23 Okt 2025 15:01

'Situs Purbakala adalah Tanggung Jawab Mereka yang Mencintai Warisan Sejarah,' Kata Rerie

Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat bersama beberapa perempuan sedang melihat replika fosil yang ditemukan di Perbukitan Patiayam (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

Meninjau langsung pop-up museum atau ruang pamer mini di halaman Museum Patiayam Kudus, Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengatakan bahwa pelestarian situs purbakala bukan hanya tanggung jawab arkeolog atau pemerintah, tapi siapa pun yang mencintai warisan ini.

Inibaru.id - Siang yang agak teduh di Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus saat Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat melangkah ke halaman Museum Situs Patiayam akhir pekan lalu, Jumat (17/10).

Di bawah naungan tenda putih, sejumlah panel informasi berdiri tegak, menampilkan replika tulang-belulang gajah purba Elephas hysudrindicus, peta stratigrafi situs, dan foto-foto ekskavasi terbaru.

Suasana hari itu bukan sekadar kunjungan seremonial. Rerie, demikian Lestari biasa disapa, juga datang untuk berdialog langsung dengan sekitar 150 guru sejarah dari berbagai sekolah di aula Sekretaris Daerah (Sekda) Kudus.

Di sela kegiatan sosialisasi bersama sekitar 150 guru sejarah se-Kabupaten Kudus, dia menyempatkan diri berkunjung langsung ke museum yang terhubung dengan Situs Purbakala Patiayam tersebut.

Dengan langkah perlahan, dia menelusuri ruang pamer mini di halaman museum yang menampilkan fosil gajah purba Elephas hysudrindicus, tulang rahang stegodon, dan gigi-gigi hewan yang hidup jutaan tahun silam.

Kekayaan Sejarah Patiayam

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat (bersyal) bersama Kepala Desa Terban (berpeci) sedang melihat replika fosil yang ditemukan di Perbukitan Patiayam. (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

Kegiatan ini menjadi bagian dari sosialisasi dan edukasi publik tentang kekayaan prasejarah Patiayam; kawasan yang telah lama dikenal sebagai “permata tersembunyi” di Muria, tepatnya di jalur pegunungan antara Kudus dan Pati.

Di sinilah berbagai fosil hewan purba, seperti stegodon, badak, banteng, hingga kerbau prasejarah ditemukan, menjadikannya sebagai salah satu situs paleontologi terpenting di Pulau Jawa.

Ruang pamer "pop-up" museum yang dibuka bertepatan dengan HUT Kabupaten Kudus pada akhir September lalu tersebut belakangan memang menjadi salah satu daya tarik masyarakat Kudus dan sekitarnya.

Salah satu magnet utamanya adalah mock-up fosil temuan terbaru Elephas hysudrindicus yang dikerjakan bersama tim Balai Arkeologi Yogyakarta dan pegiat lokal Patiayam. Menurut Rerie, inisiatif ini bukan hanya pameran visual, tetapi juga laboratorium ingatan bagi generasi muda Kudus.

“Harapan kami, anak-anak tidak hanya mengenal Patiayam sebagai nama tempat, tetapi juga memahami maknanya; bahwa dari tanah ini, kita bisa membaca jejak kehidupan jutaan tahun lalu,” tutur politikus dari Partai Nasdem tersebut.

Menurutnya, upaya memperkenalkan sejarah dan warisan prasejarah harus dimulai dari sekolah. Guru menjadi pintu pertama yang mampu menyalakan rasa ingin tahu murid terhadap asal-usul daerahnya.

Patiayam sebagai Cagar Budaya

Anak-anak SD sedang mendapatkan edukasi tentang pemenuan di sekitar Museum Patiayam (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

Perlu kamu tahu, situs Patiayam saat ini tengah diusulkan untuk menjadi Cagar Budaya Nasional, mengingat nilai arkeologis dan ilmiahnya yang tinggi. Upaya itu terus dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus bersama para peneliti dan komunitas lokal.

Sejumlah upaya yang dilakukan di antaranya dengan memperkuat data pendukung, agar status tersebut segera ditetapkan oleh pemerintah. Jika terwujud, kawasan Patiayam berpotensi menjadi pusat wisata sejarah dan edukasi prasejarah yang mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif masyarakat sekitar.

Kunjungan Rerie hari itu meneguhkan bahwa melestarikan situs purbakala bukan hanya soal menjaga benda-benda tua, melainkan juga menyambung rantai pengetahuan antargenerasi. Menurutnya, nggak hanya fosil yang akan menjadi daya tarik, tapi juga narasi kebudayaan dan kisah peradaban kuno di dalamnya.

“Pelestarian tidak hanya tanggung jawab arkeolog atau pemerintah,” ujarnya pelan sesaat sebelum meninggalkan pop-up museum. “Ia hidup kalau masyarakat merasa memiliki, memahami, dan mencintai warisan ini.”

Sebelum benar-benar meninggalkan museum, sayup terdengar perempuan bersahaja itu menyapa para siswa yang sedang mencatat keterangan fosil, lalu berbincang dengan pemandu lokal yang menceritakan proses ekskavasi di lapangan.

Di bawah perbukitan merah keemasan itu, suara anak-anak SD yang berlarian di halaman museum terdengar riang. Betapa indahnya jika museum purbakala terus seriuh itu. Mungkin, kelak akan lahir arkeolog baru di antara mereka yang menemukan jejak lain dari masa lalu di Kota Kretek ini. (Imam Khanafi/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengintip Sisi Lain Nusakambangan yang Indah di Pantai Bantar Panjang

11 Jan 2026

Waroeng Sate Pak Dul Tjepiring, Tempat Makan yang Juga Museum Mini

11 Jan 2026

Bahaya yang Mengintai saat Anak Terlalu Cepat Diberi Gawai

11 Jan 2026

Lebih dari Menikmati Kopi, 'Ngopi' adalah tentang Koneksi dan Ekspresi Diri

11 Jan 2026

Sungai Finke Sudah Mengalir Sebelum Dinosaurus Lahir

11 Jan 2026

Musim Hujan Bikin Para Ibu Gampang Capek dan Baperan? Ini Penjelasan Ilmiahnya!

11 Jan 2026

Menilik Keindahan Curug Merak di Kabupaten Temanggung

12 Jan 2026

Cara Naik Kereta 36+3 di Jepang yang Santai dan Kaya Pemandangan Indah

12 Jan 2026

Belenggu Musim Baratan bagi Nelayan; Gagal Melaut dan Terjerat Lintah Darat

12 Jan 2026

Koperasi hingga Budi Daya Ikan, Upaya Pemkot Bantu Nelayan Semarang hadapi Paceklik

12 Jan 2026

3 Kode dari Tubuh Kalau Kamu Alami Intoleransi Gluten!

12 Jan 2026

Akses Jalan Mulai Terbuka, Desa Tempur Jepara Perlahan Bangkit Pascalongsor

12 Jan 2026

'Project Y', Film Korea Terbaru yang Duetkan Aktris Papan Atas Korea Han So-hee dan Jun Jong-seo

13 Jan 2026

Cerita Legenda Puncak Syarif di Gunung Merbabu

13 Jan 2026

Merti Sendang Curug Sari dan Kampanye 'Nggodog Wedang' Warga Pakintelan Semarang

13 Jan 2026

In This Economy, Mengapa Orang Masih Berburu Emas meski Harga Sudah Tinggi?

13 Jan 2026

Riset Ungkap Kita Sering Merasa Kebal dari Dampak Perubahan Iklim

13 Jan 2026

Bolehkah Makan Malam Cuma Pakai Buah?

13 Jan 2026

Sebenarnya, Boleh Nggak Sih Merokok di Trotoar Kota Semarang?

14 Jan 2026

Paradoks Memiliki Anak di Korea, Dianggap Berkah Sekaligus Kutukan Finansial

14 Jan 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: