BerandaAdventurial
Jumat, 8 Mei 2025 18:46

Senangnya Ikut Walking Tour 'Folklor Muria' di Kampung Budaya Piji Wetan Kudus

Beberapa siswa mengamati dan mencatat karya yang ditampilkan dalam Fokltarium Muria. (Inibaru.id/ Alfia Ainun Nikmah)

Tak hanya lewat dongeng pengantar tidur, anak-anak ini dengan riang mengikuti walking tour untuk menyelami visualisasi cerita rakyat di sekitar Muria dalam pameran Folktarium Muria di Kampung Budaya Piji Wetan Kudus.

Inibaru.id - Anak-anak dengan setelan kemeja putih dan bersarung tampak berjalan ke sana-ke mari. Yang cowok berpeci, yang cewek berkerudung. Tangan-tangan kecil mereka menenteng alat tulis; sesekali mengamati dan mencatat selama walking tour di Kampung Budaya Piji Wetan (KBPW) itu.

Mereka tampak riang menjajaki setiap sudut di kampung budaya ini; berjalan dari satu titik ke titik yang lain di Folktarium Muria, pameran terbuka tentang berbagai folklor atau cerita rakyat di sekitar Lereng Muria yang digelar di kampung budaya yang berlokasi di Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus ini.

Anak-anak itu merupakan para siswa dari MI Bustanul Musatfidin, satu dari 17 sekolah yang menjadi "tamu" dalam walking tour di Folktarium Muria yang berlangsung pada akhir April lalu. Sebanyak 15 karya dari para seniman residensi se-Jawa Tengah dan DIY dipamerkan dalam "laboratorium terbuka" tersebut.

Oya, Folktarium Muria adalah bagian dari Pameran Residensi bertajuk “Tapa Ngeli; Muria, Santri, dan Kretek” yang digelar di KBPW selama sepekan apada akhir April lalu. Berbagai folklor yang familiar di kalangan masyarakat Muria divisualisasikan dalam bentuk lukisan dan pertunjukan di pameran ini.

Visualisasi Folklor Muria

Foto bersama Siswa MI Bustanul Musatfidin bersama Koordinator KBPW di Punden Depok. (Inibaru.id/ Alfia Ainun Nikmah)

Selama walking tour berlangsung, anak-anak tampak begitu menikmati visualisasi folklor Muria ini. Cerita sejarah, mitos, dongeng, dan legenda yang semula hanya menjadi kisah sebelum tidur pun dikembangkan lebih luas menjadi narasi audio-visual yang menarik.

"Semua itu akan divisualisasikan melalui karya dan pertunjukan di Folktarium Muria ini," papar Koordinator KBPW Muchamad Zaini.

Salah satu karya yang menarik dalam mengekspresikan perjalanan kemesraan Kudus dan Madura Kudus ialah "Abhantal Tana, Asapo’ Bhako" karya Taufiqurrahman, Ragil Cahya Maulana, M. Shodiq, Shohifur Ridho'i, Fikril Akbar. Karya ini mengangkat konsep syiar Islam dan kultur tembakau.

“Arti 'Abhantal Tana, Asapo’ Bhako' kurang lebih mempertemukan Kudus dan Madura dengan passion mereka. Agama tidak lagi menjadi teori tetapi sudah menubuh di diri mereka,” kata lelaki yang akrab disapa Jessy Segitiga tersebut.

Karya ini berisi benda-benda keseharian seperti terop, selebaran, kopi, tembakau, tambul, dan berkat yang dibawa dari dua tanah berbeda, lalu disusun dalam instalasi media campuran. rekaman tahlilan, tembakau krosok, alat linting, hingga spanduk bergambar lanskap pertanian.

“Mengingat tentang situated performance, yakni sebuah pertunjukan yang menjadikan ruang dan kebiasaan, gerakan, skaral; semua dimunculkan di sini,” ujar Jessy.

Karya Seni di Rumah Warga

Kemala menjelaskan filosofi karyanya (Inibaru.id/ Alfia Ainun Nikmah)

Nggak seperti pameran konvensional yang biasanya menempati satu ruangan tertutup, Folktarium Muria juga menjadikan rumah warga sebagai ruang pajang pameran. Salah satunya adalah sebuah karya berjudul “Ageman Amongjiwo” yang merupakan bikinan Kolektif Matrahita.

Anak-anak yang bertandang ke pelataran rumah tempat karya dipajang ini pun segera disambut ramah oleh pemilik rumah bersama kreatornya. Karya itu berupa sebentuk punden yang diselubungi kain dari perca-perca sisa yang dirangkai hingga membentuk motif pohon, rumah, dan lain-lain.

Anggota Kolektif Matrahita Kemala Hayati mengatakan, motif pada dinding punden ini adalah gambaran di Desa Piji, sedangkan punden yang dijadikan sebagai subjek seni ini merujuk pada Punden Depok yang merupakan tempat sakral di desa tersebut.

"Ageman (merujuk pada judul karya 'Ageman Amongjiwo') itu pakaian," sambut Kemala di hadapan anak-anak yang datang. "Tapi, maksudnya bukan sekadar busana, ia juga bisa bermakna pegangan dan keyakinan kita sebagai individu."

Dari Limbah Tekstil

Anak tersebut penasaran bentuk lukisan yang hampir mirip seperti sungguhan (Inibaru.id/ Alfia Ainun Nikmah)

Ageman Amongjiwo adalah karya kolektif para ibu di lingkungan Desa Piji Wetan kala Kolektif Matrahita menggelar sebuah workshop untuk memanfaatkan limbah tekstil seperti sarung sobek, baju bekas, atau sisa kain nggak terpakai menjadi barang baru yang bernilai.

Berdasarkan pengetahuan tersebut, para peserta workshop itu kemudian membuat karya seni dari susunan kain yang dijahit membentuk "cerita" dan ditempel pada punden, menjadi karya seni yang dipamerkan dalam Folktarium Muria.

“Peserta workshop; Bu Astri, Bu Siti, dan Bu Aina, berpikir untuk menuangkan ingatan masa kecil mereka di desa ini, mulai dari Punden Depok, keaslian alam denga pohon-pohon rindangnya, satai kerbau, parijotho, pager mangkok, dan lain sebagainya,” jelas Kemala.

Bukan cuma pajangan, punden yang bagian bawahnya berbentuk kubik ini rupanya bisa dimasuki. Anak-anak pun dipersilakan masuk ke dalamnya. Selain itu, mereka juga diajari menjahit dengan mesin yang diletakkan pada bagian depan.

Mendokumentasikan Cerita Rakyat 

Karya batik Pager Mangkok yang berada di pekarangan warga. (Inibaru.id/ Alfia Ainun Nikmah)

Jessy yang hari itu bertindak sebagai guide anak-anak dalam walking tour ini mengaku senang dengan respons para tamu ciliknya yang tampak begitu bersemangat mengamati karya-karya yang ditampilkan sembari mencatat informasi ditampilkan.

Menurutnya, Folktarium Muria adalah wadah yang bagus untuk anak-anak, karena berisikan dokumentasi dari folklor-folklor yang ada di sekitar Muria. Ide tersebut memang muncul dari bentuk keprihatinan atas ketiadaan wadah untuk mendokumentasikan cerita-cerita tersebut.

“Belum ada museum tentang foklor Muria. Nah, di sinilah cerita-cerita itu digendeli (dibukukan)," tutur Jessy sembari menunjukkan bentangan "museum folklor" yang dimaksudnya. "Kami berharap tahun ini bisa meluncurkan museum folklor tanpa atap yang berbasis masyarakat."

Untuk ukuran "museum", pameran yang digelar KBPW terbilang cukup luas. Dengan jalan yang nggak selalu lurus dan sesekali melewati pekarangan warga, wajar jika anak-anak merasa kelelahan. Namun begitu, mereka tampak baik-baik saja, bahkan masih bisa bercanda sembari berjalan beriringan.

Mewariskan Nilai Folklor Muria

Anak-anak MI Bustanul Musatfidin selalu penasaran dengan setiap karya hingga masuk lorong batik Pager Mangkok. (Inibaru.id/ Alfia Ainun Nikmah)

Jessy menilai, keberadaan anak-anak ini dalam pameran residensi adalah bagian penting yang pantang dilewatkan. Selama walking tour, mereka nggak hanya melihat dan mencatat, tapi juga berinteraksi dengan menyentuh dan memainkannya.

"Pertanyaan saya (sebelum membuat pameran), kepada siapa cerita rakyat ini kami wariskan? Di sinilah (walking tour untuk anak-anak) menjadi penting," paparnya.

Dia berharap KBPW bisa mengawali langkah untuk pembangunan berkelanjutan yang memadukan pendidikan, pariwisata, dan pemberdayaan ekonomi lokal, tentu saja dengan tetap mengakar pada nilai sufistik yang diwariskan Sunan Muria serta kearifan lokal masyarakat desa.

Selain Folktarium Muria, rangkaian pameran residensi ini juga diramaikan dengan jagongan budaya dan performance art dari para seniman yang digelar setiap hari selama sepekan penuh. Seru, kan? (Alfia Ainun Nikmah/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Belajar dari Burung Dodo: Ketika Dunia Berubah, Bertahan Saja Tidak Cukup

1 Mei 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: