BerandaAdventurial
Minggu, 17 Sep 2022 15:05

Omah Demit; Bisa Dilihat, Tak Bisa Dimasuki

Penampakan Omah Demit yang berada di atas bukit. (Solopos/Taufiq Sidik)

Warga menyebutnya Omah Demit. Rumah yang dulu merupakan gudang mesiu atau dinamit ini dibangun pada masa kolonial Belanda. Kini meski kosong, warga Dukuh Mojopereng, Desa Krakitan, Bayat, Klaten percaya jika tempat ini menyeramkan. Mereka pun nggak ada yang berani masuk ke sini.

Inibaru.id – Bangunan mungil di Dukuh Mojopereng, Desa Krakitan, Bayat, Klaten, Jawa Tengah itu masih berdiri. Meski tampak biasa saja, warga menyebut rumah itu sebagai Omah Demit yang berarti Rumah Hantu.

Meski nggak bertuan, rumah yang berada di atas bukit ini nggak bisa sembarang orang dimasuki, Berdasarkan sejarah, lokasi Omah Demit berdiri merupakan kawasan pertambangan kapur zaman Belanda.

Dilansir GNFI dari Okezone, rumah ini masih berdiri kokoh di antara barisan bukit kapur. Nama populer tempat ini adalah Bukit Patrum Photorium.

Sayangnya, nggak ada jalan untuk menuju ke rumah itu. Rumah ini sulit dikunjungi meski dengan berjalan kaki karena nggak tersambung dengan kawasan bukit. Rumput serta tanaman yang tumbuh liar di sekitar rumah menambah kesan suwung.

“Dulu masih menyambung. Karena faktor alam dan efek dari kegiatan pertambangan, akhirnya ambrol. Waktu ambrol itu saya masih TK,” jelas Kepala Desa Krakitan Nurdin sebagaimana diwartakan Solopos (11/11/2021).

Gudang Mesiu

Kawasan eks penambangan batu kapur ini sempat dijadikan tempat wisata bernama Bukit Patrum Photorium. (via Kompas)

Dulu, Rumah Hantu ini merupakan tempat Belanda menyimpan mesiu atau dinamit. Setelah Belanda pergi, rumah ini kosong. Kekosongan memang kerap diasosiasikan dengan hal-hal seram. Benar saja, katanya, sering ada penampakan dan suara-suara aneh dari Omah Demit ini lo.

“Bangunan bersejarah, peninggalan zaman penjajahan Belanda. Menurut kakek dan nenek kami, dulu diperuntukkan menyimpan dinamit (bahan dan peralatan peledak) pemecah batuan kapur,” kata Hardi warga Mojopereng yang dikutip dari Karanganyarnews (5/3/2022).

Dia menjelaskan selain dijadikan bahan bangunan, batu kapur dimanfaatkan juga untuk pengolahan tebu di Pabrik Gula (PG) Gondang Winangun.

Nah, untuk lebih mempermudah dan mempercepat proses menambang batu kapur, Belanda menggunakan dinamit. Rel lokomotif juga dibangun untuk mengangkut batu kapur.

“Hingga tahun 1980-an rel jalur lokomotif itu masih utuh, bahkan masih sering dilintasi lori (lokomotif) pengangkut tebu dari Desa Krakitan dan sekitarnya ke PG Gondang Winangun,” cerita Hardi menyakinkan.

Setelah Indonesia merdeka, aktivitas pertambangan masih ada meski dilakukan secara manual oleh warga. Kegiatan itu semakin menggerogoti bukit kapur bahkan bikin satu rumah akhirnya lenyap. Namun ini bukanlah kesengajaan. Sebenarnya, warga nggak berani mengusik keberadaan Omah Demit. Mereka hanya mengambil batu-batu kapur.

Sempat Jadi Tempat Wisata

Sebagai informasi, kawasan perbukitan ini sudah ditata dan dikelola Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) sejak 2017 silam menjadi objek wisata alam bernama Bukit Patrum Photorium. Sayangnya, sejak pandemi Covid 19, objek wisata ini ditutup dan belum dibuka hingga kini.

“Belum ada rencana untuk dibuka lagi. Karena satu sisi harus ada pembenahan lagi fasilitas-fasilitas yang ada di sana,” kata Nurdin.

Kawasan perbukitan ini dulunya sering digunakan latihan panjat tebing para komunitas pencinta alam. Tapi dirinya mengimbau agar kegiatan ini nggak lagi dilakukan karena pihaknya belum punya alat safety dan pengawasan.

Hm, kalau kawasan ini dibuka kembali, kamu mau ke sini nggak, Millens? (Siti Zumrokhatun/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Mengapa Salatiga Disebut Salah Satu Kota Tertua di Indonesia? Ini Sejarahnya

28 Okt 2026

Menjaga Napas Rawa Gambut yang Kian Rentan Terbakar

29 Okt 2026

Poke Wayang, Ketika Pikachu dan Wayang Kulit Bertemu dalam Satu Panggung

30 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

8 Tokoh Penting Kongres Pemuda II yang Lahirkan Sumpah Pemuda

28 Okt 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: