Tidak Bisa Dirobohkan, Misteri Makam Kiai Waqak Kendal 

Tidak Bisa Dirobohkan, Misteri Makam Kiai Waqak Kendal 
Makam yang dipercaya sebagai makam Kiai Waqak. (Jatengprov.go.id via Okezone)

Cerita mengenai makam yang tidak bisa roboh atau dipindahkan mungkin pernah kamu dengar. Kali ini, kisah makam yang terkesan bertuah datang dari Kendal, tepatnya Dusun Ngebum, Desa Mororejo, Kendal. Masyarakat percaya jika ini merupakan persemayaman Kiai Waqak yang diyakini merupakan putra Raden Patah.

Inibaru.id – Ada yang menarik nih kalau kamu mengunjungi Dukuh Ngebum, Desa Mororejo, Kendal. Tepatnya, di tengah kompleks PT Kayu Lapis Indonesia (KLI) terdapat sebuah makam. Masyarakat menyebutnya dengan makam Kiai Waqak. Percaya nggak percaya, makam tersebut tetap kokoh berdiri di sana karena “menolak” dipindahkan.

Melansir Jatengprov.go.id (13/4/2017), masyarakat menyebut kawasan pabrik pengolahan kayu itu dulunya merupakan kompleks permakaman para tokoh besar dari Kesultanan Demak. Kemudian semua makam sudah tidak ada lagi dan hanya tersisa makam Kiai Waqak. Masyarakat setempat percaya jika ia merupakan penyebar agama Islam di Kendal.

Kiai Waqak disebut bernama asli Raden Kenduran. Ia diyakini merupakan putra Raden Hasan atau Raden Fatah, Raja Demak pertama yang memerintah Demak pada 1481-1518 Masehi.

 “Temuan ini kemudian kami laporkan kepada kepala desa dan para perangkatnya untuk disampaikan kepada masyarakat,” tutur Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwsata (Dinporapar) Kendal Tavip Poernomo, SH, di kantornya, Kamis (13/4/2017).

Warga Pengin Dijadikan Destinasi Wisata Religi

Ratusan peziarah memadati makam wali di Bukit Jabal Kaliwungu (29/3/2022). (Radar Pekalongan)
Ratusan peziarah memadati makam wali di Bukit Jabal Kaliwungu (29/3/2022). (Radar Pekalongan)

Mengetahui ada makam tokoh Islam di sana, banyak masyarakat yang menyambangi untuk berziarah. Sayangnya, masuk kawasan pabrik bukanlah hal yang mudah. Mereka harus lebih dulu meminta izin. Karena itu, muncul ide untuk menjadikan makam Kiai Waqak ini sebagai tempat wisata religi.

Menurut tokoh masyarakat Desa Ngebum, Gunadi, Jumat (7/4/2017), Kiai Waqak pantas mendapatkan penghormatan seperti penyebar agama Islam terdahulu lainnya yang dimakamkan di Bukit Jabal, Kendal. Sebut saja Mbah Sunan Katong, Kyai Guru dan Wali Musyafa ataupun wali-wali lainnya yang selalu ramai dikunjungi.

Dia berpendapat jika itu akan melengkapi pariwisata di Mororejo.  “Jadi penyeimbang, Pantai Ngebum wisata alam, dan makam Kiai Waqak ini sebagai wisata hati atau wisata religi,” tuturnya seperti dilansir dari beritajateng.

Di sisi lain, dia mengakui jika menjadikan makam Kiai Waqak sebagai obyek wisata religi bukan hal yang mudah. Sebab makam tersebut berada di tengah komplek pabrik dan membuat pihak desa kesulitan untuk mengambil alih tanah tersebut.

Gunadi juga membenarkan jika lokasi pabrik itu dulunya adalah kompleks permakaman. Di sana banyak makam orang-orang Dukuh Ngebum terdahulu yang dimakamkan di tempat tersebut. Namun anehnya, makam-makam tersebut hilang setelah pabrik berdiri.

 “Yang tersisa cuma satu makam, yakni Makam Kiai Waqak yang memang katanya tidak bisa dibongkar atau dipindahkan. Sehingga sampai sekarang masih utuh dan terjaga. Makam-makam lainnya saya sendiri kurang tahu persis keberadaannya, mungkin sudah diratakan dengan tanah,” jelasnya.

Wasiat Kiai Waqak Lewat Mimpi

Sulitnya akses ke makam Kiai Waqak otomatis membuat nggak banyak diziarahi. Menurut Ketua Pengurus Ranting Gerakan Pemuda Ansor, Desa Mororejo, Rifqi Muslim hal itu disebabkan akses menuju makam sangat tertutup dan harus melalui penjagaan PT KLI.

 “Kami di Ranting Ansor Mororejo yang selama ini secara rutin berziarah ke makam setiap Jumat. Itupun harus melalui izin dari pihak PT KLI baru bisa masuk. Kalau tidak bisa izin ya kami tidak bisa masuk,” akunya.

Meski nggak mudah mendapat izin masuk, dirinya beserta para Pemuda Ansor Mororejo tersebut tetap rutin datang karena mendapatkan wasiat langsung dari pengasuh Pondok Pesantren Manbaul Hikmah, Mororejo KH Suyuthi. Sebelumnya kata Rifqi yang sekaligus putra dari KH Suyuthi jika ayahnya pernah mendapatkan mimpi.

 “Mimpinya, abah (KH Suyuthi, red) ditemui oleh Kiai Waqak. Dalam mimpi tersebut abah dimintai tolong untuk merawat dan meramaikan makamnya. Sejak itulah, kami secara rutin berziarah ke makam Mbah Waqak,” tambahnya.

Wah, menarik juga ya cerita seputar makam Kiai Waqak ini. Kalau menurutmu gimana, Millens? Perlukah makam ini dijadikan destinasi wisata religi? (Siti Zumrokhatun/E07)