Inibaru.id - Kalau kamu lagi main ke Jogja, jangan cuma mentok di Malioboro saja, Gez! Coba deh melipir sedikit ke arah selatan, tepatnya di Kabupaten Bantul. Di sana ada satu desa yang "napas" warganya adalah tanah liat. Yup, apalagi kalau bukan Desa Wisata Kasongan.
Hanya berjarak sekitar 6 kilometer dari Alun-Alun Utara, Kasongan bukan sekadar tempat belanja, tapi galeri seni raksasa yang sudah melegenda.
Begitu masuk gerbang desa, mata kamu bakal dimanjakan dengan deretan galeri yang memajang guci-guci cantik, pot raksasa, hingga pernak-pernik estetik. Warga di sini dijuluki "Kundi", alias ahli pembuat barang pecah belah. Kerennya, keahlian "mengempal-ngempal" tanah liat ini sudah diwariskan turun-temurun, lho!
Sejarah yang "Nyeleneh" tapi Nyata
Tahu nggak sih, Gez? Ternyata Kasongan jadi pusat gerabah berawal dari rasa takut warga pada masa penjajahan Belanda. Alkisah, ada seekor kuda milik reserse Belanda yang mati di sawah warga. Takut kena sanksi kolonial, si pemilik sawah malah melepaskan hak miliknya.
Tanah yang terlantar itu akhirnya nggak lagi digarap jadi sawah. Warga yang kehilangan mata pencaharian pun mulai putar otak dan mencoba mengolah tanah liat jadi mainan atau alat dapur sederhana. Siapa sangka, berawal dari "pelarian" justru jadi profesi utama yang mendunia!
Tahun 1971 jadi titik balik Kasongan. Seniman legendaris Sapto Hudoyo memberikan sentuhan artistik modern pada desain gerabah warga. Hasilnya? Produk Kasongan nggak lagi monoton. Sekarang, guci dan keramik dari Bantul ini sudah terbang jauh ke pasar Eropa hingga Amerika. Kelas banget, kan?
Pengalaman Seru: Belajar Jadi Perajin Seharian
Bukan cuma cuci mata atau belanja, di Kasongan kamu bisa banget belajar bikin gerabah sendiri. Banyak galeri yang menyediakan paket wisata edukasi. Kamu bakal dipandu langsung oleh perajin lokal buat membentuk tanah liat di atas meja putar (perbot).
Baca Juga:
Menengok Kampung Keramik Balong di BloraCoba deh bikin asbak atau vas mungil. Meski kelihatannya gampang, ternyata butuh kesabaran dan ketelitian tingkat tinggi, Gez! Hasil karyamu nantinya bisa dibawa pulang buat kenang-kenangan kalau kamu pernah jadi "seniman" di Kasongan.
Sekarang, produk Kasongan sudah berkembang pesat. Selain guci bermotif burung merak atau naga yang detail, kamu juga bisa nemuin souvenir pernikahan, hiasan dinding, sampai meja kursi dari tanah liat. Kreativitas warga memang nggak ada matinya; ada juga perabotan dari bambu dan bunga tiruan dari daun pisang kering.
Soal harga? Tenang, karena beli langsung di pusatnya, harganya sangat kompetitif. Dari yang ribuan perak sampai jutaan rupiah untuk guci raksasa, semuanya ada!
Kasongan adalah bukti kalau tradisi lokal bisa terus hidup kalau kita mau terus berinovasi.
Lengkap dengan fasilitas homestay dan kuliner khas Bantul, Kasongan cocok banget buat kamu yang pengin healing sambil belajar budaya. Gimana, siap bawa pulang guci estetik buat hiasan kamar? (Siti Zumrokhatun/E05)
