BerandaTradisinesia
Sabtu, 16 Jan 2026 19:04

Yuk, Intip Tradisi Leluhur 'Nabung' Air Hujan yang Mulai Terlupakan

Leluhur kita sudah mengenal metode menyimpan air hujan untuk menghadapi kemarau. (Freepik)

Menampung air hujan bukan cuma soal kearifan lokal, tapi solusi cerdas warisan leluhur untuk menghadapi kekeringan. Mulai dari Tamarjan di Rembang hingga danau kecil di Klaten, tradisi ini membuktikan kalau air hujan adalah "tabungan" paling berharga yang dikirim langsung dari langit.

Inibaru.id - Lagi musim hujan gini, bawaannya pasti pengin mager sambil dengerin suara rintik di genteng, ya kan? Tapi tahu nggak sih, Gez, kalau air yang turun dari langit itu sebenarnya "tabungan" masa depan yang berharga banget?

Yap, leluhur kita punya cara keren buat bertahan hidup lewat kearifan lokal menampung air hujan. Sayangnya, kebiasaan ini mulai sering ditinggalkan karena kita sudah terbiasa dengan air keran yang tinggal putar. Padahal, di beberapa daerah, tradisi ini masih jadi penyelamat nyawa, lo!

Yuk, kita intip gimana cara warga di berbagai daerah di Indonesia "menabung" hujan!

Tamarjan: Celengan Air Warga Rembang

Main ke Desa Segoromulyo, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, kamu bakal nemuin pemandangan unik di depan rumah warga. Di sana ada tradisi bernama Tamarjan. Warga sengaja menaruh bak-bak penampungan besar untuk menangkap air hujan yang jatuh dari atap.

Bukan buat gaya-gayaan, Tamarjan adalah strategi bertahan hidup. Mengingat Rembang sering banget langganan kekeringan pas kemarau panjang, air hujan ini jadi cadangan air bersih paling diandalkan saat sumur-sumur mulai mengering. Benar-benar definisi "sedia payung sebelum hujan" yang sesungguhnya!

Ritual Minum Air Hujan di Pontianak

Penampakan tempayan air yang digunakan warga Pontianak untuk menampung air hujan. (Borneo News)

Geser ke Kalimantan Barat, tepatnya di Pontianak, menampung air hujan bukan lagi sekadar tradisi, tapi sudah jadi gaya hidup. Karena kondisi geografisnya yang sulit mendapatkan air tanah tawar (seringkali payau atau gambut), warga Kalbar sejak dulu sudah ahli memanfaatkan air hujan untuk keperluan konsumsi.

Bagi warga di sana, air hujan yang ditampung dengan benar punya rasa yang segar buat minum dan masak. Bahkan, banyak rumah di Pontianak yang punya tangki raksasa khusus di samping rumahnya untuk memastikan stok air mereka nggak pernah habis.

Danau Kecil Penyelamat di Klaten

Lain lagi ceritanya di Dukuh Bunder Jarakan, Klaten. Karena daerahnya memang nggak punya sumber air alami sama sekali, para leluhur di sana mewariskan sebuah "danau kecil" atau embung sederhana sebagai tempat pengumpulan air hujan kolektif.

Kearifan lokal ini membuktikan kalau solidaritas warga bisa dibangun lewat air. Satu danau kecil ini cukup buat menghidupi satu dusun saat matahari lagi terik-teriknya di musim kemarau. Hm, keren ya ide-ide nenek moyang kita dalam memanfaatkan air hujan?

Nah, mumpung intensitas hujan lagi tinggi-tingginya, sebenarnya kita bisa banget meniru kearifan lokal ini, Gez. Menampung air hujan nggak cuma bantu kita hemat tagihan air, tapi juga mengurangi beban drainase kota biar nggak gampang banjir.

Dengan cara yang lebih modern (seperti filtrasi sederhana), air hujan bisa kok dipakai buat menyiram tanaman, mencuci kendaraan, atau cadangan saat air PDAM lagi macet.

Eh, kalau di tempatmu sendiri masih ada nggak orang yang rajin nampung air hujan? Atau mungkin ada nama tradisi unik lain soal air di desamu? (Siti Zumrokhatun/E05)



Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Blok GM, Surga Anak Skena, dan Wajah Baru Kota Semarang saat Malam

9 Apr 2026

Puting Beliung Terjang Banyumanik, Pemkot Semarang Akan Perbaiki Rumah Warga Terdampak

9 Apr 2026

Kembalikan Ruh, Tiket Masuk Resmi Ditiadakan dalam Tradisi Bulusan

9 Apr 2026

Pecinan Semarang Bakal Dikelilingi Arak-arakan 50 Kelenteng Akhir Pekan Ini!

10 Apr 2026

30 Persen Jemaah Haji asal Semarang Masuk Kategori Muda, Puluhan di Antaranya Gen Z

10 Apr 2026

Kolaborasi AMSI dan Meta untuk Dukung Jurnalisme Berkualitas

10 Apr 2026

Jaga Produksi, Pengusaha Tahu Semarang Putar Otak saat Harga Kedelai dan Plastik Naik

10 Apr 2026

Ogah Cuma Jadi Formalitas, Sumanto Pengin Bedah LKPJ 2025 Hasilkan Solusi Nyata buat Jateng

11 Apr 2026

Investasi buat Anak Cucu, Sumanto Ajak Relawan Jaga Kali-Rawat Bumi

12 Apr 2026

Kecelakaan (Lagi) di Silayur Semarang, Mau sampai Kapan?

12 Apr 2026

Bernuansa Spiritual, Tradisi Kirab Kelenteng di Pecinan Semarang

13 Apr 2026

Lansia Dominasi Calhaj Asal Semarang, Kesehatan jadi Tantangan Serius

13 Apr 2026

ASN Jateng WFH Tiap Jumat, Sumanto: Jangan Sampai Pelayanan Publik Malah Libur

13 Apr 2026

Dishub Perketat Akses Masuk ke Silayur, Dua Portal Disiapkan untuk Batasi Truk Tronton

14 Apr 2026

Forbasi Matangkan Struktur Organisasi via Rakernas dan Sertifikasi Juri-Pelatih

14 Apr 2026

Ikhtiar Warga Silayur, Kembalikan Tradisi Ruwatan untuk Keselamatan Pengguna Jalan

14 Apr 2026

Grup Cowok: Batas Tipis antara Bercanda dan Pelecehan Seksual

15 Apr 2026

Menanti Surpres, Nasib RUU PPRT Kini di Tangan Presiden

15 Apr 2026

Temuan Fosil Purba di Bumiayu, Diduga Lebih Tua dari Sangiran

16 Apr 2026

Pemprov Jateng Pastikan Stok BBM dan Elpiji Aman, Jangan Panic Buying!

3 Apr 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: