BerandaTradisinesia
Rabu, 6 Jun 2023 18:00

Upaya Mengurai Sengkarut Hari Lahir Batang

Batang disebut-sebut sudah berusia lebih dari 400 tahun, bukannya hanya 57 tahun. (BS3.Batangkab)

Meski secara resmi dianggap baru lahir pada 8 April 1966, banyak yang menyebut hari lahir Batang jauh lebih lama. Bahkan, sejumlah pakar meyakini usia Kabupaten Batang sudah lebih dari 400 tahun.

Inibaru.id – Selama ini, masyarakat Jawa Tengah hanya mengetahui Kabupaten Batang berdiri pada 8 April 1966. Penentuan hari lahir Batang ini didasari oleh Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1965 tentang pembentukan Kabupaten Batang oleh pemerintah. Masalahnya, keberadaan Batang sebenarnya jauh lebih lama dari itu.

Kebingungan tentang hari lahir Batang ini diungkap oleh Penjabat (Pj) Bupati Batang Lani Dwi Rejeki. Menurutnya, sejarah Batang lebih dari 57 tahun. Dia bahkan yakin jika Kabupaten Batang punya sejarah lebih dari 400 tahun.

“Ini memang perlu kajian khusus dan melibatkan sejumlah pendahulu yang paham betul dengan sejarah Kabupaten Batang,” saran Lani sebagaimana dilansir dari Batangkab.go.id, Sabtu (8/4/2023).

Hal serupa diungkap oleh pendiri Yayasan Nusahada Caswiyono Rusydie Cakrawangsa. Dia menyebut tanggal 8 April 1966 bukan sebagai hari lahir Kabupaten Batang, melainkan hari di mana Batang kembali memiliki pemerintahan sendiri dan lepas dari Kabupaten Pekalongan. Terkait dengan sudah berapa lama Batang eksis, Caswiyono menyebut Batang sudah berdiri sejak 1614.

“Batang sudah ada sejak 409 tahun yang lalu. Pasti ada peradaban, sejarah, dan kearifan lokal yang belum terkuak. Jadi nggak pas kalau kemudian usia Batang diperpendek,” tegas Caswiyono.

Keterangan Caswiyono mendapatkan sambutan positif dari perwakilan Keraton Yogyakarta, yaitu Gusti Bendara Pangeran Haryo (GBPH) Yudhaningrat. Menurutnya, sejarah berdirinya Batang terkait dengan masa pemerintahan Sultan Agung, penguasa Mataram Islam ketiga pada 1613 sampai 1645.

GBPH Yudhaningrat melakukan diskusi terkait dengan sejarah hari lahir Batang. (Infopublik.id)

“Batang sudah masuk dalam kewilayahan Kesultanan Yogyakarta setelah Perjanjian Giyanti. Hal ini terungkap dalam beberapa literatur peta yang ada di Keraton Yogyakarta. Dari petunjuk itu, diyakini banyak sumber yang bisa digali. Kami akan bantu agar hari lahir Batang yang sesuai dengan era Sultan Agung bisa terkuak,” ucap adik dari Sri Sultan Hamengkubuwana X tersebut di Dalem Yudhanegaran Yogyakarta, Sabtu (3/6).

Pada situs pemerintahan resmi Kabupaten Batang, diungkap pula bahwa Batang mendapatkan namanya dari kata Ngembat Watang yang berarti mengangkat batang kayu. Istilah ini muncul saat Mataram mulai mempersiapkan sejumlah daerah untuk dijadikan lahan pertanian. Hasil pertanian dari wilayah tersebut kemudian dipakai sebagai penyedia logistik pasukan yang akan menyerang Batavia.

Nah, Bahurekso diberi tugas oleh Sultan Agung untuk membabat Alas Roban untuk dijadikan daerah persawahan. Setelah lahan pertaniannya jadi, ada sebuah batang kayu yang menghambat aliran sungai yang dijadikan pengairan untuk lahan tersebut. Batang kayu tersebut sangat besar hingga sulit untuk diangkat oleh banyak orang.

Meski pada akhirnya bisa diangkat dan dipindah, peristiwa pemindahan batang kayu ini kemudian jadi inspirasi pemberian nama Ngembat Watang bagi wilayah yang kemudian dikenal sebagai Batang pada masa sekarang.

Meski penyerangan Mataram Islam ke Batavia baru dilakukan pada 1628, banyak pihak meyakini Sultan Agung sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari, tepatnya semenjak dia naik tahta. Oleh karena itulah, jangan heran jika peristiwa “ngembat watang” itu diperkirakan sudah ada pada 1613 saat Sultan Agung baru menjadi raja atau setahun setelahnya.

Semoga saja ya kajian untuk mencari hari lahir Batang yang asli bisa segera menunjukkan hasil positif, Millens. (Arie Widodo/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

TikTok Jadi Media Sosial Paling Sering Diakses Warganet Indonesia pada 2026

16 Jun 2026

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Warga Jateng Diminta Sambut Petugas dengan Baik

17 Jun 2026

Keraton Solo Keluarkan 14 Pusaka dan Kebo Bule dalam Kirab Malam 1 Suro

17 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: