BerandaTradisinesia
Selasa, 13 Jun 2022 15:00

Tradisi Unik Gendong Manten di Gemolong, Sragen

Tradisi gendong manten di Sragen. (Solopos/Wahyu Prakoso)

Di Kecamatan Gemolong, Sragen, Jawa Tengah, ada tradisi upacara pernikahan yang nggak biasa. Namanya adalah gendong manten. Seperti apa ya tradisi ini?

Inibaru.id – Upacara pernikahan di Desa Kalangan dan Desa Nganti, Kecamatan Gemolong, Sragen, Jawa Tengah beda dari tempat-tempat lainnya. Bagaimana nggak, di sana, pasangan pengantin harus digendong saat akan menuju sendang atau saat pulang dari tempat tersebut. Apa alasannya, ya?

Menurut warga setempat, Yoto Teguh Pambudi tradisi ini dikenal dengan nama gendong manten. Istilah dalam Bahasa Jawa ini kalau diartikan dalam Bahasa Indonesia adalah ‘menggendong pengantin’. Nah, pengantin ini digendong ke Sendang Lanang dan Sendang Wadon, dua mata air di Dukuh Sendang, Desa Kalangan, yang dikeramatkan.

Meski kental dengan tradisi lama, laki-laki berusia 37 tahun ini memastikan kalau tradisi ini sama sekali nggak ditujukan untuk menyembah pohon, air, atau lainnya. Justru, tradisi ini dilakukan agar para pengantin mengetahui tentang sumber kehidupan dan nilai filosofisnya.

“Air adalah salah satu rezeki dari Allah yang harus disyukuri. Air adalah sumber kehidupan. Tanpa air, tanaman pangan akan mati. Padahal, manusia tidak bisa hidup tanpa makanan yang dihasilkan dari tanaman. Itulah sebabnya pasangan pengantin itu diajarkan bagaimana bersyukur atas nikmat Ilahi ini,” cerita Teguh, Rabu, (16/2/2022).

Secara turun-temurun, yang masih melakukan tradisi ini adalah warga dari Dukuh Brumbung, Sendang, Ngeblak, Sentanan, serta sebagian warga Dukuh Semi yang berlokasi di Desa Kalangan. Sementara itu, warga Desa Nganti yang melakukannya berasal dari Dukuh Ngeblak.

Dipimpin oleh ‘Juru Kethur’

Tradisi gendong manten masih dilestarikan warga Sragen. (Solopos/Wahyu Prakoso)

Jalannya tradisi ini dipimpin oleh seorang ‘juru kethur’ bernama Tanem. Perempuan berusia 80 tahun ini terlihat masih bugar saat memimpin upacara dengan ritual yang sama sebagaimana yang diwariskan oleh leluhurnya. Kalau menurut Tanem, tradisi ini adalah wujud doa keselamatan bagi pasangan yang akan membangun mahligai rumah tangga.

Biasanya sih, usai dibopong ke sendang, pasangan pengantin duduk di atas tikar dan kemudian berdoa. Jalannya doa dipimpin oleh Tanem. Di hadapan Tanem dan pengantin, ada kendi berisi air. Setelah doa selesai, pasangan pengantin berdiri dan Tanem mulai mengucurkan air dari dalam kendi. Setelah itu, dia, pasangan pengantin, dan juga pengiring pengantin akan berjalan memutari lokasi bekas kucuran air kendi tiga kali, Millens.

Bermula dari Eyang Natar Nyawa

Tradisi ini berawal dari seorang sesepuh bernama Eyang Natar Nyawa tau Tumenggung Natar Nyawa. Pada zaman dahulu, sang tumenggung yng merupakan abdi dalem Keraton Surakarta menikahkan anak perempuannya dengan putra dari temannya, Wisa Kusuma.

Wisa adalah anak dari raja dan seorang selir. Nah, saat muda, Wisa dan Tumenggung berkelana dan menetap terpisah meski jaraknya nggak jauh. Tumenggung Natar Nyawa menetap di Dukuh Sentanan, Desa Kalangan, sementara Wisa menetap di Dukuh Ngronggah. Tatkala mereka besanan, tradisi ini dilakukan sebagai cara untuk menyiasati nggak adanya tandu untuk membopong pengantin.

“Biasanya nikah di keraton pakai tandu atau joli jempana untuk menuju ke sendang. Namun, karena joli jempana nggak ada, maka pakai tangan sebagai kearifan lokal yang diuri-uri sampai sekarang,” pungkas Teguh.

Menarik juga ya tradisi gendong manten di Sragen ini, Millens? (Sol, Dic/IB09/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Mengapa Salatiga Disebut Salah Satu Kota Tertua di Indonesia? Ini Sejarahnya

28 Okt 2026

Menjaga Napas Rawa Gambut yang Kian Rentan Terbakar

29 Okt 2026

Poke Wayang, Ketika Pikachu dan Wayang Kulit Bertemu dalam Satu Panggung

30 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

8 Tokoh Penting Kongres Pemuda II yang Lahirkan Sumpah Pemuda

28 Okt 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: