BerandaTradisinesia
Senin, 26 Nov 2023 14:18

Tradisi Songsong Nolobondho, Wujud Syukur Atas Panen Melimpah di Sleman, Yogyakarta

Tradisi Songsong Nolobondho di Padukuhan Kebondalem. (YouTube/Karang Taruna Gummarang)

Setiap kali memasuki musim panen, warga Padukuhan Kebondalem, Madurejo, Prambanan, Sleman, pasti menggelar tradisi Songong Nolobondho. Seperti apa ya tradisi tersebut?

Inibaru.id – Sudah bukan rahasia lagi kalau di Yogyakarta masih banyak sekali tradisi yang tetap terpelihara. Meski arus modernisasi di sana sudah semakin terasa, nyatanya berbagai ritual tradisi tetap dilaksanakan masyarakat. Salah satu di antaranya adalah tradisi songsong nolobondho yang tetap dilestarikan warga Padukuhan Kebondalem, Kelurahan Madurejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman.

Kamu bisa menemukan padukuhan ini sekitar 5 kilometer di sisi selatan dari Candi Prambanan. Di padukuhan tersebut, kondisi alamnya masih asri. Sebagaian besar warganya juga masih berprofesi sebagai petani. Bisa dikatakan, mereka masih menggantungkan alam sebagai sumber mata pencaharian sehari-hari.

Nah, karena merasa alam sudah banyak memberikan manfaat bagi kehidupan sehari-hari, masyarakat Padukuhan Kebondalem pun menggelar tradisi songsong nolobondho begitu musim panen tiba. Dengan melakukannya, mereka bisa mengekspresikan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah.

Tradisi ini terkait dengan cikal bakal Padukuhan Kebondalem. Ceritanya, dulu sekitar abad ke-15, seorang prajurit yang melarikan diri dari huru-hara yang meruntuhkan Kerajaan Majapahit bernama Ki Nolobondho tiba di wilayah yang kini jadi padukuhan tersebut. Dia kemudian memutuskan untuk tinggal di sana dan memulai hidup baru. Namanya pun kemudian berganti menjadi Ki Surotanu atau Ki Singoranu.

“Makam Ki Nolobondho ada di Watu Gong yang masih masuk wilayah Padukuhan Kebondalem,” ungkap salah seorang sesepuh setempat, Tukimin sebagaimana dilansir dari Radarjogja, Jumat (24/11/2023).

Makam Ki Nolobondho di Padukuhan Kebondalem. (Radarjogja/Agung Dwi Prakoso)

Saat sedang terjadi pagebluk atau kemarau panjang, Ki Nolobondho melakukan ritual dengan pusakanya. Ternyata, ritual tersebut berhasil dan pagebluk mampu diredam. Nah, setelah Ki Nolobondho tiada, warga setempat terus melakukan ritual berupa mengarak pusaka milik Ki Nolobondho mengelilingi Padukuhan Kebondalem demi mencegah datangnya pagebluk atau meredamnya.

“Pusakanya itu berupa tombak serta payung. Tombaknya bernama Tombak Nogo Welat, sementara payungnya bernama Tunggul Nogo. Kedua pusaka ini ditempatkan di rumah ahli waris Ki Nolobondho,” lanjut Tukimin.

Selain mengarak pusaka Ki Nolobondho, ada acara lain yang harus dilakukan saat tradisi ini digelar, yaitu mementaskan wayang dengan lakon Baratayudha.

“Soal dari mana dana acaranya, masyarakat urunan secara sukarela. Intinya acara ini memang harus terselenggara. Soalnya, selain sebagai wujud syukur, tradisi ini juga bisa jadi ajang silaturahmi dan guyub rukun warga Padukuhan Kebondalem,” jelas Kepala Padukuhan Kebondalem Galuh Ade Novi.

Yap, unik banget ya tradisi songsong nolobondho di Padukuhan Kebondalem ini. Semoga saja tradisi unik ini bisa terus bertahan dan digelar di masa anak cucu kita nanti, Millens. Setuju? (Arie Widodo/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Cantiknya Pemandangan Air Terjun Penawangan Srunggo di Bantul

20 Jan 2026

Cara Unik Menikmati Musim Dingin di Korea; Berkemah di Atas Es!

20 Jan 2026

Kunjungan Wisatawan ke Kota Semarang sepanjang 2025 Tunjukkan Tren Positif

20 Jan 2026

Belasan Kasus dalam Dua Tahun, Bagaimana Nasib Bayi yang Ditemukan di Semarang?

20 Jan 2026

Ratusan Perjalanan Batal karena Banjir Pekalongan, Stasiun Tawang Jadi Saksi Kekecewaan

20 Jan 2026

Viral 'Color Walking', Tren Jalan Kaki Receh yang Ampuh Bikin Mental Anti-Tumbang

20 Jan 2026

Nggak Suka Dengerin Musik? Bukan Aneh, Bisa Jadi Kamu Mengalami Hal Ini!

20 Jan 2026

Duh, Kata Menkes, Diperkirakan 28 Juta Warga Indonesia Punya Masalah Kejiwaan!

21 Jan 2026

Jika Perang Dunia III Pecah, Apakah Indonesia Akan Aman?

21 Jan 2026

Ki Sutikno; Dalang yang Tiada Putus Memantik Wayang Klithik Kudus

21 Jan 2026

Statistik Pernikahan Dini di Semarang; Turun, tapi Masih Mengkhawatirkan

21 Jan 2026

Kabar Gembira! Tanah Sitaan Koruptor Bakal Disulap Jadi Perumahan Rakyat

21 Jan 2026

Ternyata Bumi Kita Nggak Seburuk Itu, Simak Kabar Baik Pemulihan Alam Belakangan Ini!

21 Jan 2026

Kata Pakar Soal Makanan yang Bisa Bertahan Lebih dari 12 Jam

22 Jan 2026

Apakah Indonesia Sudah Memasuki Puncak Musim Hujan?

22 Jan 2026

Tradisi Unik jelang Ramadan; Nyadran 'Gulai Kambing' di Ngijo Semarang

22 Jan 2026

Bukan Cuma Rokok, Tekanan Finansial Juga Jadi Ancaman Serius buat Jantung

22 Jan 2026

Pantura 'Remuk' Pasca-Banjir, Pemprov Jateng Mulai Hitung Kerugian dan Siapkan Strategi Baru

22 Jan 2026

Menurut PBB, Dunia Sudah Memasuki Fase Kebangkrutan Air Global!

23 Jan 2026

Waktu-waktu Terburuk untuk Liburan ke Jepang pada 2026

23 Jan 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: