BerandaTradisinesia
Senin, 16 Jan 2022 13:00

Tradisi Membuang Ayam Hidup di Jembatan Kali Gelis Kudus

Sepasang pengantin membuang ayam hidup di Jembatan Kali Gelis Kudus. (ISK)

Di Kudus, jika iring-iringan mempelai melewati jembatan sungai besar seperti Kali Gelis bakal membuang seekor ayam hidup. Tujuannya, membuang bala dan melancarkan rezeki. Meski ini tradisi sejak abad 14, hingga kini masih dilestarikan.

Inibaru.id – Di Kabupaten Kudus ada satu tradisi unik yang masih dilestarikan hingga kini yaitu membuang ayam di Jembatan Kali Gelis oleh iring-iringan pengantin. FYI, tradisi itu dilakukan iring-iringan pengantin ketika menuju ke rumah mempelai perempuan untuk melaksanakan akad nikah atau ngunduh mantu.

Masyarakat percaya, prosesi tersebut dapat menghindarkan sepasang pengantin itu dari bala atau marabahaya yang dimungkinkan terjadi. Di Kudus, tradisi ini cukup kental.

Bahkan, ketika musim orang menikah, terkadang ada seseorang yang sengaja menunggu di jembatan lo buat mengambil ayam yang sengaja dibuang rombongan pengantin.

Kalau kata sejarawan Kudus Sancaka Dwi Supani, tradisi membuang ayam di jembatan itu sudah berkembang sebelum agama Islam masuk ke Kudus. Tradisi tersebut merupakan tradisi Jawa peninggalan nenek moyang terdahulu, Millens.

Tradisi nenek moyang zaman dahulu, sambung Supani, saat prosesi iring-iringan pengantin melalui sungai atau jembatan pasti membuang sesaji yang bernyawa.

Tujuannya, sebagai rasa syukur kepada Tuhan dan berharap agar diberi keselamatan.

“Tradisi itu sudah berkembang di abad 14, sebelum Islam masuk atau masa kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, dikenal dengan masa klasik,” katanya, Kamis (13/1/2022).

Ayam dikenal sebagai hewan yang pandai mencari makan. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Dia juga menjelaskan bahwa prosesi itu untuk tolak bala dan mempermudah rezeki bagi pasangan pengantin. "Kalau ayam itu diibaratkan kan bisa notol-notol,” lanjutnya.

Ternyata prosesi tradisi itu bukan hanya dilakukan ketika melalui Jembatan Kali Gelis. Melainkan, jembatan sungai besar lainnya yang dilewati rombongan pengantin seperti Jembatan Ploso, ataupun Jembatan Tanggulangin.

Meski bermaksud baik, lanjut Supani, hal tersebut nggak harus dilakukan. Semua itu tergantung kepercayaan pemilik hajat.

“Tradisi itu harus dimaknai yang baik saja. Bisa diartikan rasa syukur untuk buang sengkala (musibah-red), agar selamat dan wujud syukur kepada Tuhan,” imbuhnya.

Sementara, Pemerhati Sejarah Kudus, Moh Rosyid menyebut, tradisi buang ayam di jembatan oleh iring-iringan pengantin itu merupakan adat Jawa. Tradisi tersebut memang dipercaya untuk menolak bala atau musibah.

“Bisa dibilang untuk buang sengkala yakni, simbol penyakit yang dibuang agat sehat. Serta selamat dengan memindahkan penyakit pada hewan yang dibuang,” ujarnya.

Namun menurut pendapatnya, memang sekarang ini perlu kehati-hatian dalam memaknai tradisi itu. Perlu diluruskan jika mengarah pada sinkretis atau kemusyrikan.

“Karena banyak yang menafsirkannya itu beragam dan perlunya penjelasan lebih dalam tentang tradisi membuang ayam itu pada generasi milenial, agar maknanya itu bisa tepat tersampaikan dan dipahami,” ucapnya.

Di Demak Juga Ada Tradisi Ini

Pengantin di Demak juga melakukan tradisi membuang ayam jika melewati jembatan sungai besar. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)

Selain Kudus, tradisi ini ternyata juga dilakukan di Demak.

Saya pernah melihat langsung rombongan pengantin tante saya ketika sedang dalam perjalanan ngunduh mantu. Kebetulan, tante saya bukan orang Kudus melainkan Demak. Saat itu, rombongan kami hendak melewati jembatan sungai besar untuk menuju kediaman om saya di desa sebelah.

Begitu sampai di jembatan, mobil berhenti di pinggir jembatan dan seseorang menyodorkan seekor ayam jantan kepada lelaki tua yang sedang menuntun sepeda.

Lelaki itu tampak tersenyum dan berterima kasih karena telah diberi seekor ayam hidup berukuran lumayan besar. Saya perhatikan dia nggak bertanya kepada pemberi ayam mengapa tiba-tiba diberi ayam. Saya asumsikan bapak-bapak tadi sudah tahu apa maksud pemberian itu.

Dari peristiwa itu, saya pikir ayam tersebut nggak benar-benar dibuang atau disia-siakan melainkan diberikan kepada seseorang. Jadi, saya rasa tradisi "membuang" sesajen berupa ayam hidup nggak bikin Tuhan marah. He (Mur/IB21/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Di Korea Selatan, Siswa Pelaku Bullying Dipersulit Masuk Universitas

19 Jan 2026

Melegenda di Muntilan, Begini Kelezatan Bubur Mbah Gamping

19 Jan 2026

Terdampak Banjir, Warga Wonorejo Mulai Mengeluh Gatal dan Demam

19 Jan 2026

Antisipasi Doomscrolling, Atur Batas Waktu Youtube Shorts Anak dengan Fitur Ini!

19 Jan 2026

Opsi Layanan Kesehatan 'Jemput Bola' untuk Warga Terdampak Banjir Wonorejo

19 Jan 2026

Bijak Kenalkan Gawai dan Media Sosial pada Anak

19 Jan 2026

Bupati Pati Sudewo Kena OTT KPK! Terkait Kasus Apa?

19 Jan 2026

Jalur Pekalongan-Sragi Tergenang, Sebagian Perjalanan KA Daop 4 Semarang Masih Dibatalkan

19 Jan 2026

Cantiknya Pemandangan Air Terjun Penawangan Srunggo di Bantul

20 Jan 2026

Cara Unik Menikmati Musim Dingin di Korea; Berkemah di Atas Es!

20 Jan 2026

Kunjungan Wisatawan ke Kota Semarang sepanjang 2025 Tunjukkan Tren Positif

20 Jan 2026

Belasan Kasus dalam Dua Tahun, Bagaimana Nasib Bayi yang Ditemukan di Semarang?

20 Jan 2026

Ratusan Perjalanan Batal karena Banjir Pekalongan, Stasiun Tawang Jadi Saksi Kekecewaan

20 Jan 2026

Viral 'Color Walking', Tren Jalan Kaki Receh yang Ampuh Bikin Mental Anti-Tumbang

20 Jan 2026

Nggak Suka Dengerin Musik? Bukan Aneh, Bisa Jadi Kamu Mengalami Hal Ini!

20 Jan 2026

Duh, Kata Menkes, Diperkirakan 28 Juta Warga Indonesia Punya Masalah Kejiwaan!

21 Jan 2026

Jika Perang Dunia III Pecah, Apakah Indonesia Akan Aman?

21 Jan 2026

Ki Sutikno; Dalang yang Tiada Putus Memantik Wayang Klithik Kudus

21 Jan 2026

Statistik Pernikahan Dini di Semarang; Turun, tapi Masih Mengkhawatirkan

21 Jan 2026

Kabar Gembira! Tanah Sitaan Koruptor Bakal Disulap Jadi Perumahan Rakyat

21 Jan 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: