BerandaTradisinesia
Selasa, 8 Agu 2022 10:03

Tersisa Dua Grup di Purworejo yang Terus Lestarikan Kesenian Cing Po Ling

Kesenian khas Purworejo, Cing Po Ling. (Beritapurworejocom.blogspot.com)

Kesenian khas Purworejo, Cing Po Ling, di ambang kepunahan. Hanya tinggal dua grup kesenian ini yang tersisa di sana. Tapi, keduanya bertekad melestarikan kesenian tersebut.

Inibaru.id - Sering kita mendengar kabar kesenian daerah yang keberadaannya di ambang kepunahan. Regenerasi yang nggak berjalan ditambah gempuran hiburan kekinian yang beragam jadi salah satu penyebabnya.

Namun, semangat dan perjuangan para pegiat seni tradisional sulit terkalahkan. Dilandasi rasa senang dan cinta mereka tetap berkesenian walau zaman berganti dan keadaan makin sulit.

Kesenian Cing Po Ling dari Purworejo adalah contoh kesenian kuno yang tetap berusaha hidup di tengah-tengah modernisasi di sana sini. Kita masih bisa menemukan tarian yang sudah ada di zaman penjajahan Belanda pada acara-acara tertentu di Kota Pejuang ini.

Di kota itu masih ada dua grup Cing Po Ling yang bertahan dan aktif berkesenian. Mereka adalah Ponco Manunggal Jati yang berasal dari Desa Jatirejo, Kaligesing dan Tunggul Wulung dari Desa Kesawen, Kecamatan Pituruh. Keduanya kini jadi duet penjaga terakhir kesenian Cing Po Ling.

“Sekarang kita sudah generasi kelima,” ungkap Ketua Grup Ponco Manunggal Jati Tukiyat di Desa Jatirejo, Minggu (7/8/2022).

Optimis Tetap Lestari

Meski grup kesenian ini tinggal sedikit, Tukiyat percaya kalau Cing Po Ling nggak akan punah. Dia pernah mengalami kondisi lebih mengenaskan pada 1990-an. Kala itu, hanya tinggal enam penari kesenian ini di desanya.

Kenyataannya, kini regenerasi penari Cing Po Ling bisa dikatakan berjalan baik. Sekarang ada 22 penari laki-laki dan perempuan dengan rentang usia yang cukup lebar, yaitu 19 sampai 60 tahun.

“Cing Po Ling masih dibutuhkan secara adat. Tarian ini dimainkan saat perayaan hari nasional. Karena itulah kami bisa terus bertahan dan berkembang,” lanjut laki-laki berusia 54 tahun itu.

Tekad yang sama juga diungkap Mbah Simun, Ketua grup kesenian Tunggul Wulung. Dia dan rekan-rekannya bakal terus menjaga kelestarian kesenian ini, meskipun pendapatan nggak seberapa.

“Ini adalah warisan orang tua. Kalau menurut saya, jangan sampai punah, karena hanya ini satu-satunya,” harap laki-laki berusia lebih dari 80 tahun tersebut, Jumat (19/10/2018).

Dapat Perhatian Pemerintah

Tinggal dua grup kesenian Cing Po Ling di Purworejo. (Kompas/Bayu Apriliano)

Pendapatan para pemain kesenian Cing Po Ling tergolong kecil. Pada 2018 lalu tiap penarinya biasa mendapat Rp 50.000. Untungnya kini kesenian ini mendapat perhatian dari pemerintah desa dan kabupaten setempat.

Setiap tahun mereka mendapatkan dana pembinaan sebesar Rp 2 juta. Selain itu, Pemkab juga cukup getol mengampanyekan pelestarian kesenian ini sehingga mulai banyak siswa sekolah dan mahasiswa yang pengin belajar kesenian tersebut.

Bukan Kesenian Tionghoa

Seperti tarian tradisional lainnya, kesenian Cing Po Ling merupakan tarian yang mengandung sejarah. Diyakini ada sejak abad ke-18, Cing Po Ling terdengar seperti kesenian khas Tionghoa. Padahal tarian ini nggak ada hubungan dengan Tionghoa lo, Millens.

Cing Po Ling merupakan kombinasi dari tiga nama pengawal Ki Demang Kesawen, salah seorang pejabat tinggi Purwerojo pada zaman dahulu. Cing berasal dari nama Krincing, Po diambil dari nama Dipo, dan Ling berasal dari nama Keling.

Cing Po Ling biasanya dimainkan oleh 11 penari yang terdiri atas seorang pemayung, dua orang sebagai pemencak, dan delapan orang penari lain yang berbaris berpasang-pasangan. Tarian yang menunjukkan gerakan prajurit pada zaman dahulu dipentaskan dalam durasi kurang dari 30 menit.

Nah, kalau sedang ada di Purworejo, jangan lewatkan kesenian Cing Po Ling ini ya, Millens! Jangan biarkan kesenian ini punah karena generasi nggak muda nggak mau menontonnya. (Pit,Kom/IB09/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Kelapa Kopyor Mahal Bukan Tanpa Alasan, Ini Fakta Menariknya

31 Jul 2026

Jemparingan, Seni Panahan Khas Mataram yang Mengajarkan Fokus dan Keteguhan Hati

1 Agu 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: