Inibaru.id - Menyaksikan pementasan tari Serimpi memang sering bikin kita merasa sedang berada di dimensi lain. Alunan musik gamelan yang mendayu-dayu berpadu dengan gerakan penari yang sangat halus, nggak heran kalau banyak yang bilang menontonnya serasa lagi bermimpi.
Tapi, di balik keanggunan gerak para penarinya, ada satu jenis Serimpi yang punya cerita "berani" melawan penjajah. Namanya Tari Serimpi Sangupati.
Secara filosofis, nama "Serimpi" berasal dari kata impi atau mimpi. Tarian ini melambangkan empat unsur kehidupan manusia: api (grama), udara (angin), air (toya), dan tanah (bumi) yang diwakili oleh empat orang penari.
Khusus untuk jenis Sangupati, sejarahnya cukup unik. Awalnya tarian ini bernama Sangapati yang berarti "sang pengganti raja". Namun, pada masa pemerintahan Pakubuwono IX, namanya diubah menjadi Sangupati. Perubahan ini nggak lepas dari arogansi Belanda yang kala itu memaksa keraton menyerahkan tanah pesisir Jawa.
Jamuan Maut: Pistol dan Gelas Minum
Dalam sebuah perundingan dengan Belanda, pihak Keraton Surakarta menyuguhkan tari Serimpi Sangupati sebagai jamuan. Tapi jangan salah, ini bukan sekadar hiburan biasa.
Para penari dilengkapi dengan properti unik yaitu pistol dan gelek inum (gelas minum untuk menjamu tamu). Yang bikin merinding, konon pada zaman dulu pistol yang dibawa para penari diisi dengan peluru asli, lo! Ini adalah bentuk pertahanan diri sekaligus peringatan kalau pihak Belanda macam-macam atau melakukan serangan mendadak saat perundingan.
Kalau biasanya penari Serimpi identik dengan keris yang terselip di pinggang, pada Serimpi Sangupati, keris tersebut diganti dengan pistol.
Dari segi busana, para penari mengenakan pakaian pengantin putri gaya keraton lengkap dengan gelung bokor. Namun seiring perkembangan zaman, kostumnya mulai bervariasi dengan penggunaan baju tanpa lengan warna cerah hingga hiasan bulu burung kasuari di kepala. Tentu saja, pistol yang dibawa sekarang hanya properti pelengkap tanpa peluru beneran ya, Gez!
Pesan Moral: Melawan Nafsu Sendiri
Di luar konteks sejarah kolonialnya, Serimpi Sangupati punya pesan luhur yang sangat dalam. Gerakannya yang tenang dan terkontrol melambangkan perjuangan manusia dalam mengendalikan hawa nafsu.
Tarian ini mengajarkan bahwa setiap tingkah laku kita harus membawa kebaikan dan kesejahteraan bagi sesama. Benar-benar sebuah mahakarya yang memadukan keindahan, diplomasi, dan spiritualitas dalam satu paket lengkap.
Tari Serimpi Sangupati adalah bukti kalau seni bisa jadi senjata diplomasi yang elegan. Sebagai generasi muda, tugas kita adalah menjaga agar tarian penuh sejarah ini nggak punah ditelan zaman.
Wah, jadi makin bangga ya sama kekayaan budaya kita? Kalau kamu punya kesempatan belajar tari tradisional, tarian apa nih yang pengin banget kamu kuasai? (Siti Zumrokhatun/E05)
