BerandaTradisinesia
Rabu, 16 Jun 2020 13:20

Tanam Paksa Kopi Favorit Ratu Belanda dan Selera Ngopi di Lereng Gunung Muria

Kebun Kopi di Semenanjung Muria yang menghadap selatan. (Inibaru.id/Rafida Azzundhani)

Tanam paksa membuat Desa Japan dan Colo mengenal kopi sejak zaman kolonial Belanda. Namun, bukan kopi murni yang mereka nikmati setiap hari, melainkan kopi yang dicampur jagung atau beras.

Inibaru.id – Pada zaman kolonial, pemerintah Belanda menjadikan hutan di sekitar Gunung Muria sebagai lahan menanam kopi. Berawal dari tanam paksa, kopi perlahan menjadi bagian nggak terpisahkan dari penduduk lereng gunung api tidur (dormant) tersebut hingga kini.

Kalau kebetulan ke Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, mampirlah ke Desa Japan dan Colo yang ada di Kecamatan Dawe, kecamatan yang sama dengan lokasi Makam Sunan Muria. Di sana, kamu bisa merasakan vibe masyarakat setempat yang begitu familiar dengan kopi.

Sebagian orang menyebut kopi Muria, tapi sebagian lain menamainya kopi Colo. Konon, kopi ini berasal dari kebun-kebun yang merupakan peninggalan zaman kolonial. Hasilnya bagus dan menjadi komoditas ekspor menjanjikan, yang berarti nggak ada kesempatan untuk masyarakat setempat mencicipinya.

Ketua Komunitas Kopi Muria Ato Pujiharto mengatakan, pemerintah Belanda sejak medio 1800-an dipercaya telah memetakan bagian selatan dan timur Semenanjung Muria (wilayah Jawa Tengah di sekitar Gunung Muria yang menjorok ke utara) sebagai lahan untuk menanam kopi.

Menurut Ato, hasil panen kopi di kawasan kebun kopi sebelah selatan dan timur lebih baik ketimbang yang menghadap barat.

"Bagian selatan dan timur yang terkena sinar matahari sepanjang hari rupanya memengaruhi kualitas biji kopi serta cita rasa yang dihasilkan," kata Ato.

Nadi Perekonomian Masyarakat 

Lahan kopi di lereng Muria sejatinya harus dinormaliasi pada 1925, beberapa tahun pasca-tanam paksa dihapuskan. Namun, perkebunan itu terus dipertahankan warga. Bahkan, ketika pegunungan Muria ditetapkan sebagai hutan lindung pada 1972, kebun kopi justru berkelindan dengan hutan.

Kopi yang pada abad ke-18 konon merupakan favorit Ratu Belanda Wilhelmina itu memang menjadi nadi perekonomian masyarakat. Tanpa mengesampingkan kekejamannya, ratusan hektare kebun kopi berkualitas bagus yang tersisa sebagai imbas dari tanam paksa memang begitu dirasakan warga.

Salah satu produk kopi khas Lereng Muria. (Inibaru.id/Rafida Azzundhani)

Hal serupa juga terjadi dalam hal selera ngopi. Dibanding kopi murni, sebagian masyarakat Colo dan Japan masih memilih kopi yang dicampur jagung atau beras. Ini terjadi lantaran pada zaman kolonial, kopi bagus dibawa ke Belanda, sementara pribumi hanya menikmati sisanya, yang dicampur jagung.

"Sampai sekarang, banyak orang tua di sini merasa takut kalo membuat kopi yang murni,” lontar Ato, yang berjanji pengin mengubah persepsi tersebut bersama Komunitas Kopi Muria. “Akan kami ubah sedikit demi sedikit mindset orang tua kami itu."

Persepsi yang Salah

Ato mengungkapkan, saat ini pihaknya terus berusaha mengedukasi masyarakat tentang kopi. Menurut dia, selain nggak terbiasa, sejumlah orang di desanya mengaku enggan meminum kopi murni karena memicu asam lambung. Padahal, asam lambung muncul karena proses penyajian kopi yang salah.

"Dalam pembuatan kopi kan ada blooming, proses ketika bubuk kopi mengembang setelah diseduh air panas sampai keluar gelembung-gelembung," kata Ato.

Dia menerangkan, setelah diberi air panas, kopi sebaiknya didiamkan terlebih dahulu. Jangan langsung diaduk, karena akan menyebabkan gelembung yang berisi gas karbondioksida itu terjebak di dalam kopi!

“Kalau belum menguap kita minum, menguapnya di dalam perut dan menyebabkan asam lambung,” terangnya.

Basecamp Komunitas Kopi Muria. (Inibaru.id/Rafida Azzundhani)

Hal senada juga diungkapkan Aris Yulianto, humas komunitas yang membawahi para petani kopi di Jepang dan Colo tersebut. Menurutnya, kondisi tubuh juga turut memengaruhi dampak yang terjadi setelah meminum kopi.

“Kalau biji kopi dari awal penanaman, pembibitan, hingga panen dilakukan dengan benar, minum kopi nggak bakal memengaruhi kesehatan, kecuali memang kondisi tubuhnya sudah bermasalah,” tutur Aris yang mengaku tengah menggalakkan petani agar memakai nggak pupuk kimia.

Oya, perlu kamu tahu, Komunitas Kopi Muria saat ini memang tengah mendorong petani untuk nggak memakai pupuk kimia pada tanaman kopi. Aris mengatakan, hasil kopi yang dipupuk dengan bahan kimia memang lebih banyak, tapi rasanya beda.

"Kami menekankan kepada petani untuk kembali ke alam. Hasil panen mungkin menurun, tapi kualitas bagus,” ungkap lelaki yang juga menjadi pengurus Kelompok Tani Hutan Muria Koentjen Rejo itu.

Hm, sungguh menarik kisah tentang kopi Muria ini ya, Millens. Kamu tertarik mencicipi kopi kebanggaan warga Kudus ini juga? (Rafida Azzundhani/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Desa Giyombong Pernah Jadi Ibu Kota Jawa Tengah pada 1948, Ini Kisahnya

10 Agu 2026

Tari Lengger Banyumas: Warisan Budaya Penuh Makna yang Tetap Menari Melintasi Zaman

11 Agu 2026

AI Factory Terbesar di Asia Tenggara Bakal Dibangun di Indonesia, Kapasitas Capai 1 GW

12 Agu 2026

Pelajar SD-SMP di Yogyakarta Bakal Wajib Berbahasa Jawa Krama Inggil Sehari dalam Sepekan

13 Agu 2026

Temuan Situs Bongal Geser Linimasa Masuknya Islam ke Nusantara hingga Tujuh Abad

14 Agu 2026

HUT ke-81 RI, KAI Beri Diskon Tiket 17 Persen

14 Agu 2026

Pertalite Bakal Dibatasi untuk Desil 9-10, Siapa Saja yang Masuk Kelompok Ini?

15 Agu 2026

Rerie Dorong Situs Patiayam Terus Dijaga sebagai Warisan Peradaban

16 Agu 2026

Unik! Upacara HUT RI di Gang Presiden Puntan Diramaikan Kostum Daur Ulang Sampah

17 Agu 2026

Motor Bensin Bisa Ditukar Motor Listrik, Pemerintah Siapkan Skema Baru

18 Agu 2026

Bukan Rekaman Asli 17 Agustus 1945, Ini Sejarah Suara Proklamasi Bung Karno

19 Agu 2026

Negara Pertama yang Mengakui Indonesia Merdeka

20 Agu 2026

Sinewara, Bioskop BUMN Besutan PFN Siap Meluncur 2027

21 Agu 2026

Garuda Indonesia Uji Internet Cepat di Udara, Video Call dari Ketinggian 30 Ribu Kaki

22 Agu 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: