BerandaTradisinesia
Senin, 17 Agu 2025 09:00

Sejarah yang Menyertai Keberadaan Tugu Lancip di Kabupaten Purbalingga

Tugu Lancip di Kabupaten Purbalingga. (Google Street View)

Diperkirakan, Tugu Lancip dibangun pada dekade 1930-an sebagai penanda pembangunan jalan penghubung antara Kabupaten Purbalingga dan Pemalang, serta jadi penanda batas kota dan area perkebunan.

Inibaru.id – Di persimpangan jalan yang menghubungkan Kabupaten Purbalingga dengan Pemalang, tepatnya di antara Desa Bobotsari dan Karangduren, Kecamatan Bobotsari, terdapat sebuah monumen ikonik yang dikenal dengan sebutan Tugu Lancip. Lebih dari sekadar bangunan, tugu ini punya cerita sejarah yang cukup menarik, lo.

Bentuk Tugu Lancip sangatlah nggak biasa. Jika di tempat lain kebanyakan tugu biasanya berbentuk seperti lilin yang ramping dan tinggi, Tugu Lancip terkesan “bantat” dengan bentuk limas dan mirip dengan piramida yang lebih runcing. O ya, dalam Bahasa Jawa, istilah “runcing” disebut sebagai “lancip”. Dari kata inilah nama tugu ini berasal.

Menurut Gunanto Eko Saputro dari Komunitas Historia Perwira sebagaimana dinukil dari Suaramerdeka, Senin (30/6/2025), Tugu Lancip berfungsi sebagai penanda wilayah pada zaman dahulu. Konon, tugu ini dibangun pada masa pemerintahan Bupati Purbalingga ke-9, KRA Aryo Soegondo yang menjabat dari tahun 1925 hingga 1949. Meski begitu, banyak yang menduga pembangunannya pada dekade 1930-an.

KRA Aryo Soegondo yang merupakan menantu dari Susuhunan Pakubuwono X Surakarta dikenal sebagai salah satu tokoh yang giat memerintahkan pembangunan infrastruktur di wilayah tempatnya memerintah, termasuk jalan penghubung antara Bobotsari dan Pemalang.

Jalan yang dulunya hanya berupa jalur setapak sempit diperlebar menjadi jalan umum selebar empat meter, dan Tugu Lancip didirikan sebagai penanda dimulainya proyek besar tersebut.

Lebih dari itu, tugu ini juga dulunya berfungsi sebagai batas antara kawasan kota dan area perkebunan. Kawasan sekitarnya memang dikenal sebagai pusat produksi komoditas perkebunan seperti kopi, teh, dan kina. Bahkan, konon di dekat lokasi tugu, dulu terdapat pos pengawasan atau gardu yang berfungsi untuk menjaga keamanan area perkebunan. Sayangnya, gardu tersebut kini telah hilang.

Tugu Lancip diperkirakan sudah eksis sejak zaman Indonesia masih dijajah Belanda. (Google Street View).

Kalau kamu cermati, pada tugu tersebut terdapat unsur Hindu – Buddha yang sangat kuat, lo. Pada bagian atas, ada motif Kalamakara, hiasan berbentuk wajah raksasa dengan taring dan mata melotot yang sering ditemukan pada pintu candi-candi kuno seperti Borobudur dan Mendut.

Motif ini diiringi dengan makhluk makara, perpaduan antara naga, gajah, buaya, dan ikan. Pada bagian tengah tugu, terdapat pola tumpal berbentuk daun waru yang disusun menyerupai untaian, dihiasi dengan bunga dan tunas.

Di bagian kaki tugu, terdapat relief Bodhisattva Avalokitesvara dalam posisi duduk dengan satu kaki terlipat dan satu kaki menjuntai. Ikonografi ini sangat mirip dengan yang ada di Candi Mendut, menunjukkan adanya pengaruh budaya Hindu-Buddha yang kuat dalam desain tugu.

Nggak cuma motifnya yang menarik, bentuknya yang lancip melambangkan arah vertikal menuju Tuhan, mencerminkan aspek spiritual yang hadir dalam banyak kepercayaan, termasuk Hindu dan Buddha.

Tugu ini juga terbagi dalam tiga tingkat struktur, sejalan dengan konsep pembagian kosmos dalam ajaran Hindu-Buddha, yakni Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu dalam Buddhisme, atau Bhurloka, Bhuvarloka, dan Svarloka dalam ajaran Hindu. Pembagian kosmos ini menggambarkan hubungan antara dunia fisik, dunia spiritual, dan dunia yang tak tampak oleh mata manusia.

Karena kaya sejarah, pada 2018, melalui SK Nomor 432/226, pemerintah daerah Kabupaten Purbalingga menetapkan Tugu Lancip sebagai cagar budaya. Status ini bikin Tugu Lancip dijaga keberadaannya. Makanya, pada saat ada proyek pelebaran jalan pada 2015, tugu tersebut sampai dipindah agar nggak rusak.

Menarik banget ya kisah Tugu Lancip di Purbalingga ini. Kalau kamu lewat jalan antara Purbalingga dan Pemalang, jangan lupa mampir di lokasi tugu tersebut, ya, Gez? (Arie Widodo/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Viral Buku 'Broken Strings, Begini Tanggapan Orang Tua yang Memiliki Anak Remaja

17 Jan 2026

Lebih dari Merajut Kerukunan, Tradisi Nyadran Perdamaian di Temanggung Digelar Demi Menjaga Alam

17 Jan 2026

Perselingkuhan dan Judol, Pemicu Ribuan Istri Gugat Cerai Suami di Semarang

17 Jan 2026

Perbarui Eksonim, Indonesia Revisi Penulisan Nama Sejumlah Negara Asing

17 Jan 2026

Begini Pola Pelaku Child Grooming di DIY Menguasai Korbannya

17 Jan 2026

Menyisir Jejak Pangeran Samudra, Bangsawan Majapahit yang Abadi di Puncak Kemukus

17 Jan 2026

Trik Menyimpan Pisang Biar Nggak Cepat Membusuk

18 Jan 2026

Enak dan Mengenyangkan, Begini Cerita Warung Pecel dan Brongkos Mbok Teguh Pakis, Magelang

18 Jan 2026

Ratusan Ribu Keluarga Belum Punya Rumah, Apa Rencana Pemkot Semarang?

18 Jan 2026

Ketika Wayang Klithik Menolak jadi 'Artefak' Budaya

18 Jan 2026

Gawat! Dijajah Spesies Asing, Jumlah Serangga Lokal Anjlok

18 Jan 2026

Parenting Tipe C, Gaya Asuh Fleksibel yang Bikin Anak dan Orang Tua Lebih Bahagia

18 Jan 2026

Di Korea Selatan, Siswa Pelaku Bullying Dipersulit Masuk Universitas

19 Jan 2026

Melegenda di Muntilan, Begini Kelezatan Bubur Mbah Gamping

19 Jan 2026

Terdampak Banjir, Warga Wonorejo Mulai Mengeluh Gatal dan Demam

19 Jan 2026

Antisipasi Doomscrolling, Atur Batas Waktu Youtube Shorts Anak dengan Fitur Ini!

19 Jan 2026

Opsi Layanan Kesehatan 'Jemput Bola' untuk Warga Terdampak Banjir Wonorejo

19 Jan 2026

Bijak Kenalkan Gawai dan Media Sosial pada Anak

19 Jan 2026

Bupati Pati Sudewo Kena OTT KPK! Terkait Kasus Apa?

19 Jan 2026

Jalur Pekalongan-Sragi Tergenang, Sebagian Perjalanan KA Daop 4 Semarang Masih Dibatalkan

19 Jan 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: