Melirik Nasib Kain Tenun Kluwung Purbalingga yang Semakin Merana

Melirik Nasib Kain Tenun Kluwung Purbalingga yang Semakin Merana
Kluwung gendong, kain tenun khas Purbalingga. (Twitter @JejakManda)

Purbalingga ternyata punya kain tenun khas. Kluwung Gendong namanya. Proses pembuatannya juga unik karena beda dari kain tenun biasa. Sayangnya, kain ini semakin kurang diminati.

Inibaru.id – Kain tenun Kluwung Gendong adalah kain tenun khas Purbalingga, Jawa Tengah. Kain ini sempat mengalami masa jaya dan dipakai banyak orang pada masa kolonial Belanda hingga penjajahan Jepang. Sayangnya, kini semakin jarang orang mau memakainya.

Saat masyarakat di daerah lain masih menggunakan karung goni sebagai baju, masyarakat Purbalingga sedikit lebih maju dan kreatif. Mereka membuat kain tenun kluwung yang berasal dari serat kapas. Padahal, pada masa itu, kain identik dengan pakaian kaum bangsawan dan priyayi.

Kalah Pamor dengan Kain Modern

Beda dengan zaman dahulu, kain yang lebih halus dari karung goni ini semakin nggak diminati masyarakat Purbalingga yang lebih memilih pakaian modern dengan bahan yang lebih halus seperti katun, linen, dan drill. Meski begitu, perajin kain tenun ini masih eksis di Desa Tajug, Kecamatan Karangmoncol. 

Memang, jika dibandingkan dengan saat zaman penjajahan, jumlah perajin kain tenun ini semakin sedikit. Kini, yang tersisa hanya sepuluh orang. Itu pun hanya enam orang yang masih aktif mengerjakan kain tenun kluwung berdasarkan pesanan saja.

Proses pembuatan kluwung gendong di Desa Tajug, Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga. (Warta Andalas)
Proses pembuatan kluwung gendong di Desa Tajug, Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga. (Warta Andalas)

Tenun Kluwung Beralih Fungsi Jadi Alat Gendong

Ada banyak alasan yang membuat kain tenun kluwung semakin nggak diminati. Yang pertama adalah proses pengerjaannya yang cenderung lama. Untuk kain berukuran standar 60 cm x 120 cm saja, pengerjaannya bisa memakan waktu satu hingga dua minggu. Maklum, prosesnya masih serba manual.

Sayangnya, proses pembuatan kain yang lama ini nggak sebanding dengan harga jualnya yang murah. Per lembarnya, harganya hanya Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu.

Padahal, kalau dicermati, proses pembuatan kain tenun kluwung beda dari kain tenun pada umumnya. Soalnya, serat atau benang yang akan ditenun ternyata dicelupkan terlebih dahulu ke bahan pewarna. Hal ini tentu membuat kombinasi warna kain tenun ini sangat unik.

Alih-alih menjadi pakaian, kain tenun kluwung kini lebih sering dijadikan alat untuk menggendong. Yang digendong nggak hanya bayi, ya, Millens, melainkan juga sejumlah perkakas atau barang dagangan yang dijual keliling. Meski begitu, ada sejumlah orang yang sengaja membeli kain tenun kluwung sebagai syal penghangat atau oleh-oleh dari Purbalingga.

Hm, semoga saja kain tenun kluwung asli Purbalingga nggak sampai punah, ya Millens! (Lip, Jat/IB31/E07)