BerandaTradisinesia
Kamis, 19 Feb 2025 08:59

Potret Kerukunan Antarumat Beragama dalam Tradisi Sadranan Desa Genting Boyolali

Warga membawa tenong berisi makanan melewati sebuah gereja untuk meramaikan tradisi sadranan di Dusun Sidorejo, Desa Genting, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali. (Solopos/Nimatul Faizah)

Selain masjid dan gereja yang letaknya berdekatan, umat Islam dan Kristen di Dusun Sidorejo juga menggelar tradisi Sadranan dengan berdampingan.

Inibaru.id – Sadranan menjadi salah satu tradisi tahunan yang dilaksanakan di banyak tempat di Jawa. Biasanya, tradisi yang digelar pada 17 Ruwah dalam Kalender Jawa ini dilakukan oleh umat muslim. Namun, di Dusun Sidorejo, Desa Genting, Kabupaten Boyolali, umat lain juga turut mengikutinya, lo!

Dusun Sidorejo adalah wilayah yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Hanya ada tujuh keluarga yang tercatat menganut Kristen. Namun, dominasi itu nggak lantas membuat para minoritas terpinggirkan, termasuk dalam hal penyelenggaraan tradisi seperti sadranan.

Sejak pagi, warga Dusun Sidorejo sudah berbondong-bondong ke makam leluhur membawa tenong yang berisikan aneka macam makanan. Tenong adalah wadah berbentuk bulat yang biasa dibawa dengan disunggi atau diletakkan di atas kepala.

Awalnya, tengong yang dibawa terbuat dari anyaman bambu. Namun, saat ini sebagian besar warga telah membawa tenong yang lebih modern, berbahan logam, membuatnya terlihat mirip seperti rombongan penjual bakpau yang baru saja berangkat dari rumah. Ha-ha.

Melewati Masjid dan Gereja

Warga menggelar doa bersama di makam leluhur di Dusun Sidorejo. (Radarsolo/Arief Budiman)

Dalam perjalanan menuju makam, rute rombongan pembawa tenong akan melintas di depan masjid dan gereja yang lokasinya berdekatan. Sejak puluhan tahun lalu, kedua tempat ibadah ini memang sudah dibangun berdekatan, kian mempertegas kerukunan antarumat beragama di wilayah tersebut.

Dalam pelaksanaan Sadranan, para penganut Kristen juga nggak mempermasalahkan doa bersama yang dipanjatkan dengan cara Islam. Menurut mereka, yang penting harapan yang dipanjatkan memberikan kebaikan untuk semua orang.

Seusai berdoa, para warga akan makan bersama, lalu kembali pulang ke rumah masing-masing. Dalam perjalanan pulang atau setelah sampai di rumah, mereka akan berkunjung ke tempat tetangga untuk bersilaturahim, membuatnya menjadi begitu mirip dengan suasana lebaran.

“Tradisi ini adalah warisan yang diturunkan oleh leluhur kita dan bakal terus kami lestarikan. Di Sidorejo, umat Islam dan Kristen bakal terus bersatu dalam acara ini. Yang membedakan kami hanyalah keyakinan masing-masing saja,” ucap salah seorang tokoh masyarakat setempat Rosyidi sebagaimana dinukil dari Radarsolo, Senin (17/2/2025).

Salah seorang umat kristiani di dusun tersebut, Suparno, juga mengaku bakal terus mengikuti tradisi sadranan pada tahun-tahun berikutnya dan mewariskan ajaran tersebut ke para keturunannya.

“Kami semua petani di sini dan mengandalkan pertanian untuk kehidupan ekonomi bersama. Maka, kami harus saling mendukung dan menguatkan. Dari dulu gereja dan masjid di sini berdekatan dan selalu akur,” tegas Suparno.

Siapa sangka, dari sebuah tradisi, kerukunan antarumat beragama bisa tetap terjaga. Tradisi sadranan di Dusun Sidorejo ini menjadi contoh bagaimana perbedaan nggak perlu menjadi halangan untuk hidup berdampingan. Setuju, Millens? (Arie Widodo/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Belajar dari Burung Dodo: Ketika Dunia Berubah, Bertahan Saja Tidak Cukup

1 Mei 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: