BerandaTradisinesia
Kamis, 10 Mar 2021 19:36

Nyale, Cacing Warna-warni Jelmaan Putri Mandalika di Lombok

Cacing warna-warni jelmaan Putri Mandalika yang diburu warga Lombok dalam festival Bau Nyale. (Twitter/Kemenparekraf)

Setiap tahun tanggal 20 bulan 10 penanggalan Suku Sasak, warga Lombok berburu cacing warna-warni yang dipercaya sebagai jelmaan Putri Mandalika. Acara ini dikenal dengan Festival Bau Nyale.

Inibaru.id – Di Lombok, ada sebuah festival bernama Bau Nyale. Tahun ini, festival ini diadakan pada 3-4 Maret 2021 di Pantai Seger, KEK Mandalika, Lombok Tengah. Nah, di puncak festival, warga berbondong-bondong menangkap cacing laut warna-warni yang dipercaya adalah perwujudan dari Putri Mandalika.

"Nyale" adalah sebutan bagi cacing warna-warni tersebut. Warga Lombok percaya jika keindahan cacing ini sebagai tanda bahwa hewan tersebut adalah perwujudan Putri Mandalika, anak dari Raja Tonjang Beru dan Dewi Seranting, yang dikenal molek.

Putri Mandalika sangat dihormati rakyatnya. Kemolekan putri juga tersebar hingga ke seluruh Lombok. Bahkan, pangeran dari berbagai kerajaan, mulai Johor, Lipur, Pane, Kuripan, Daha, hingga Beru berniat untuk mempersuntingnya.

Mereka pun bersaing untuk meminangnya. Persaingan tersebut membuat para pangeran saling berseteru, bahkan berpotensi melahirkan peperangan di Lombok kalau sang putri memutuskan untuk menikahi salah satu pangeran saja.

Setelah berpikir panjang, Mandalika pun memutuskan untuk mengundang seluruh pangeran beserta rakyatnya ke pantai di Kuta, Lombok, pada tanggal 20 bulan ke-10 menurut perhitungan Sasak. Mereka semua pun datang pada waktu yang ditentukan, yakni sebelum Subuh.

Di tengah kegusaran, berdiri di tepian tebing karang di bibir pantai, di hadapan semua orang yang berkumpul, dia pun mengatakan niatnya, yakni bersedia menerima seluruh pangeran. Namun, setelahnya Putri Mandalika justru melompat ke laut.

Putri hilang ditelan samudera. Kendati dicari berkali-kali, nggak ada yang menemukannya. Sebagai gantinya, cacing laut berdatangan. Sebelum mangkat, putri memang berjanji akan mengunjungi rakyatnya saban tahun.

Nah, cacing yang disebut nyale ini rupanya benar-benar muncul tiap tahun, tepatnya pada tanggal 20 bulan 10. Warga kemudian memburu cacing warna-warni tersebut karena dianggap bisa memberikan berkah sekaligus menyembuhkan penyakit.

Berkumpul di Pantai Seger

Warga berburu nyale sejak dini hari. (Twitter/nyimastraveler)

Pada perayaan atau festival Nyale Bau, warga umumnya sudah berkumpul di Pantai Seger sejak dini hari. Nggak hanya orang dewasa, kaum lansia, hingga anak-anak pun bersiap dengan alat tangkap dan wadah untuk ikut ambil bagian dalam festival tahunan ini.

Dalam Bahasa Sasak, "bau" berarti menangkap. Sementara, nyale adalah cacing laut yang hidup di lubang atau sela-sela karang di bawah permukaan air. Nah, pada Februari-Maret, cacing-cacing itu umumnya bermunculan.

Tempat penyelenggaraan upacara Bau Nyale dipusatkan di Pantai Seger, Kuta, yang berada di bagian selatan Pulau Lombok. Menjelang subuh, orang-orang umumnya sudah berdatangan. Mereka nggak memedulikan air laut yang dingin dan karang yang tajam.

Dengan penerangan seadanya, mereka kemudian berburu nyale sebanyak-banyaknya. Berburu nyale itu gampang-gampang susah mengingat cacing dengan warna hijau, jingga, atau merah, ini cukup licin dan lincah bergerak di antara karang.

Warga pun mengakalinya dengan memakai semacam kayu yang dibentuk mirip huruf U dengan tambahan jaring. Cacing-cacing itu kemudian diserok dengan jaring ini.

Bau Nyale selesai begitu matahari terbit. Berapa pun hasilnya, mereka akan pulang dengan cacing-cacing yang kemudian dimasak menjadi pepes yang dibungkus daun pisang.

Kamu tertarik berburu nyale juga, Millens? Jangan lupa tahun depan persiapkan waktu dan duit untuk traveling ke Lombok ya! (Kum/IB09/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Di Korea Selatan, Siswa Pelaku Bullying Dipersulit Masuk Universitas

19 Jan 2026

Melegenda di Muntilan, Begini Kelezatan Bubur Mbah Gamping

19 Jan 2026

Terdampak Banjir, Warga Wonorejo Mulai Mengeluh Gatal dan Demam

19 Jan 2026

Antisipasi Doomscrolling, Atur Batas Waktu Youtube Shorts Anak dengan Fitur Ini!

19 Jan 2026

Opsi Layanan Kesehatan 'Jemput Bola' untuk Warga Terdampak Banjir Wonorejo

19 Jan 2026

Bijak Kenalkan Gawai dan Media Sosial pada Anak

19 Jan 2026

Bupati Pati Sudewo Kena OTT KPK! Terkait Kasus Apa?

19 Jan 2026

Jalur Pekalongan-Sragi Tergenang, Sebagian Perjalanan KA Daop 4 Semarang Masih Dibatalkan

19 Jan 2026

Cantiknya Pemandangan Air Terjun Penawangan Srunggo di Bantul

20 Jan 2026

Cara Unik Menikmati Musim Dingin di Korea; Berkemah di Atas Es!

20 Jan 2026

Kunjungan Wisatawan ke Kota Semarang sepanjang 2025 Tunjukkan Tren Positif

20 Jan 2026

Belasan Kasus dalam Dua Tahun, Bagaimana Nasib Bayi yang Ditemukan di Semarang?

20 Jan 2026

Ratusan Perjalanan Batal karena Banjir Pekalongan, Stasiun Tawang Jadi Saksi Kekecewaan

20 Jan 2026

Viral 'Color Walking', Tren Jalan Kaki Receh yang Ampuh Bikin Mental Anti-Tumbang

20 Jan 2026

Nggak Suka Dengerin Musik? Bukan Aneh, Bisa Jadi Kamu Mengalami Hal Ini!

20 Jan 2026

Duh, Kata Menkes, Diperkirakan 28 Juta Warga Indonesia Punya Masalah Kejiwaan!

21 Jan 2026

Jika Perang Dunia III Pecah, Apakah Indonesia Akan Aman?

21 Jan 2026

Ki Sutikno; Dalang yang Tiada Putus Memantik Wayang Klithik Kudus

21 Jan 2026

Statistik Pernikahan Dini di Semarang; Turun, tapi Masih Mengkhawatirkan

21 Jan 2026

Kabar Gembira! Tanah Sitaan Koruptor Bakal Disulap Jadi Perumahan Rakyat

21 Jan 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: