BerandaTradisinesia
Minggu, 11 Okt 2025 13:01

Meriung di Panggung Tanpa Dialog: Malam Puja Doa Kretek

Anggota Teater Djarum sedang dalam acara Puja Doa Kretek (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Bukan sekadar komoditas industri, masyarakat Kudus menganggap 'kretek' sebagai bagian dari produk budaya. Inilah yang ditampilkan dalam aksi teatrikal pada Malam Puja Doa Kretek yang digelar tanpa dialog.

Inibaru.id - Malam itu udara Kudus terasa sakral. Di halaman yang diterangi cahaya obor dan sinar lampu taman, para anggota Teater Djarum berdiri melingkar, mengenakan kain putih dengan selendang kotak hitam-putih di pinggang.

Asap dupa dan nyala api bambu menari pelan di antara tubuh-tubuh yang hening. Suara serangga malam berpadu dengan desir angin yang membawa aroma tembakau dan cengkih, seolah seluruh alam ikut berdoa.

Barisan itu seperti ritual pemanggilan ingatan kolektif alih-alih sekadar pertunjukan. Setiap obor yang diangkat tinggi menyala sebagai simbol pengharapan dan penghormatan pada leluhur kretek; doa untuk para petani, perajin, dan pekerja yang menyalakan bara kehidupan di Kudus sejak berabad silam.

Bahan-bahan dalam kretek yang ada sedang dalam acara Puja Doa Kretek (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Beberapa penampil duduk, seakan menumbuk rempah, menyiapkan dupa, dan mempersembahkan sesaji dari bahan-bahan yang menjadi jiwa kretek: cengkih, tembakau, dan rempah. Gerak mereka perlahan, seperti dalam irama doa.

Di tengah lingkaran, seorang perempuan muda membawa wadah berisi campuran rempah. Kepalanya menunduk, seolah mendengar bisikan dari masa lalu. Sementara, di sekelilingnya tubuh-tubuh berbalut kain putih bergerak serempak, mengangkat obor ke langit malam.

Api berkobar, memantulkan cahaya pada wajah-wajah penuh kesungguhan. Nggak ada kata-kata yang terucap; hanya deru napas, denting bambu yang dipukul perlahan, dan rasa haru yang tak terucap.

Anggota Teater Djarum sedang dalam acara Puja Doa Kretek (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Inilah “Puja Doa Kretek”, aksi teatrikal yang sekaligus ritual persembahan berupa doa untuk tanah, kenangan masa lalu, dan untuk mereka yang hidup dari asap dan bara. Mereka seperti menghidupkan kembali ruh kretek di Kudus yang bukan sebagai industri, tapi bagian dari budaya.

Bagi masyarakat Kudus, pertunjukan ini ibarat ziarah batin, karena bagi mereka kretek memang bukan sekadar produk bernilai jual, tapi manifestasi dari budaya sekaligus bagian dari kehidupan yang menghidupi hari-hari para peramunya, sekaligus simbol dari kebersamaan sosial dan spiritual.

Bertempat di halaman Monumen Kretek Indonesia di Kabupaten Kudus, aksi teatrikal yang merupakan bagian dari Malam Puja Doa Kretek ini memang digelar memunculkan kembali ruh "kretek" yang mungkin banyak dilupakan masyarakat modern saat ini.

Anggota Teater Djarum sedang dalam acara Puja Doa Kretek (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Asa Jatmiko, penggagas acara sekaligus penulis naskah dan penyusun ritual tersebut, mengatakan, aksi yang digelar bertepatan dengan Hari Kretek Nasional ini adalah sebuah ritual budaya dan refleksi spiritual untuk orang-orang yang bersinggungan langsung dengan budaya "kretek" tersebut.

“Saya mengindonesiakan istilah umbul donga menjadi 'Puja Doa'. Jadi, judul besar kegiatan itu adalah 'Puja Doa Kretek',” tuturnya seusai pertunjukan, Jumat (3/10/2025) malam.

Jalannya Pertunjukan

Dalam pertunjukan yang berlangsung menjelang malam tersebut, puluhan peserta mengenakan busana serba putih dengan ikat kotak papan catur di pinggang. Mereka berjalan perlahan mengarak obor, dupa, bunga, dan sembilan elemen bahan utama pembuat kretek.

Nyala api menari di kegelapan, menciptakan suasana magis yang segera mengundang diam dan takzim dari para penonton; yang kemudian berakhir di depan Monumen Kretek, tempat semua peserta membentuk lingkaran besar.

Anggota Teater Djarum sedang dalam acara Puja Doa Kretek (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Asap dupa mengepul, mengisi udara dengan aroma cengkih yang hangat. Di tengah lingkaran, suasana menjadi hening ketika Wijayanto Franciosa dan Tania Kirana mulai membacakan Kronika Kretek, sebuah kisah reflektif tentang perjalanan panjang kretek sebagai warisan budaya dan industri kebanggaan warga Kudus.

Lalu, Rahmat Syaifudin tampil membacakan puisi karya Asa berjudul Pamflet Kretek. Suaranya yang tegas dan penuh perasaan menggema di antara obor dan aroma rempah. Melalui bait-baitnya,dia menuturkan kisah para buruh linting, petani tembakau, hingga perajin cengkih yang menjaga bara kehidupan dari balik kepulan asap.

“Kita bukan cuma ngomong soal industri kretek semata, tapi soal orang-orang yang hidupnya bergantung dengan kretek,” ujar Asa.

Cengkeh dan kayu manis acara Puja Doa Kretek (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Selepas pembacaan puisi, malam semakin syahdu ketika Kiai H Aslim Akmal berbagi kisah tentang filosofi kretek dalam kehidupan masyarakat Kudus. Menirukan pandangan sang kiai, Asa mengatakan bahwa rokok kretek telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bahkan di pesantren.

"Santri menjadikannya teman sejati saat sowan kepada kiai,” tutur Asa, diikuti anggukan kepala Kiai Aslim.

Kiai Aslim juga mengenang masa 1970-an, ketika sebatang kretek sering diletakkan dalam sesajen bersama bunga, bubur, dan uang logam. Bagi masyarakat kala itu, kretek bukan sekadar rokok, tapi juga simbol penghormatan kepada leluhur, syukur kepada bumi, dan sarana menjalin hubungan spiritual dengan yang Ilahi.

“Melestarikan kretek berarti menjaga warisan kebudayaan sekaligus semangat hidup masyarakat Kudus,” kata Kiai Aslim.

Hanya Berlatih Sekali

Anggota Teater Djarum sedang dalam acara Puja Doa Kretek (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Asa mengaku puas dengan aksi teatrikal yang dimainkan Teater Djarum pada mallam itu. Dengan balutan kostum putih seperti ritual adat Bali, gerakan para penampil itu tampak mengalir dengan luwes seolah menari bersama liukan asap dan api yang diterpa angin malam.

Aksi mereka juga nggak terlihat seperti tengah menampilkan sebuah pertunjukan. Menurut Asa, mereka menumbuk rempah, menyalakan dupa, dan membentuk lingkaran doa, yang dari kejauhan lebih tampak sebagai ritual malam atau upacara spiritual.

“Meski hanya sempat berlatih sekali, para seniman mampu menampilkan pertunjukan yang memukau dan sarat makna,” ujar Asa, lalu tersenyum bangga.

Anggota Teater Djarum sedang dalam acara Puja Doa Kretek (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Sebagai penutup, seluruh peserta menjalani prosesi Jalan Sunyi” (tapa bisu); berjalan tanpa alas kaki mengelilingi Monumen Kretek dalam suasana hening, tiada musik maupun tepuk tangan. Yang ada hanya gesekan kaki dengan tanah dan api yang berderak diembus angin malam.

“Jalan Sunyi kami maknai sebagai bentuk refleksi, rasa syukur, dan doa untuk masa depan kretek,” jelas Asa. “Kretek bukan sekadar barang, tapi cerita tentang manusia, tanah, dan waktu.”

Ketika acara berakhir, aroma dupa masih menggantung di udara. Sisa bara obor berkerlap dalam gelap, seperti napas yang enggan padam. Di antara asap yang mengepul itu, tersisa satu keyakinan bahwa kretek adalah identitas yang sudah benar jika terus menyala dan menembus masa. (Imam Khanafi/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Belajar Langsung dari Mbah Atemo, Belasan Anak Muda Lestarikan Mainan Tradisional Berbahan Kertas Bekas

6 Jul 2026

Mengenal Bunga Edelweiss Jawa, Si "Bunga Abadi" yang Justru Terancam Punah

6 Jul 2026

Dikira Bahasa Gaul, "Anjir" Justru Kosakata Lama Nelayan Pantura

7 Jul 2026

Penelitian Terbaru Ungkap Fakta Baru Manusia Hobbit Flores

8 Jul 2026

Muhammadiyah Resmikan KucingMu, Kampanyekan Kepedulian terhadap Hewan

9 Jul 2026

Pemerintah Tetapkan 13 Juli sebagai Hari Kepercayaan, Ini Dasar Pertimbangannya

10 Jul 2026

BRIN Targetkan Luncurkan Satelit NEO-1 pada Januari 2027, Tonggak Kemandirian Teknologi Antariksa Indonesia

13 Jul 2026

Indonesia dan India Berkolaborasi Konservasi Candi Prambanan, Perkuat Pariwisata Budaya Kelas Dunia

14 Jul 2026

Warisan Sejarah Indonesia Kembali, Dua Arca Buddha Kuno Dipulangkan dari AS

14 Jul 2026

4 Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Makanan Berbahan Tepung Tapioka Terbaik 2026 Versi Taste Atlas

15 Jul 2026

Istana Kepresidenan Yogyakarta Kini Bisa Dikunjungi Gratis, Ini Syarat dan Cara Daftarnya

16 Jul 2026

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Ragam Upacara Adat Jawa dari Kehamilan hingga Kematian, Sarat Makna dan Nilai Kehidupan

18 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: