BerandaTradisinesia
Minggu, 23 Agu 2025 09:01

Mengenal Tradisi Ngalungi Sapi, Warisan Budaya Masyarakat Blora

Tradisi Ngalungi Sapi di Blora, Jawa Tengah. (Dok HAKI)

Sebagai wujud rasa syukur atas hasil pertanian dan ternak, warga Sedulur Sikep Blora rutin menggelar tradisi Ngalungi Sapi. Seperti apa sih keseruan dari tradisi yang satu ini?

Inibaru.id - Tradisi Ngalungi Sapi adalah salah satu warisan budaya yang masih hidup di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Berasal dari budaya masyarakat Samin atau Sedulur Sikep, tradisi ini telah dilestarikan turun-temurun oleh warga Blora, sebagai bentuk rasa syukur atas hasil pertanian dan ternak mereka.

Dalam upacara yang digelar setiap bulan Sura atau pada hari-hari tertentu seperti Selasa Kliwon dan Jumat Pahing, sapi-sapi yang dimiliki petani akan diberi kalungan ketupat dan lepet.

Menurut Sugiartono, seorang tokoh masyarakat Sedulur Sikep di Desa Klopoduwur, Banjarejo, Blora, tradisi ini bermula sebagai bentuk penghormatan kepada sapi, yang dianggap sebagai “Raja Kaya”. Artinya sapi bukan hanya sebagai alat untuk membantu petani di ladang, tetapi juga memiliki kedudukan tinggi dalam kehidupan mereka.

“Sapi itu seperti raja, makan tinggal makan, tidak seperti manusia,” jelas Sugiartono sebagaimana dinukil dari Merdeka, Selasa (31/10/2023).

Tradisi Ngalungi Sapi juga menjadi ajang untuk memohon keselamatan dan kesehatan bagi ternak sapi, yang diharapkan bisa terus berkembang biak dan membantu pekerjaan petani. Oleh karena itu, sapi perlu dirawat dan dihormati dengan upacara bancakan atau tasyakuran.

Prosesi tradisi ini cukup unik. Sapi-sapi yang telah dipilih akan digiring keluar dari kandang menuju tanah lapang, tempat upacara digelar. Dalam acara ini, masyarakat akan mempersembahkan ketupat dan lepet, yang kemudian dikalungkan di leher sapi sebagai simbol rasa syukur dan doa agar ternak mereka tetap sehat.

Simbolisme Ketupat dan Lepet

Warga melakukan sejumalh ritual dalam tradisi Ngalungi Sapi'. (Infopublik)

Ketupat yang digunakan dalam tradisi ini melambangkan ketulusan hati, sedangkan lepet yang terbuat dari ketan dan dibungkus daun kelapa, melambangkan kesuburan dan kemakmuran. Pengalungan kedua simbol tersebut pada sapi merupakan doa agar kehidupan masyarakat diberkahi dan hasil bumi melimpah.

Lebih dari itu, upacara ini juga berfungsi sebagai sarana untuk mempererat hubungan sosial antar-petani serta memperkuat nilai-nilai religius, seperti cinta kasih terhadap sesama makhluk ciptaan Tuhan.

Meski zaman semakin berkembang, tradisi ini tetap dilestarikan oleh masyarakat Blora, terutama oleh warga Desa Klopoduwur dan beberapa desa lainnya di Kecamatan Jepon dan Jiken. Makanya, pada 2025, tradisi Ngalungi Sapi resmi tercatat sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dari Kementerian Hukum dan HAM. Penetapan HAKI ini menjadi bukti bahwa tradisi tersebut memiliki nilai yang sangat tinggi, baik dari sisi kebudayaan, sosial, maupun filosofi hidup masyarakat Blora.

Bupati Blora Arief Rohman, juga menegaskan pentingnya pelestarian tradisi ini sebagai kekayaan budaya daerah.

“Dengan adanya HAKI, kami berharap tradisi ini lebih dikenal luas, terjaga, dan menjadi kebanggaan bersama,” ujarnya.

Tradisi Ngalungi Sapi bukan sekadar sebuah ritual, melainkan simbol kehidupan yang mengajarkan tentang rasa syukur, cinta kasih terhadap alam, dan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dengan makhluk ciptaan Tuhan. Sebagai salah satu kekayaan budaya Blora, diharapkan tradisi ini dapat terus bertahan dan menjadi kebanggaan bagi masyarakat serta generasi yang akan datang. Setuju, Gez? (Arie Widodo/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Hanya Eksis di Ramadan, Begini Kelezatan Petis Bumbon Khas Semarang

27 Feb 2026

Cek Jadwal Gerhana Bulan Total di Indonesia pada 3 Maret 2026 Nanti

27 Feb 2026

Apresiasi Pelanggan Setia dengan Mobil dan Skuter via Program BombasTri

27 Feb 2026

Tawur Agung Kesanga Nasional 2026 di Candi Prambanan, Catat Tanggal Mainnya!

27 Feb 2026

Matematika Sulit? Bisa Jadi Karena Otakmu 'Gagal Move On' dari Kesalahan

27 Feb 2026

Korea Selatan Berencana Bebaskan Visa untuk Turis Indonesia!

27 Feb 2026

Menguak Asal Istilah 'Udan Kethek', Fenomena Hujan Turun saat Cuaca Sedang Panas

28 Feb 2026

Benarkah Tidur Setelah Sahur Selalu Bikin Mimpi Buruk?

28 Feb 2026

Jadi Tujuan Utama Mudik 2026, Jateng Siapkan Layanan dan Pengawasan Ketat

28 Feb 2026

Pameran Tatah 2026, Etalase Karya Ukir Jepara di Museum Nasional

28 Feb 2026

Bukan Lemah, Ini Alasan Kenapa Air Matamu Gampang Banget Menetes

28 Feb 2026

Sambut Pemudik, Kemantapan Jalan Nasional di Jateng Tembus 93,47 Persen

28 Feb 2026

Mencicipi Lezatnya Rasa Serabi Ndeso di Grobogan

1 Mar 2026

Sering Ikut Tren Bikin Karikatur dengan AI Memakai Foto Diri, Berbahaya nggak Sih?

1 Mar 2026

Dampak Eskalasi Konflik di Timur Tengah terhadap Perjalanan Umrah Indonesia

1 Mar 2026

Feminization of Poverty dan Kemiskinan yang Berparas Perempuan

1 Mar 2026

Biar Nggak Gagap Bencana, Kemendikdasmen Rilis Panduan Pendidikan Kebencanaan Terbaru!

1 Mar 2026

Nestapa Padang Rumput, Hilang Senyap di Balik Bayang Hutan

1 Mar 2026

Jelang Musim Semi, Cek Jadwal Mekarnya Sakura di Korea Berikut

2 Mar 2026

Cerita Perantau yang Mengaku Nggak Harus Melakukan Mudik Lebaran Tahun Ini

2 Mar 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: