BerandaTradisinesia
Kamis, 19 Sep 2018 17:52

Segenggam Kenangan dalam Selinting Tembakau di Tangan

Setoples tembakau siap linting. (Inibaru.id/Mayang Istnaini)

Tembakau linting mulai diminati millenials. Meski nggak sepraktis rokok kemasan, rokok yang sering disebut tingwe itu menjadi pilihan sebagian anak muda karena murah dan mereka juga bisa memilih "rasa" sendiri, selain tentu saja karena alasan nostalgia atau semacamnya.

Inibaru.id – Aroma tembakau menguar kuat begitu saya memasuki sekretariat Dewan Kesenian Semarang (Dekase) di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) beberapa waktu silam. Hm, harum! Obrolan tentang budaya tengah berlangsung kala itu. Di tengah diskusi yang kian hangat, beberapa orang tampak sedang melinting tembakau, yang sukses membuat saya penasaran.

Yap, saya penasaran dengan salah satu komoditas utama Nusantara sejak zaman penjajahan itu. Widyo Leksono, seniman Semarang yang menjadi salah seorang pelinting tembakau di Dekase itu pun menjadi sasaran rasa penasaran saya. Beruntung, dia bersedia bercerita banyak tentang tembakau linting yang sudah konsisten dihisapnya sejak 2015.

“Saya mulai mengenal tembakau linting sejak kecil. Kakek saya adalah seorang pelinting tembakau juga,” ungkap Babahe, sapaan akrabnya, mengawali cerita.

Berawal dari situ, dia pun memutuskan memilih tembakau linting sebagai rokok pertamanya. Kendati begitu, bukan berarti dia nggak mengonsumsi rokok kemasan yang banyak dijual di toko.

"Ya, tentu, yang paling praktis memang rokok kemasan. Namun begitu, tembakau linting selalu bikin kangen,” terangnya. 

Sekotak tembakau siap linting milik Babahe. (Inibaru.id/Mayang Istnaini)

Menurut Babahe, ada satu kenikmatan merokok yang cuma bisa dia dapatkan dengan menikmati tembakau linting, yakni bisa menentukan sendiri rasa yang diinginkan si penyesap. Biasanya, penikmat tembakau linting memadukan beberapa jenis tembakau lokal atau impor menjadi satu lintingan.

Babahe misalnya, memilih memadukan tiga macam tembakau lokal, yakni tembakau Madura, Mole, dan Srintil. Tembakau Madura bercita rasa kuat, sedangkan tembakau Mole yang berasal dari Garut, lebih lembut. Sementara, tembakau Srintil asal Temanggung, yang dijuluki “tembakau termahal se-Asia”, menjadikan rasa keduannya menyatu.

“Saya menyukai proses menentukan cita rasa tembakau yang saya pengin. Karena itu saya meracik beberapa tembakau menjadi satu racikan yang pas bagi saya,” tuturnya, lalu menyesap tembakau linting yang telah dibuatnya.

Komunitas Tingwe

Berbicara soal tembakau nggak terbatas pada kepuasan sendiri bagi para penikmatnya. Selinting tembakau bisa lebih mengakrabkan antarindividu. Yap, sesama pelinting bisa saling berbagai tembakau sambil bertukar cerita. Melinting pun jadi aktivitas yang seru untuk dilakukan bersama.

Lain halnya dengan rokok kemasan. Kali pertama berbagi mungkin nggak jadi soal. Namun, untuk berbagi kedua atau ketiga kalinya? Tentu akan timbul rasa segan, sebab harganya yang lebih mahal.

Tembakau linting mulai mendapat tempat di kalangan millenials. (Inibaru.id/Mayang Istnaini)

Dari situ, Babahe pun membuat sebuah komunitas tingwe (ngelinting dewe) di Semarang, yang menjadi wadah bagi para pencinta tembakau linting di Semarang.

“Antusiasme millenials di Semarang terhadap tembakau linting semakin bertambah. Ini membuat saya semakin yakin untuk segera membuat komunitas tingwe,” ujar Babahe.

Wah, ternyata bukan cuma saya yang tertarik terhadap kekayaan warisan nenek moyang yang satu itu. Hm, jadi semakin cinta negeri ini dengan seluruh kekayaan budayanya, nih! (Mayang Istnaini/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Kelapa Kopyor Mahal Bukan Tanpa Alasan, Ini Fakta Menariknya

31 Jul 2026

Jemparingan, Seni Panahan Khas Mataram yang Mengajarkan Fokus dan Keteguhan Hati

1 Agu 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: