BerandaTradisinesia
Minggu, 17 Jan 2026 11:01

Lebih dari Merajut Kerukunan, Tradisi Nyadran Perdamaian di Temanggung Digelar Demi Menjaga Alam

Warga Kabupaten Temanggung membawa tenong berisi makanan untuk disajikan di tradisi Nyadran Perdamaian (Ditjen Bimas Buddha Temanggung)

Warga dari berbagai keyakinan seperti Islam, Buddha, dan Kristen bersama-sama meramaikan Nyadran Perdamaian di Kabupaten Temanggung. Seperti apa ya keseruan tradisi ini?

Inibaru.id – Pada Jumat (16/1/2026), warga Dusun Krecek dan Dusun Getuk di Desa Getas, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung menggelar tradisi yang unik namun sarat makna. Nama tradisinya adalah Nyadran Perdamaian yang dilakukan sebagai wujud ikhtiar bersama untuk merawat alam sekaligus merajut kerukunan lintas iman.

Sejak pagi, warga dari berbagai latar belakang keyakinan seperti Islam, Buddha, hingga Kristen berkumpul membawa tenong berisi makanan dari rumah masing-masing. Semua berjalan beriringan menuju area permakaman Dusun Gletuk yang menjadi pusat prosesi. Tak ada jarak antara pejabat dan warga. Bupati Temanggung, Agus Setyawan, bahkan ikut memikul tenong, duduk lesehan, dan menyatu dalam suasana nglemprah khas desa.

Nyadran sendiri merupakan tradisi Jawa yang berakar pada penghormatan kepada leluhur. Biasanya diwujudkan melalui ziarah makam, membersihkan pusara, doa bersama, dan kenduri. Namun di Dusun Krecek dan Gletuk, nyadran berkembang menjadi ruang silaturahmi yang inklusif.

Tema yang diangkat pada gelaran Nyadran Perdamaian tahun ini adalah “Merawat Alam, Menjaga Ibu Bumi” yang terasa relevan dengan situasi hari ini. Maklum, bagi warga setempat, krisis ekologis bukan isu yang jauh, melainkan sesuatu yang menyentuh langsung kehidupan sehari-hari. Hubungan dengan alam dijaga melalui pengelolaan pangan lokal, pelestarian mata air, hingga penghormatan pada ruang-ruang sakral yang dianggap bagian dari spiritualitas hidup.

“Nyadran bukan sekadar ritual tahunan,” kata Nanda Dwinta dari The Asian Muslim Network (AMAN) yang ikut terlibat dalam gelaran tradisi ini sebagaimana dinukil dari KRJogja, Jumat (16/1).

“Ini cara warga merawat hubungan dengan leluhur, sesama manusia, dan alam. Menjaga bumi berarti sekaligus menjaga perdamaian,” lanjutnya.

Nyadran Perdamaian juga digelar untuk mengingatkan warga tentang pentingnya menjaga alam. (Suaramerdeka/Nugroho DS)

Di sisi lain, Bupati Agus Setyawan menilai nyadran sebagai bukti bahwa masyarakat desa mampu menjaga harmoni di tengah perbedaan. “Yang hadir di sini berasal dari berbagai macam keyakinan, semuanya bersatu,” ujarnya.

Yang lebih menarik, nyadran kali ini juga dirangkai dengan penanaman pohon sebagai simbol kepedulian lingkungan. Momen simbolik lainnya terjadi ketika Agus menyerahkan bibit pohon kepada Sukoyo, peraih penghargaan Kalpataru 2024.

Sukoyo menyebut Nyadran Perdamaian lebih dari sekadar scara menjaga warisan leluhur, tetapi juga cara menjaga alam yang harus lestari untuk anak cucu. “Tradisi ini digelar sebagai cara untuk mengingat leluhur yang mewariskan kekayaan alam kepada kami. Kini, gantian kami yang harus menjaganya untuk generasi berikutnya,” ujarnya.

Di Dusun Krecek dan Gletuk, nyadran diwujudkan sebagai tradisi lokal yang nggak terlihat usang. Ini justru menjadi cara luhur untuk menjawab tantangan keberagaman, krisis ekologi, dan ketidakadilan sosial. Lewat doa, makanan, dan kebersamaan, warga Temanggung merawat alam sekaligus meneguhkan perdamaian dengan cara yang sederhana, tapi penuh makna,

Keren banget ya tradisi Nyadran Perdamaian yang masih terjaga di Temanggung, ya, Gez? (Arie Widodo)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Margin Kian Tipis, Banyak Seller Mulai Tinggalkan Marketplace

20 Mei 2026

SMA Negeri 1 Kemalang Resmi Berdiri, Anak Lereng Merapi Tak Perlu Sekolah Jauh Lagi

20 Mei 2026

Jateng Media Summit 2026 Bahas Masa Depan Media Lokal di Era Digital

21 Mei 2026

Di Tengah Gempuran AI dan Buzzer, Media Lokal Diajak Kembali ke Jurnalisme Publik

22 Mei 2026

Jejak Panjang Pecel, Lotek, dan Gado-Gado: Saat Salad Nusantara Punya Cerita Peradaban

22 Mei 2026

BI Jateng Ingatkan Bahaya Penipuan Digital di Tengah Tren Transaksi QRIS

23 Mei 2026

Belajar dari Estonia, China, dan Singapura dalam Membangun Infrastruktur Digital

23 Mei 2026

Walkot Semarang Resmi Luncurkan LOFF 2026, Perkuat Ekosistem Perfilman Kreatif

24 Mei 2026

Peluang “Godzilla El Nino” 2026 di Indonesia Relatif Kecil, Ini Kata BRIN

25 Mei 2026

Jadi Wisudawan Terbaik UNRIYO, Pemuda Asal Semarang Ini Ingin Ciptakan Banyak Peluang Kerja

25 Mei 2026

Sebelum Nasi Mendominasi, Leluhur Kita Sudah Diversifikasi Pangan Sejak Dulu

26 Mei 2026

5 Tradisi Iduladha di Indonesia yang Unik, Sarat Makna, dan Jadi Daya Tarik Wisata Budaya

28 Mei 2026

Congklak, Permainan Tradisional Tertua yang Kini Mulai Dilupakan

29 Mei 2026

Mengenal Thudong, Perjalanan Spiritual Para Biksu yang Selalu Mencuri Perhatian Saat Waisak

2 Jun 2026

Mengulik Filosofis Naga Jawa dalam Kosmologi Masyarakat Jawa Kuno

2 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: