BerandaTradisinesia
Jumat, 11 Jan 2024 09:07

Kisah Franz Wilhelm Junghuhn yang Mencintai Alam Indonesia hingga Akhir Hayat

Franz Wilhelm Junghuhn. (Verlag Martinus Nijhoff, 'S-Gravenhage - Gedenkboek Franz Junghuhn)

Selama 13 tahun, Junghuhn menghabiskan waktunya di Nusantara. Dia jatuh cinta dengan bentang alam Indonesia hingga akhirnya memutuskan tinggal di sini sampai akhir hayat.

Inibaru.id – Nama Franz Wilhelm Junghuhn pasti nggak asing buat orang Indonesia. Maklum, di buku-buku pelajaran pada masa sekolah, khususnya pelajaran Geografi, namanya pasti ada. Sebab, hasil penelitiannya selama mengelilingi Nusantara banyak dikutip dalam buku-buku tersebut.

Selama 54 tahun usianya, 13 tahun di antaranya dia habiskan di Nusantara. Junghuhn bahkan menutup usianya pada 24 April 1864 di sebuah desa yang ada di Lembang, Jawa Barat. Sejumlah pihak yang selalu bersamanya hingga akhir hayat mengungkap betapa cintanya Junghuhn kepada alam Nusantara.

Laki-laki berkewarganegaraan Belanda kelahiran 26 Oktober 1809 di Mansfeld, Jerman ini mengalami masa muda yang sangat buruk. Selain depresi dan sempat mencoba bunuh diri, dia sempat berkelahi dengan orang sampai tanpa sengaja membuatnya meninggal. Saat akan dipenjara 10 tahun akibat tindakannya ini, dia berpura-pura gila dan akhirnya dibebaskan pada 1933.

Kehidupannya berubah saat bertemu botanis Christiaan Hendrik Persoon. Berkat rekomendasinya, dia dikirim ke Hindia Belanda sebagai seorang dokter dan tiba di Batavia pada 1835.

Bukan di kota besar dia kemudian menemukan jalan hidupnya, melainkan di Bumi Priangan. Pada 1844, tatkala melakukan perjalanan dari Bogor menuju Cianjur, Junghuhn langsung terkesima dengan alam Nusantara yang masih asri. Sejak saat itu, dia memutuskan untuk menulis secara rinci sekaligus menggambar bentang alam yang dia lihat selama melakukan perjalanan di Jawa dan Sumatra.

Pada buku berjudul Java, Zijne Gedaante, Zijn Plantentooi en Inwendige Bouw, Vol.1 yang diterbitkan pada 1853, diketahui bahwa Junghuhn sudah menjelajahi seantero Jawa. Dia mendata 559 kabupaten serta tanah partikelir di Pulau Jawa. Dia juga membagi Jawa menjadi tiga bagian yaitu timur, tengah, dan barat. Detail informasi yang dia kumpulkan sangatlah luar biasa.

Gambaran Junghuhn atas Gunung Sumbing di Jawa Tengah. (Geoethno-Arnoldische Buchhandlung - Java-Album)

Dia melakukan perjalanan itu dengan kereta kuda dan kereta api. Junghuhn juga mendaki sejumlah gunung seperti Galunggung dan Wayang. Nggak hanya topografi alam yang dia tulis atau gambarkan dalam catatan perjalanannya, budaya dan tradisi setempat juga dia tulis sehingga membuat catatannya seperti sebuah ensiklopedia lengkap yang sangat berharga.

Ketika matahari terbit di timur, membuat puncak gunung yang megah disinari cahaya emas dan keunguan. Itu adalah pemandangan yang saya kagumi. Semangat saya langsung bergelora untuk menyambut hari itu,” tulisnya di salah satu bukunya.

Sempat pulang ke Belanda karena masalah kesehatan, kekagumannya akan alam Nusantara membuatnya memilih untuk kembali dan tinggal di desa yang masih terpencil, tepatnya di Jayagiri, Lembang, sejak 15 Juli 1857. Di desa dengan ketingguan 1.300 meter di atas permukaan laut itu, dia menemukan ketenangan hidup hingga tutup usia setelah berjuang melawan kanker hati.

Menurut rekannya sesama botanis Rob Nieuwenhuys dan Fritz Jacquet, sebelum meninggal, Junghuhn meminta dokter membuka lebar-lebar jendela agar dia bisa melihat gunung-gunung dan bentang alam Indonesia yang sangat dia cintai sebelum menutup mata.

Dia ingin melihat pemandangan rimba yang dia cintai. Dia ingin menghirup udara gunung yang murni. Lalu kemudian gerimis turun, Junghuhn menutup matanya dengan tenteram.

Menarik banget ya kisah kehidupan Junghuhn. Banyak pelajaran hidupnya yang menginspirasi kita sebagai anak muda Indonesia. (Arie Widodo/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

BRIN Targetkan Luncurkan Satelit NEO-1 pada Januari 2027, Tonggak Kemandirian Teknologi Antariksa Indonesia

13 Jul 2026

Indonesia dan India Berkolaborasi Konservasi Candi Prambanan, Perkuat Pariwisata Budaya Kelas Dunia

14 Jul 2026

Warisan Sejarah Indonesia Kembali, Dua Arca Buddha Kuno Dipulangkan dari AS

14 Jul 2026

4 Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Makanan Berbahan Tepung Tapioka Terbaik 2026 Versi Taste Atlas

15 Jul 2026

Istana Kepresidenan Yogyakarta Kini Bisa Dikunjungi Gratis, Ini Syarat dan Cara Daftarnya

16 Jul 2026

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Ragam Upacara Adat Jawa dari Kehamilan hingga Kematian, Sarat Makna dan Nilai Kehidupan

18 Jul 2026

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: