BerandaTradisinesia
Minggu, 8 Agu 2020 11:00

Kerbau-Kerbau Sigar Bencah, Angonan Turun-temurun yang Jadi Investasi Jangka Panjang

Seorang penggembala menggiring kerbaunya. (Inibaru.id/ Audrian F)

Melintas di sekitar Sigar Bencah, kamu mungkin bakal menjumpai banyak kerbau yang digembalakan. Ada alasan yang menurut saya cukup menarik, meski kalau dipikir, ya, itu jadi alasan yang sangat umum. Ha-ha.<br>

Inibaru.id - Kalau biasa melewati sekitar Sigar Bencah Semarang, yang katanya angker itu, kamu mungkin pernah menjumpai kawanan kerbau yang diumbar di ladang rumput nan luas. Jumlahnya banyak. Para penggembala menyertai mereka, mungkin sambil bersenandung atau berseruling. Ha-ha.

Sering melintas dan ketemu kerbau-kerbau serta para pengangonnya di daerah yang rupanya masuk Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, itu, bikin saya penasaran. Siapa peternaknya dan kenapa sebanyak itu? Apakah ada semacam tradisi beternak kerbau?

Bak berada di Pulau Sumbawa, sepanjang padang para kerbau itu, sebagai pengganti Kuda Sumba, "bertebaran", menikmati makan siang di ladang rumput. Bahkan, kawanan kerbau juga masuk ke hutan-hutan dan lapangan latihan tentara.

Waktunya masuk kandang. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>

Untuk menjawab rasa penasaran, saya iseng bertanya kepada salah seorang penggembala. Dialah Sunyoto, yang saat saya temui tengah mengumpulkan tanaman jagung nggak terpakai. Jagung itu, kata dia, untuk burung peliharaannya, sedangkan daun-daunnya untuk makan kerbau.

Sunyoto adalah pedagang. Atau, kalau di kalangan pedagang ternak disebut dengn blantik. Sembari mengurus kerbau-kerbaunya, dia juga menjual sapi dan kambing. Memang, kala itu saya menemuinya menjelang Iduladha.

“Kerbau saya sudah laku beberapa. Satunya sekitar Rp 17,5 juta,” ujarnya pada Minggu (26/7/2020).

Sudah Berjalan Turun-temurun

Sunyoto sedang beres-beres di kandang kerbaunya. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>

Kata Sunyoto, kebiasaan memelihara kerbau ini sudah berjalan turun-temurun. Dulu, Mangunharjo dikenal punya banyak sawah, lahan produktif yang selalu identik dengan kerbau. Namun, kini sawah-sawah sudah lenyap, berganti menjadi perumahan.

Ketika lahan beralih fungsi, para penggembala nggak bisa berbuat banyak. Tanah untuk mereka bertani dan mendirikan kandang-kandang kerbau itu bukan milik mereka. Sebagian besar memang tanah milik TNI.

Sepelemparan batu dari kediaman Sunyoto, ada Karminah yang juga merupakan penggembala kerbau. Kalau menurut Karminah, kerbau-kerbau ini bukan sekadar peliharaan, tapi juga investasi. Biasanya para penggembala membeli kerbau saat kecil, lalu dibesarkan. Ada yang dikembangbiakkan juga.

“Simpanan orang desa ya begini,” ujarnya pendek, seraya memandangi kerbau-kerbaunya. Saat itu hampir petang, Karminah tengah bersiap menggiring kerbaunya untuk masuk kandang.

Mengawasi kerbau yang sedang minum. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>

Karminah berujar, rata-rata para penggembala punya 7 sampai 10 kerbau. Menurutnya, meski diangon di satu lokasi dan jumlahnya cukup banyak, kemungkinan kerbau-kerbau tertukar sangat kecil. Hm, agaknya ini cukup menjawab pertanyaan yang sebetulnya pengin banget saya tanyakan sejak melihat kerbau-kerbau tersebut.

Bahkan, cerita rebutan atau saling klaim kepemilikan kerbau, aku Karminah, juga nggak pernah terjadi. Dia berkisah, ada satu kerbaunya yang masuk ke kandang penggembala lain. Ini nggak lantas membuat pemilik kandang mengaku kerbau itu miliknya, malah mengabari Karminah, ada kerbaunya yang nyasar.

“Nggak, semua sudah merasa punya sendiri-sendiri,” kata Karminah.

Ada Sumber Air dan Banyak Makanan 

Sebelum dikandang, mandi dulu. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>

Sebuah tempat umumnya menjadi lokasi penggembalaan kerbau karena berada nggak jauh dari sumber air seperti empang atau sungai kecil karena kerbau suka berkubang untuk mendinginkan tubuh mereka. Sementara, sejauh pandangan mata, saya nggak melihat ada kubangan di sekitar tempat tersebut.

Namun, rupanya saya keliru. Mengikuti Parmini menggiring kerbau-kerbaunya masuk hutan, lalu menuruni jalan setapak, membuat saya menemukan sumber air di sana. Ah, sebuah sungai!

Parmini kemudian memandikan kerbau-kerbau mereka. Penggembala yang cukup bersahaja itu lalu bercerita kenapa di lokasi tersebut banyak kerbau digembalakan.

“Kerbau mudah dipelihara. Makannya nggak sulit. Kalau sapi, kan, (rumputnya) harus dipotong-potong dulu. Rumput liar begini mana mau!” jelasnya sembari menunjuk tanaman liar yang biasa jadi santapan para kerbau Mangunharjo.

Kisah para penggembala di dekat Sigar Bencah ini cukup menarik, sih. Mungkin, suatu hari nanti bakal ada kisah fiksi yang mengupas cerita atau bikin film di lokasi pengangonan kerbau ini. Ha-ha. (Audrian F/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

HP Gratis dengan Rekening Digital Diusulkan untuk Penyaluran Bansos

15 Okt 2026

Dari Jepara ke Sarajevo, Merawat Ukiran dan Diplomasi yang Tak Selesai di Meja Pertemuan

16 Okt 2026

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Mengapa Salatiga Disebut Salah Satu Kota Tertua di Indonesia? Ini Sejarahnya

28 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

8 Tokoh Penting Kongres Pemuda II yang Lahirkan Sumpah Pemuda

28 Okt 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: