BerandaTradisinesia
Minggu, 27 Des 2025 15:46

Festival Permainan Tradisional Jepara, Awali Libur Sekolah Tanpa Gawai

Keseruan lomba bakiak di Alun-alun Jepara 1. (Inibaru.id/ Alfia Ainun Nikmah)

Memasuki hari pertama libur sekolah, Pemkab Jepara menggelar Festival Permainan Tradisional, agenda tahunan yang telah berlangsung sejak 2021 dengan kampanye utama 'sehari tanpa gawai'.

Inibaru.id - Selain kampanye untuk melibatkan ayah dalam pengasuhan melalui Gerakan Ayah Mengambil Rapor (Gemar), gerakan lain yang kini didengungkan di pelbagai wilayah di Indonesia adalah kampanye "bermain tanpa gawai".

Gerakan ini muncul bertepatan dengan libur panjang Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang telah dimulai sejak pekan lalu. Di Kabupaten Jepara, kampanye bermain tanpa gawai salah satunya digelar di Alun-Alun Kartini Jepara 1 dan Museum Kartini yang telah berlangsung pada Minggu (21/12/2025).

Ratusan siswa setingkat SD tampak telah memadati kedua tempat tersebut untuk mengikuti aktivitas tahunan yang dikenal sebagai Festival Permainan Tradisional Jepara. Sejak pagi, mereka telah berkumpul dan tampak serius mendengarkan instruksi dari arahan panitia.

Hampir keseluruhan lomba ini bersifat kelompok, yang terdiri atas tiga jenis lomba, yakni Ketapel, Bakiak, dan Dakon. Untuk yang belum tahu, ketiganya merupakan permainan tradisional yang pada masanya sangatlah populer di kalangan anak-anak.

Kampanye Lepas Gawai

Puluhan siswa mengantre undian di panggil bersama guru dan orang tua. (Inibaru.id/Alfia Ainun Nikmah)

Nggak hanya lomba, rangkaian festival yang dipadati masyarakat Jepada dan sekitarnya itu juga dimeriahkan oleh tari-tarian dan hiburan lainnya. Tampil sebagai pembuka adalah sendratari Cublak-Cublak Suweng dari Sanggar Tari Desa Gelang, Kecamatan Keling.

Acara yang diinisiasi oleh Disparbud Jepara yang berkolaborasi dengan Disdikpora, Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KΡΟΤΙ), Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (KORMI) ini mengusung tema "Isi Liburan dengan Dolanan, Ayo Dolanan Ojo HP-nan".

Dibuka oleh Ketua Komisi C DPRD Jepara Nur Hidayat yang hadir mewakili Bupati Jepara Witiarso Utomo, festival tahunan yang telah berlangsung sejak 2021 benar-benar disambut meriah, meskipun permainan yang diusung tampak sederhana dan acap dianggap nggak lagi relevan di era sekarang.

Kepala Bidang Disparbud Jepara Ajib Ghufron mengatakan, tujuan utama dari kegiatan ini memanglah demikian. Mereka pengin menunjukkan bahwa tanpa gawai dan dengan permainan sederhana pun sebetulnya anak-anak bisa tetap bersuka cita dan aktif bergerak.

“Kami tidak ingin siswa terjebak pada permainan gadget yang menyebabkan siswa lebih individualis,” tuturnya di tengah kegiatan.

Keriuhan yang Sama

Suasana permainan dakon di Museum RA Kartini (Inibaru.id/ Alfia Ainun Nikmah)

Ketapel, bakiak, dan dakon bukanlah permainan yang populer di masa kini. Namun, Ajib menuturkan, anak-anak ternyata tetap menikmati permainan tersebut. Hal ini, dia melanjutkan, mengingatkannya pada masa kecil. Itu pulalah yang agaknya dirasakan para orang tua yang menyaksikan buah hatinya bermain.

"Riuhnya sama (masa dulu maupun sekarang). Kalau dulu kan kita (para orang tua) biasa memainkan saat masih kecil. Meski mungkin sebagian besar dari mereka (anak-anak) belum tahu dan tidak paham cara memainkannya, (setelah diperkenalkan) ternyata bisa enjoy juga," terangnya.

Sejak kali pertama diinisiasi Pemkab pada 2021, festival permainan tradisional ini memang selalu disambut antusias oleh anak-anak. Hal tersebut, menurut Ajib, karena peran para guru dan orang tua yang aktif mendorong dan mendukung anak-anak untuk mengenal permainan tradisional.

“Kami berharap para orang tua dan guru terus mendorong anak-anak untuk mengenal dolanan tradisional, bahkan kalau bisa membiasakan bermain dakon di rumah agar tidak terus-menerus main HP,” katanya.

Melatih Konsentrasi dan Kerja Sama

Peserta ketapel sedang fokus membidik target. (Inibaru.id/ Alfia Ainun Nikmah)

Festival permainan tradisional kali ini, Ajib mengatakan, tampak lebih ramai karena bertepatan dengan libur sekolah dan Nataru yang cukup panjang. Untuk tahun ini, festival tersebut juga digelar sebagai bagian dari rangkaian agenda besar Jepara, yakni Semarak Museum RA Kartini Jepara (Semuria) 2026.

Dia berharap, seiring dengan antusiasme ratusan siswa yang hadir, misi yang diusung juga berhasil tersampaikan. Ajib menegaskan bahwa permainan tradisional yang diangkat dalam festival ini mengandung pesan yang sangat bagus, yakni tentang konsentrasi dan kerja sama.

Ketiga permainan yang diusung, dia mengungkapkan, sangat melatih konsentrasi dan kerja sama, terutama permainan bakiak. Untuk yang belum tahu, bakiak adalah permainan tradisional permainan berupa sepasang terompah (sandal) panjang berbahan kayu dengan 3-6 selop.

"Di permainan ini, tiga orang memakai sepasang bakiak, lalu berlomba dengan kelompok lain menuju garis finish. Ini bukan cuma tentang kecepatan, tapi kekompakan dan konsentrasi penuh," jelas Alif, salah seorang peserta.

Dukungan Penuh Orang Tua

Suasana sengit permainan bakiak di Alun-alun Jepara (Inibaru.Id/Alfia Ainun Nikmah)

Agar bisa melaju kencang tanpa terjatuh, Alif mengatakan, komunikasi dengan anggota kelompok lain harus baik. Sebagian besar permainan dalam festival ini memang membutuhkan kerja sama tim. Menurutnya, hal ini sangatlah menyenangkan.

"Apalagi kami disaksikan langsung oleh orang tua yang terus-menerus bersorak sebagai bentuk dukungan," jelasnya.

Selama permainan berlangsung, para orang tua memang tampak memberikan dukungan penuh. Abdullah, orang tua dari salah satu peserta yang berasal dari SDN 1 Bandengan, mengatakan, dia sengaja datang untuk menonton buah hatinya bertanding lantaran melihat kegiatan tersebut sangatlah baik untuk anak.

"Ini kegiatan yang menarik karena bisa menjadi wadah untuk bermain dan berolahraga. Jadi, saya sangat mendukung. Bagus untuk meningkatkan imun,” terangnya. "Selain itu, anak saya juga belajar tentang kejujuran, aturan, sportivitas, kerja sama, motorik dan problem solving."

Wah, kegiatan yang menarik ya, Gez? Semoga festival semacam ini juga ditiru kota-kota lain, deh! (Alfia Ainun Nikmah/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Desa Giyombong Pernah Jadi Ibu Kota Jawa Tengah pada 1948, Ini Kisahnya

10 Agu 2026

Tari Lengger Banyumas: Warisan Budaya Penuh Makna yang Tetap Menari Melintasi Zaman

11 Agu 2026

AI Factory Terbesar di Asia Tenggara Bakal Dibangun di Indonesia, Kapasitas Capai 1 GW

12 Agu 2026

Pelajar SD-SMP di Yogyakarta Bakal Wajib Berbahasa Jawa Krama Inggil Sehari dalam Sepekan

13 Agu 2026

Temuan Situs Bongal Geser Linimasa Masuknya Islam ke Nusantara hingga Tujuh Abad

14 Agu 2026

HUT ke-81 RI, KAI Beri Diskon Tiket 17 Persen

14 Agu 2026

Pertalite Bakal Dibatasi untuk Desil 9-10, Siapa Saja yang Masuk Kelompok Ini?

15 Agu 2026

Rerie Dorong Situs Patiayam Terus Dijaga sebagai Warisan Peradaban

16 Agu 2026

Unik! Upacara HUT RI di Gang Presiden Puntan Diramaikan Kostum Daur Ulang Sampah

17 Agu 2026

Motor Bensin Bisa Ditukar Motor Listrik, Pemerintah Siapkan Skema Baru

18 Agu 2026

Bukan Rekaman Asli 17 Agustus 1945, Ini Sejarah Suara Proklamasi Bung Karno

19 Agu 2026

Negara Pertama yang Mengakui Indonesia Merdeka

20 Agu 2026

Sinewara, Bioskop BUMN Besutan PFN Siap Meluncur 2027

21 Agu 2026

Garuda Indonesia Uji Internet Cepat di Udara, Video Call dari Ketinggian 30 Ribu Kaki

22 Agu 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: